
📲 “Ada apa?! Kenapa kau berteriak?!” Liza.
📲 “Aku juga sekolah disana,” Kissky.
📲 “Akhh!!! Senangnya! Ku pikir kita akan terpisah, karena kemarin kau bilang akan lanjut ke Paris! Hiks...” Liza.
📲 “Enggak jadi, hehehe...” Kissky.
📲 “Kok bisa? Kenapa?” Liza.
📲 “Ehm, karena aku ingin sekolah disini, hehehe...” Kissky.
📲 “Katakan pada ku, kau tinggal dimana sebenarnya? Kau baik-baik sajakan dengan orang tua mu?” Liza.
📲 “Iya, semua aman, karena jarak dari rumah ke sekolah jauh, makanya aku tinggal dengan keluarga, dan aku belum bisa membawa mu kemari, rasanya kurang sopan, mengingat aku yang menumpang disini,” Kissky.
📲 “Oh iya, kau benar juga, tapi... kau ambil jurusan apa?” Liza.
📲 “Seni,” Kissky.
📲 “Kok bisa sama sih? Astaga... aku terharu banget!!” Liza.
📲 “Kau lupa ya, kita pernah berjanji ambil jurusan yang sama kalau kita lanjut sekolah SMK?” Kissky.
📲 “Kau benar juga, ya sudah kalau begitu, sampai ketemu lusa di sekolah!” Liza.
📲 “Oke bos ku!” Kissky.
Setelah sambungan telepon terputus, Kissky merasa lega, sebab ia memperoleh hal yang membuat ia bahagia.
Akhirnya, ada hal baik juga yang menghampiri ku, aku senang, bisa bertemu dengannya kembali, batin Kissky.
Ia yang tak bisa bergaul dengan orang lain karena terauma masa kecilnya, menyulitkan dirinya untuk mencari teman baru, bahkan Kissky memilih menyendiri, dari pada harus mengajak orang lain berbicara terlebih dahulu.
Ia yang belum mengenal sekolah yang akan menjadi tempatnya menimbah ilmu pun, mencari tahu lewat aplikasi mbah google.
Setelah melakukan pencarian, ia mendapatkan informasi yang ia butuhkan.
“Coba kita lihat, berapa menit dari sini kesana.” Kissky anak milenial mengecek, melalui GPS.
“Wah! dekat banget, naik mobil atau motor hanya butuh waktu 7 menit.” ia yang pencinta sepeda pun memprediksi waktu yang ia butuhkan untuk sampai ke sekolah.
“Paling hanya 15 menit, masuk kan 07.30, berangkat pagi saja biar enggak terlambat.” ia jadi bersemangat, karena hobinya akan tersalurkan setiap harinya.
“Tidur ah! Besok aku akan lari pagi kesana! Tes drive dulu!” ia pun memutuskan untuk tidur karena lelah.
__ADS_1
Keesokan harinya, Kissky bangun di pagi yang masih berselimutkan embun. Ia yang telah rapi dengan setelan baju olah raga warna abu-abunya turun ke lantai satu.
“Mama sudah bangun enggak ya?” Kissky pun mencari ibu mertuanya untuk meminta izin keluar pagi itu.
Ia segera menuju dapur, dan dugaannya benar, sang ibu mertua berada disana. Pinkan saat itu sedang sibuk mencicipi cita rasa masakan Art nya.
“Garamnya sudah pas Win.” ucapnya pada Winda, sang Art yang bertanggung jawab di dapur.
“Baik nyah, kalau sayurnya bagaimana nyah?” tanya Winda.
“Sudah oke.” sahut Pinkan.
Setelah mertuanya senggang, Kissky mulai mendekat.
“Ma...”
“Eh, kau sudah bangun nak?” ucap Pinkan dengan tutur suara lembut.
“Iya ma, aku harus bantu apa ma?” tanya Kissky berbasa-basi.
“Semua sudah selesai, kau mau olah raga ya?” Pinkan melihat penampilan menantu ya mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Iya ma.” Kissky tersenyum malu.
“Jangan jauh-jauh, masih terlalu pagi, lebih baik kau pergi dengan Zanjiil.” Pinkan yang khawatir terjadi sesuatu pada menantunya pun menyarankan Zanjiil untuk ikut.
“Kalau begitu, kau perginya naik sepeda saja, jadi kalau ada orang jahat, kau bisa menyelamatkan diri,” ucap Pinkan.
“Memang ada sepeda ma?” tanya Kissky dengan antusias.
“Ada, lihat saja ke gudang, oh ya Win, antar Kissky ke sana, gulainya aku saja ya lihat, lagi pula sudah mau matang,” titah Pinkan.
“Baik nyah.”
“Ayo, ikut Winda Ky.” ujar Pinkan seraya mengambil sepotong daging dari kuali untuk ia makan.
“Baik ma, terimakasih banyak.” Kissky pun mengikuti Winda, yang terlebih dahulu berjalan di hadapannya.
Sesampainya mereka, Winda membuka pintu gudang yang berada di bekang rumah.
Krieet...
Di sudut ruangan berjejer rapi 10 sepeda dengan jenis berbeda-beda.
“Banyak banget! Keren, ada BMX, Hybrid, Folding Bike, Fixie, sepeda touring, listrik, MTB gunung, Road bike! Gila, ternyata mereka pecinta sepeda juga!” Kissky melapalkan satu persatu nama sepeda yang ada di gudang mertuanya.
__ADS_1
“Nyonya benar, keluarga Rabbani memang suka mengoleksi sepeda dan juga mobil ” terang Winda yang telah lama bekerja di keluarga itu.
“Oh ya kak?”
”Betul nyah,” ucap Winda.
“Panggil aku Kissky.” ia pun mengulurkan tangannya pada Winda, yang di terima langsung oleh sang Art.
“Tapi nyah, sangat enggak sopan kalau saya memanggil nama nyonya.” Winda yang sadar akan posisinya, menolak untuk memanggil Kissky tanpa sebutan nyonya.
“Engga apa-apa, lagi pula kakak lebih tua dari ku,” ujar Kissky.
“Jangan nyah, biarkan saya memanggil dengan yang seharusnya.” Winda tetap menolak, karena ia tahu, nyonya besar akan murka, jika ia atau yang lainnya, tak mengikuti peraturan dalam rumah itu.
“Baiklah kak Winda, kalau begitu aku ambil yang road bike.” ucap Kissky dengan senyum sumringah.
“Silahkan nyah.” setelah menentukan pilihannya, Kissky langsung menaikinya, tak lupa ia menyalakan GPS menuju SMKS Tunas Bangsa.
“Berangkat!” Kissky dengan penuh semangat mengayun pedal sepedanya, keluar dari gerbang rumah, membelah jalan raya yang masih berembun.
Kissky begitu menikmati perjalanannya yang tenang, tanpa ada gangguan.
“Benar kata mama dan papa, aku hanya cukup jadi menantu yang baik, buktinya aku di perbolehkan keluar rumah dengan bebas!” setelah 15 menit dalam perjalanan, akhirnya Kissky sampai di SMKS Tunas Bangsa.
“Maya Allah.” Kissky begitu takjub, sekolah yang akan menjadi kunjungannya tiap hari adalah gedung berlantai 10.
Karena gerbang sekolah tersebut terbuka, dan ada penjaganya, Kissky meminta izin untuk masuk.
“Pak, apa saya boleh bersepeda ke dalam?” Tanya Kissky pada sang satpam paruh baya.
“Silahkan nak, tapi harus sopan ya,” jawab sang satpam.
“Terimakasih banyak pak.” setelah mendapat izin, Kissky kembali mengayun pedal sepedanya.
Ketika ia baru di halaman utama, ia di buat kagum, karena ada air mancur raksasa di tengah lapangan yang lebarnya mencapai 10 hektar.
Sekolah elit tersebut juga memiliki ruang praktek yang lengkap di setiap jurusannya, dan yang tak kalah menarik, di depan ruang kelas yang berada di lantai bawah, masing-masing memiliki taman, yang di tumbuhi dengan berbagai jenis bunga.
Sedangkan di lantai 2 dan seterusnya hanya di buat bunga gantung di setiap teras kelas. Puas melihat area gedung, Kissky pun beranjak menuju taman sekolah yang tak kalah menariknya, sebab di tengah-tengah lapangan taman tersebut terdapat labirin yang bertuliskan nama sekolah SMKS TUNAS BANGSA yang terbuat dari bunga pagar.
Karena sekolah tersebut dekat dengan pantai, maka di taman itu banyak tumbuh dengan rapi dan terawat pohon cemara laut, yang begitu hijau dan subur.
Di taman itu juga terdapat berbagai jenis bunga, yang membuat siapa saja akan betah berada disana dalam waktu yang lama.
Aku benar-benar suka dengan sekolah ini! batin Kissky.
__ADS_1
...Bersambung......