Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 134 (Kencan)


__ADS_3

“Luar biasa, kau cukup kreatif juga dalam menyusun rencana.” ucap Kissky.


”Iya dong, ayo cepat, panggil suami mu,” ujar Liza.


“Oke.” Kemudian Kissky mendatangi bangku Zanjiil. “Ayo sayang.” Kissky menggenggam tangan Zanjiil.


“Iya, sabar dulu dong.” kemudian Zanjiil, Kissky dan Lula keluar kelas.


Gibran yang semakin hari di abaikan oleh Kissky merasa sedih.


“Pesan ku tak di balas, panggilan ku tak di angkat, hanya karena orang yang baru kau kenal, kau malah menjauhi ku.” Gibran semakin patah hati karena Kissky.


Sesampainya di parkiran, 2 pasangan muda itu memutuskan untuk menaiki mobil Zanjiil menuju bioskop.


Dimas yang melihat Joe dan Zanjiil jalan bersamaan tersentak.


Ada angin apa ini? batin Dimas.


“Pak Dimas, pulang saja duluan ke rumah, aku dan mereka mau pergi nonton,” ucap Zanjiil.


“Baik tuan.” atas perintah sang majikan, Dimas pulang terlebih dahulu ke rumah.


Setelah itu mereka berempat pun masuk ke dalam mobil. Yang mana Zanjiil dan Kissky di depan. Sedang Joe dan Liza di belakang.


Bremm...


Zanjiil melajukan mobilnya menuju bioskop yang berada di pusat kota. Setelah beberapa saat dalam perjalanan akhirnya mereka sampai di tujuan.


Setelah itu mereka turun dari mobil menuju bioskop yang terdapat dalam mall.


“Jadi kita nonton apa sekarang?” tanya Kissky.


“Psikopat saja!” Joe kembali memberi tahu usulnya.


“Baiklah kalau begitu.” ucap Liza.


Pada akhirnya mereka memilih untuk menonton film sadis keluaran terbaru bulan itu.


Selama menonton Kissky dan Liza tak hentinya berteriak karena merasa ketakutan.


“Jangan pegang-pegang!” Zanjiil melarang istrinya untuk menyembunyikan mata di bahunya.


“Ih! Kau sadis banget sih, enggak ada bedanya sama pembunuhnya!” ujar Kissky dengan perasaan kesal.


Kissky begitu cemburu pada Liza yang saling berpelukan dengan Joe.


Joe yang selalu berkata jujur pun menerangkan pada kekasihnya tentang apa-apa yang harus di lakukan bila dekat dengan seorang psikopat gila.

__ADS_1


Setelah selesai menyaksikan layar lebar yang membuat perut Liza dan Kissky mual, mereka pun memutuskan untuk langsung pulang.


Acara makan-makan yang telah di rencanakan gagal total karena Kissky dan Liza tak selera memasukkan apapun ke dalam perut mereka lagi.


“Kami naik taksi saja, tak usah kalian antar.” Liza takut jika kedua sahabatnya tahu kalau Joe menginap di kosannya.


“Tidak apa-apa, kan hanya kau saja, lagi pula kitakan satu arah.” Kissky tak merasa keberatan bila harus mengantar sahabatnya.


“Enggak apa-apa sayang, lagi pula lebih cepat sampai lebih baik, nanti kita bisa langsung tidur.” hal yang ingin di sembunyikan Liza malah di katakan dengan gamblang oleh Joe.


“Sayang.. ” Liza memelototi kekasihnya.


“Jadi kalian tinggal bersama?” Kissky menunjuk Liza dan Joe.


“Kenapa kalian enggak nikah sirih saja sih?! Beginikan bisa buat dosa.” Zanjiil yang sendirinya pendosa malah mengajari orang lain untuk tak berbuat dosa.


“Iya, tunggu mama pulang,” ujar Joe.


Seketika Zanjiil merasa iba, karena ia sangat yakin kalau Esra sudah tiada.


Setelah itu mereka berempat memutuskan untuk pulang.


Sesampainya di rumah, Zanjiil kepikiran untuk memeriksa langsung ke basement.


“Kau ke atas saja duluan, aku mau makan dulu.” ucap Zanjiil sebagai alasan.


Kemudian Zanjiil perlahan menuju basement, ia yang bebas keluar masuk dalam ruang bedah mengerikan tersebut dengan mudah membuka pintu.


Ceklek!


Beruntungnya saat ia masuk, tak ada seorang pun disana.


“Huff...” Zanjiil menghela nafas panjang, sebab dugaannya benar, ada patung wanita yang terlihat baru selesai di kerjakan.


Zanjiil pun mendekat, “Ck, malang sekali nasib mu, harusnya kau tak cari masalah dalam keluarga ini.” Zanjiil yang sudah lama tak masuk ruangan itu melihat perubahan yang sangat pesat.


Matanya yang melihat kesana kemari, tanpa sengaja menangkap satu patung wanita lainnya.


“Ada lagi?” Zanjiil mengernyitkan dahinya, pasalnya ia tak tahu siapa gerangan yang ada di balik balutan semen tersebut.


Zanjiil pun mendekat, dan berdiri tepat di hadapan patung wanita itu.


“Siapa yang mengerjakan patung ini?” Zanjiil menjadi penasaran.


Kemudian ia beralih langkah menuju tong sampah pembuangan barang bukti.


“Bersih... apa patung ini sudah lama di buat? Bisa jadi, karena aku sudah 3 bulan tak kesini.” Zanjiil yang ingin pergi tiba-tiba teringat akan barang yang ia simpan di dalam lemari yang ada di ruangan itu.

__ADS_1


Ceklek!


Ia pun membuka lemari yang ada di dekat meja kerja keluarganya.


“Hah? Bukankah ini.... jepit rambut Luna?” tanpa sengaja ia menemukan barang berharga milik kekasihnya yang telah lama hilang dan tak ada kabar sampai sekarang.


Deg!


“Apa... mama yang membunuhnya?” Zanjiil langsung bisa menebak siapa otak di balik pembunuhan Luna.


“Akh! Sial!” Zanjiil sungguh tak terima kekasihnya di masukkan dalam daftar korban keluarganya.


Ia yang marah segera naik ke lantai 1, mencari sang ibu.


Tok tok tok! Zanjiil mengetuk pintu kamar ibunya.


Ceklek! Pinkan yang akan tidur membuka pintu. “Ada apa Jiil? Mama mau tidur nih.” ucap Pinkan yang menguap karena mengantuk.


“Mamakan... yang telah membunuh Luna?” mata Zanjiil memerah saat menatap ibunya.


“Iya.” saat Pinkan akan menutup pintu Zanjiil menahannya.


“Mama, kenapa harus melakukan itu padanya?”


“Bukannya kau juga tahu, kenapa mama bertindak begitu? Dia telah berani berbuat onar di rumah kita, menghabisi nyawanya adalah harga yang setimpal.” Pinkan merasa nyawa Luna tak berharga sama sekali.


”Keterlaluan!” Zanjiil sungguh muak dengan keluarganya yang menganggap nyawa itu tak ada harganya.


“Pada akhirnya dia juga akan bernasib sama dengan Esra kalau dia berani bersama mu lebih lama. Hei Zanjiil, jangan contoh ayah mu, nanti kau yang akan rugi.” setelah menasehati putranya Pinkan menutup pintu kamarnya.


Zanjiil yang tak bisa menuntut keadilan pada ibunya memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


“Maafkan aku Luna.” ia merasa sangat bersalah pada Luna dan juga keluarga dari kekasihnya.


Andai waktu bisa di putar, aku pasti tak mencintai mu, batin Zanjiil.


Ia yang takut jika Kissky akan bernasib sama, memutuskan untuk membawa istrinya keluar dari rumah orang tuanya.


“Siapapun tak ada yang dapat di percaya di rumah ini, andai usaha papanya Kissky bangkrut, sudah pasti, papa takkan pikir dua kali untuk menghabisi nyawa Kissky dan juga papa Ahmad. Bagaimana tidak, mama July kan sudah pulang ke negaranya.” Zanjiil sungguh tak ingin jika istrinya jadi korban selanjutnya.


Malam itu, Zanjiil dan Basuki merasa di lema, ayah dan anak itu perlahan ingin melarikan diri dari lingkungan yang membesarkan mereka.


🏵️


“Kelihatannya Zanjiil akan memberontak suatu saat, memang tak cocok jadi calon pemimpin, beda dengan Lula. Ehm... aku jadi semakin yakin, kalau anak gadis ku yang akan jadi pewaris utama.” Pinkan yang sudah memiliki gambaran kini lebih mengutamakan Lula dalam segala bidang.


“Akan ku kembangkan ke mampuannya.” Pinkan berniat mengawasi langsung perkembangan putrinya, ia juga mencegah Zanjiil mencuci otak penerus keluarga Rabbani.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2