
Kissky dan Zanjiil pun menuju kamar untuk menyusun pakaian mereka.
Setibanya di kamar, Zanjiil langsung memeluk Kissky dan mengangkat tubuh istrinya ke ranjang.
“Akh! Zanjiil! Nakal banget sih!” ucap Kissky seraya tertawa.
Namun Zanjiil malah mengecup kening Kissky berulang kali.
“Cantik ku! Sayang ku!” Zanjiil menggigit pipi istrinya yang terasa manis.
“Gila benar kau! Hari ini tumben banget romantis,” ujar Kissky.
“Untuk istri, apa salahnya, hehehe... dan mulai nanti malam kita akan tidur bersama.” Zanjiil memeluk istrinya.
“Senangnya.” Kissky yang sudah terbiasa akan kemesraan mereka, tak malu lagi untuk mengakui isi hatinya.
🏵️
2 hari kemudian, Joe yang belum bisa menghubungi nomor ibunya mulai khawatir.
“Mama kemana ya?” ia yang penasaranpun mendial nomor Basuki.
Halo pa, mama lagi sama papa enggak? 📲 Joe.
Basuki seketika bingung harus menjawab apa.
Tidak, tapi kemarin mama mu bilang mau liburan ke Swiss, anehnya sampai sekarang mama mu belum menghubungi papa sama sekali. 📲 Basuki.
Aneh juga ya pa, tak biasanya mama begini. 📲 Joe.
Ya, kau benar Joe, kalau begitu, papa tutup dulu, nanti kalau mama mu mengabari papa akan telepon kau. 📲 Basuki.
Oke terimakasih banyak pa. 📲 Joe.
Joe yang percaya penuh pada Basuki tak curiga sama sekali dengan ayah sambungnya tersebut.
Hingga 1 bulan berlalu, sang ibu tetap senyap tanpa kabar, Joe yang tak tenang pergi ke kamar ibunya yang tak di kunci.
“Baru kali ini aku masuk ke kamar mama.” ia tak pernah sekali pun melihat bentuk kamar ibunya.
Namun saat ia masuk, Joe mengernyitkan dahinya, pasalnya ranjang sang ibu berantakan, tidak rapi sama sekali.
“Apa mama biasanya seperti ini?” Joe jadi meragu, pasalnya sang ibu adalah seorang istri rumah tangga yang bersih dan higenis .
Ia yang curiga pun mencoba mengecek kamar Esra yang sebulan lebih tak di tempati.
Joe yang sayang pada ibunya, melipat selimut sang ibu yang jatuh ke lantai. Hingga ia tak sengaja melihat jarum suntik jatuh dari gulungan selimut yang sedang ia pegang.
Dengan hati-hati Joe mengambil suntik tersebut, kemudian ia mencium bau dari sisa cairan yang ada dalam suntik.
Deg!
__ADS_1
Ia yang familiar akan obat itu seketika gemetaran.
“Apa... mana mungkin papa yang melakukannya?” Joe seketika menjadi pusing, hatinya sungguh hancur, saat tahu ibunya telah tiada.
“Dimana mayat mama?!” Joe yang tak terima ibunya menjadi korban dari profesi yang ia kerjakan selama ini, berniat balas dendam, ia yang tak memikirkan resiko yang akan ia hadapi langsung mendial Basuki kembali.
Halo, papa dimana sekarang? 📲 Joe.
Di rumah. 📲 Basuki.
Baiklah. 📲 Joe.
Joe yang ingin menuntut balas atas kematian ibunya pergi menuju kediaman Rabbani yang di jaga ketat oleh banyak pembunuh berantai berseragam satpam.
Setelah beberapa saat menempuh perjalanan ia pun sampai ke tujuan.
Brak!
Dengan kasar ia membuka pintu mobilnya, lalu masuk ke rumah Basuki yang pintunya terbuka lebar.
“Kau sudah datang?” ucap Basuki yang duduk di atas sofa untuk menyambut ke datangan anak sambungnya.
Bruk!
Joe yang masih berdiri melempar bukti kekejian Basuki pada ibunya.
“Kenapa kau melakukannya, bukankah kau sudah ku anggap sebagai ayah kandung ku sendiri? Kata mu kau sangat menyayangi mama ku, tapi kenapa? Kau malah tega menghabisi nyawanya? Pada hal dia telah mengabdi pada mu untuk seumur hidupnya!” Joe yang tak tahan akan penderitaannya menodongkan senjata apinya tepat ke wajah Basuki.
“Dimana mama ku?! Kau kubur dimana dia?!!!” Joe berteriak di kediaman Rabbani.
Tuk!
“Apa yang kau lakukan?” Lula yang sigap menodongkan senjata tepat ke kepala bagian belakang milik Joe. “Jangan membuat huru hara disini, apa kau tak sadar tempat mu Joe?”
Ngukngak!
Lula mengokang senjata kesayangannya. “Jangan macam-macam disini atau dimana pun, harusnya kau sadar, dan berterimakasih telah di pelihara dengan baik oleh papa ku.” ucap Lula dengan lugas.
“Apa kau betulan merasa anak kandung papa ku? Hei, Basuki Rabbani bukan papa mu, tapi tuan mu, harusnya kau malu memanggilnya ayah selama ini!” Hinaan yang Lula katakan membuat emosi Joe makin meradang.
“Turunkan senjata mu Lula!” pekik Basuki.
“Tidak papa, sudah terlalu lama benalu ini di biarkan hidup, kalau di biarkan, maka akan jadi ancaman, jangan sampai karenanya juga keluarga kita makin hancur.” Lula yang muak tak mau mengikuti perintah ayahnya.
“Lula! Jangan membangkang, dengarkan apa kata papa!” Basuki yang sayang pada Joe tak ingin anak sambungnya itu terluka.
“Papa!” saat Lula lengah, Joe membungkuk lalu dengan cepat memutar tubuhnya mengarah perut Lula.
Buk!
Joe berhasil memukul ulu hati Lula dengan kencang, hingga Lula memuntahkan darah.
__ADS_1
“Akh! Sialan kau!” pekik Lula dengan menahan sakit di dadanya.
“Joe! Hentikan!” Basuki berdiri dari duduknya.
Namun Joe yang tak bisa memaafkan keluarga itu berniat melepas pelatuknya.
Duar!
Duar!
Duar!
“Lula! Apa yang kau lakukan?!” Basuki berlari ke arah Joe yang berhasil di lumpuhkan oleh Lula.
Lula membidik tangan Joe yang memegang senjata dan juga kedua kaki Joe tak luput dari sasaran empuk peluru Lula.
Suara tembakan itu membuat seluruh orang yang ada di rumah itu berlarian menuju sumber suara yang ada di ruang tamu.
Lula pun berdiri dari lantai lalu mendekat ke arah sang ayah yang memangku kepala Joe.
Tuk!
Kaki gadis belia itu menendang senjata Joe hingga bergeser jauh.
“Apa kau gila Lula! Kenapa kau jadi anak yang pembangkang?!” pekik Basuki.
“Papa yang gila, kenapa sangat sayang pada anak yang bukan darah daging papa?” wajah Lula yang datar tanpa ekspresi membuat Basuki prustasi.
Ia yang mengajarkan kekerasan seketika melihat hasil didikannya selama ini.
“Segera angkat Joe ke apotik!” Basuki yang di selimuti rasa bersalah serta berhutang janji pada Esra tak mau jika Joe berakhir seperti istri yang telah ia bunuh.
Saat para ajudan ingin menandu Joe yang meringis kesakitan, Lula mengarahkan senjatanya kembali pada para ajudan yang akan membantu Joe.
“Mau ku buat hilang tangan kalian berdua?” Biarkan dia mati karena kehabisan darah!” tak ada yang tahu bagaimana cara kerja Lula selama ini dalam menghabisi korbannya, termasuk Basuki.
Ia hanya melihat anaknya yang bersikap biasa saat ia ajari membunuh, pertumbuhan Lula yang di luar pekiraan Basuki membuat ia takut, jika anaknya haus darah setiap saat.
“Lula! Hentikan!” Basuki yang tak ingin bersikap lembut lagi berdiri dari duduknya.
“Papa pun akan ku bunuh, jika berani menghalangi jalan ku! Papa sendiri yang bilang, jika pengkhianat harus di tumpas sampai ke akar-akarnya, siapapun itu. Dan jika ada orang yang berani mengusik keluarga Rabbani, bunuh! Bukankah itu moto keluarga kita papa?!”
Putrinya yang masih menginjak usia 12 tahun membuat seorang Basuki merinding.
Bayi mungil yang dulunya lucu menggemaskan kini menjadi setan merah tak punya belas kasih.
“Papa telah membuat keluarga kita hancur, jadi pilih saja, membiarkan dia mati sendiri, atau papa ikut mati dengannya!”
Duar!
Jantung Basuki seakan meledak, mendengar penuturan putrinya.
__ADS_1
...Bersambung......