
“Apanya yang tidak mungkin? Aku kerja, orang tua ku juga kaya, harta keluarga ku dimana-mana, sudah jelas aku mampu membuat mu bahagia.” Zanjiil membanggakan dirinya dan juga keluarganya.
“Iya deh, dan aku beruntung mendapatkan orang baik seperti mu.” Kissky menampilkan senyum lebarnya pada Zanjiil.
Seketika lelaki tampan itu terdiam, sebab Kissky salah mengira, jika ia datang dari keluarga baik-baik.
“Zanjiil, terimakasih, sudah menjadi yang terkahir untuk ku.” Kissky sangat bersyukur Zanjiil ada di sisinya saat ia sedang bersedih.
“Iya, aku juga berterimakasih pada mu.” kemudian Zanjiil yang lapar menakan Hash browns buatan istrinya.
“Sialan!” umpat Zanjiil sebab Hash browns yang baru saja ia kunyah terasa sangat pedas.
“Kau buat cabai kesini ya?” tanya Zanjiil.
“Bukan, tapi aku taruh merica yang banyak, habis kau menyuruh ku diet, pada hal makanan yang kau rekomendasikan sendiri mengandungnya lemak!” ternyata Kissky balas dendam pada suaminya.
“Jadi kau balas dendam?” Selera makan Zanjiil langsung buyar karena ulah istrinya.
“Itu kau yang bilang, yang jelas aku memasaknya penuh cinta untuk mu, jadi kalau kau berani buang, itu sungguh terlalu!” ucap Kissky seraya menahan tawa.
“Tapi enggak begini juga Huwl!” Zanjiil menjauhkan makanan favoritnya dari hadapannya.
“Dasar, manusia macam apa yang suka buang-buang makanan?” Kissky memarahi suaminya.
Zanjiil yang tak enak pun, akhirnya memakan kembali Hash browns buatan istrinya.
“Kalau aku koma karena ini, ku tuntut kau untuk di sisi ku selamanya!”
“Iya-iya.” sahut Kissky.
______________________________________
Lula yang sedang berada di kelasnya bermain handphone di kursinya karena merasa bosan, sebab seluruh pelajaran yang di terangkan gurunya sudah ada dalam otaknya.
Lula yang duduk di dekat jendela, menoleh ke arah luar.
Dan ia tanpa sengaja melihat sang guru menyebalkan telah masuk sekolah.
“Pintar sekali dia pura-pura berduka, sendirinya minta kakeknya di bunuh.” Lula geleng-geleng kepala, karena ia meras Faiq begitu munafik.
Tet... tet... tet.. jam pelajaran pertama selesai, sang guru yang mengajar pun keluar dari ruangan mereka.
Lula yang ingin ke kantin bangkit dari duduknya.
Namun seketika ia mengurungkan niatnya, sebab Faiq telah masuk ke dalam kelas.
__ADS_1
“Selamat pagi anak-anak, apa kabar hari ini?” sapa Faiq pada siswa dan siswinya.
“Baik pak!!" jawab serempak anggot kelas.
Selanjutnya Faiq mengabsen para siswanya. Lula yang ada di bangkunya terus melirik wajah gurunya.
Lula yang baru pertama kali kenal dengan keluarga korbannya, seketika merasa tertarik untuk mengetahui latar belakang Faiq.
Karena ingin mendekati Faiq, Lula pun menjadi anak baik, dengan mengikuti pelajaran gurunya pagi itu. Setelah jam pelajaran Faiq selesai, Faiq memanggil Lula.
“Lula, tolong bantu bapak membawa tugas kalian ke kantor guru.” permintaan Faiq yang begitu tiba-tiba membuat Lula curiga.
Tapi sedikit pun, ia tak takut pada gurunya tersebut.
“Saya enggak bisa pak, karena perut saya lapar, mau langsung ke kantin .” Lula menolak untuk membantu gurunya.
“Baiklah.” karena Lula tak bersedia, Faiq pun meminta tolong pada siswa lainnya.
Perasaan ku tak enak, ku rasa dia curiga pada ku, batin Lula.
Lula yang takut jika dirinya sedang di intai, bertindak cepat, ia pun menyanggul kuat rambutnya agar tak ada yang rontok, selanjutnya ia membersihkan kursi dan mejanya dengan tisu basah untuk menghilangkan jejak sidik jarinya.
“Rajin banget La, kalau mau bersih-bersih itu pagi, atau waktu pulang sekolah.” ucap salah seorang temannya.
“Belum.” sahut sebagian teman sekelasnya.
“Baiklah, aku akan mengajari kalian.” Lula pun menyuruh dua orang temannya untuk menarik bangku ke mejanya.
Setelah itu, Lula mengajari mereka cara mengerjakan soal tanpa menyentuh meja.
Pada saat pulang sekolah, Faiq masuk ke kelas Lula, ia yang telah lama menyukai Lula tahu betul akan bentuk tubuh siswinya. Terlebih tahi lalat kecil yang ada di kelopak mata Lula, menguatkan hati Faiq, bahwa yang membunuh kakeknya adalah Lula.
Ia pun semakin yakin, sebab di tempat kejadian perkara, in mendapatkan sehelai rambut Lula yang tak sengaja terjatuh ke bajunya.
Karena sekolah telah sepi, Faiq lebih santai melakukan penyelidikannya. Ia pun mengeluarkan bedak tabur bayi yang ia bawa dari kantor guru.
Kemudian Faiq menaburkan bedak tersebut ke meja persegi empat Lula milik Lula.
Setelah itu, Faiq mengambil lakban trasparan dari tasnya. Selanjutnya Faiq memperhitungkan dimana kira-kira Lula paling sering meletakkan tangannya.
Faiq pun menempel lakban ke tempat yang ia tentukan.
Kemudian guru muda itu menekan-nekan lakbannya dengan kuat, agar sidik jari yang ia angkat dapat menempel, di rasa sudah cukup. Faiq menarik dengan hati-hati lakbannya, setelah itu Faiq meletakkan di atas kertas hitam berwarna kontras.
Akhirnya, Faiq mendapatkan apa yang ia butuhkan untuk membuktikan, jika Lula adalah pembunuh kakeknya. sebelum Faiq pergi, ia membersihkan meja Lula sampai seperti semula.
__ADS_1
Saat Faiq akan beranjak, tiba-tiba ia teringat akan loker Lula.
Ia pun menyempatkan untuk mengambil sidik jari Lula dari tersebut. Dan sayangnya, Lula tak kepikiran sampai kesana.
_________________________________________
Joe yang baru pulang sekolah melihat ibunya yang sedang membaca koran di ruang tamu.
Joe yang beberapa hari tak bertemu sang ibu menjadi sangat rindu.
“Mama sudah pulang?” sapa Joe.
Saat Esra mendongak, Joe tersentak, sebab hidung ibunya berubah menjadi semakin mancung.
“Mama operasi plastik?” tanya Joe.
“Iya, dan mama terpaksa, karena wanita itu melukai wajah dan hidung mama dengan pisau.” terang Esra.
“Tante Pinkan?”
“Tepat sekali, si perempuan tak laku itu membuntuti mama dan papa sampai ke London.” Esra menceritakan kronologi yang
terjadi.
“Beraninya dia!” Joe memukul meja yang ada di hadapannya.
“Untuk itu, mama ingin dia merasakan kesedihan yang sama dengan mama.”
“Apa maksud mama?” tanya Joe penasaran.
“Bunuh Lula untuk mama nak, dan itu juga bisa untuk mempermudah kau menjadi penerus papa mu.” Esra yang tamak ingin anaknya menguasai harta suaminya. Meski ia sendiri sadar, bahwa putranya bukan anak kandung dari Basuki.
“Tapi ma, kalau papa tahu, dia pasti akan membunuh ku juga.” Joe ragu untuk melakukan perintah ibunya.
“Mama percaya, kau pasti bisa mengatur segalanya, mama mohon nak, hati mama sungguh sakit lahir batin karenanya.” Esra terus meminta agar anaknya mau memenuhi keinginannya.
“Ma, melakukan itu sama dengan bunuh diri, mama pasti lebih tahu hal ini di bandingkan aku.” Joe masih menolak permintaan ibunya.
“Nak, apa kau tak sayang ibu? Di dunia ini hanya kau dan papa mu yang mama miliki, dan yang akan melindungi mama, jadi... tolong, bunuh Lula, soal papa mu, biar mama yang urus.” Esra terus memaksa anaknya untuk membalaskan dendamnya.
Dan Esra takkan bisa tidur nyenyak, sebelumnya menadat apa yang ia inginkan.
“Baiklah, kalau mama maunya begitu.” Joe pun memikirkan rencana kematian apa yang bagus untuk Lula.
...Bersambung......
__ADS_1