
Pengakuan dari Eric membuat Fi bungkam, ia tak menyangka Eric akan meninggalkan apa yang suaminya miliki hanya karena dirinya.
“Apa karena aku?” tanya Fi dengan perasaan bersalah. Meski pun keluarga Eric adalah mafia kelas kakap, tapi yang namanya seorang anak tak boleh memutus ikatan pada orang tuanya. Karena itu namanya durhaka.
“Enggak tuh!” jawaban menyebalkan Eric membuat Arsy jengkel.
“Oh!” Arsy memutar mata malas.
“Itu murni dari hatiku, karena aku sadar, apa yang keluarga ku lakukan bukan hal yang benar, bahkan sampai sekarang aku tak bisa memaafkan dosa yang selama ini ku lakukan, banyak kelaurga yang menangis karena bisnis yang kami lakukan, aku takut Sy, kalau tiba-tiba aku mati, Tuhan akan menyiksa habis-habisan ku dalam kubur.”
Penuturan Eric membuat Arsy tertawa. “Xixixi... ku pikir kau tak takut mati.”
“Tentu saja takut, kau pikir aku apa? Aku tak ada kekuatan untuk melawan kuasa Ilahi, makanya, selagi ada kesempatan, aku bertaubat.” Eric begitu bangga dengan perubahannya.
“Baguslah, aku senang, dan aku juga tak menyangka kalau kau bisa keluar dari lembah hitam itu.” berkat alasan mengharukan dari Eric, Arsy lupa kalau dirinya sedang mersjuk pada suaminya.
“Arsy, mau ya, jadi asisten ku di toko,” pinta Eric.
“Memang kau mau gaji aku berapa? Sampai-sampai berani mengajak aku kerja dengan mu.” Arsy menatap sinis suaminya.
“Makan 3 kali sehari cukupkan? Memangnya apa lagi yang kau butuhkan selain makan?” Eric kembali mempermainkan istrinya.
“Enak saja kau, aku butuh bedak, beli emas, baju dan lain-lain!” Arsy menuturkan apa saja yang ia butuhkan.
“Alah! Kau mau pakai bedak atau tidak tetap sama, jelek. Pakai baju bagus juga, wajah mu tetap biasa saja, apa lagi perhiasan, tak ada wibawanya sama sekali.” Eric memancing emosi istrinya.
Pok!
Arsy memukul kepala suaminya dengan handphonenya, karena bagaimana pun, tak ada wanita yang terima jika dirinya di cap jelek, meski pun itu benar.
“Arsy! Tangan mu benar-benar kurang ajar ya!” Eric memelototi istrinya.
“Jangan main-main kau ya! Enak banget kau bilang aku jelek, kau sendiri memangnya tampan? Itu!” Arsy menunjuk ke arah sudut mata Eric.
“Ada empat garis kerutan, sementara aku mana ada, lihat baik-baik!” Arsy menunjuk ke semua bagian wajahnya.
“Kalau aku wajar goblok! Tiap harikan memikirkan mu, mencari mu, mengkhawatirkan mu, aku takut kau tak makan, jadi gelandangan atau di pakai orang sebelum aku! Ck!”
Arsy yang akan terharu jadi gagal total. Sebab Eric selalu bisa menyelipkan kata-kata kasar di barisan kalimat yang Eric katakan.
“Eric!”
“Aku tak seperti kau, kabur tak jelas, sudah begitu mau nikah dengan laki-laki yang wajahnya jauh di atas rata-rata! Harusnya kalau kau mau cari pria pengganti ku! Itu harus 10 kali lipat di atas ku! Baik wajah, harta dan juga keuangannya!” Eric marah-marah pada istrinya.
“Kenapa kau jadi emosi? Kan pada akhirnya aku kembali pada mu?!”
__ADS_1
“Kenapa? Masih nanya lagi! Aku tak bisa, kalau kau hidup susah Arsy Kissky Huwl! Akh! Siapalah nama mu! Tolol banget jadi perempuan, enggak ada peka-pekanya!” Eric emosi karena membayangkan istrinya bersama Devan.
“Ih! Enggak jelas banget sih kau!” Arsy menaikkan bibir atasnya.
“Sudah berapa kali kau di cium olehnya?” Eric yang cemburu malah mengungkit masa lalu istrinya.
“Enggak bisa di hitunglah!” Arsy mengaku dengan jujur.
“Ya Tuhan, nanti sampai di rumah, kau harus mandi pakai Rinso!” Eric ingin membersihkan istrinya dari segala sentuhan Devan.
“Enak saja kau, kau makin lama, makin eror ya, dan sepertinya kau butuh psikiater, untuk mencek, ada berapa karakter di dirimu!”
“Sialan!” Pekik Eric.
Saat Eric masih akan marah, Arsy menghentikannya.
“Hei, cukup! Ngomong-ngomong rumah mu dimana sih?! Perasaan kita sudah jalan jauh, tapi belum sampai-sampai juga.” Arsy mengganti topik karena bosan di ceramah oleh suaminya.
“Eh, kau benar juga!”
Citt!!! Eric melakukan rem mendadak.
“Ada apa?! Jangan kebiasaan rem mendadak deh pak tua!” Arsy kesal dengan sikap Eric.
”Ah, masa?” Arsy pun melihat ke arah belakang. “Yang mana gang rumah mu?” tanya Arsy.
“Ada, 4 kilo ke belakang.” ucap Eric dengan menahan tawa.
“Astaga Ric, kau sih! Makanya kurangi bawel mu!” karena terlalu seru bertengkar, ia tak sadar jika mereka berdua telah lewat jauh.
“Namanya juga enggak bertemu 10 tahun, wajarlah bawel ku tak putus-putus, hitung-hitung mengkadha apa yang ingin ku katakan selama ini pada mu!” terang Eric.
“Iya deh! Kau memang selalu yang paling benar.” Arsy memilih mengalah. Setelah itu, Eric melakukan putar balik.
🏵️
Pinkan yang telah menjada selama 5 tahun di kunjungi oleh Lula ke rumahnya.
“Mama!” Lula memeluk sang ibu dengan erat.
“Ada apa kau ketawa-ketawa?” tanya Pinkan.
“Ma, aku punya kabar bagus buat mama,” ucap Lula.
“Jangan katakan apapun kalau itu bukan soal Zanjiil.” Pinkan memutar mata malas.
__ADS_1
“Nah! Tepat! Aku menemukannya ma, dia mengganti namanya menjadi Eric. Saat ku temui, dia sombong banget.” Lula menceritakan pertemuannya dengan sang abang, Lula juga mengatakan alamat terbaru abangnya.
“Mama akan kesana, mama rindu abang mu,” ucap Pinkan.
“Jangan ma, karena abang pasti menolak mama.” Lula melarang ibunya sebelum sakit hati duluan.
“Mama enggak perduli, lagian ini salah mu dan papa mu! Kenapa juga kalian mau membunuh Kissky, harusnya kalau mau bunuh Ahmad, jangan di hadapannya dong, kalian enggak kira-kira memang ya! Kau dan ayah mu sama saja!” Pinkan kesal dengan kesalahan anak dan mantan suaminya di masa lampau.
“Namanya juga masa lalu ma.” kemudian Lula yang lelah duduk di atas sofa.
“Ini!” Lula meletakkan daging panggang di atas meja.
“Apa itu?!” tanya Pinkan.
“Daging pak bupati!” jawab Lula.
“Lula, mama lagi diet, sebaiknya kau bawa pulang!” Pinkan tak selera makan karena terus memikirkan putranya.
“Ma, coba dulu.” namun Lula terus memaksa.
“Lula, sebenarnya mama sudah berhenti memakan daging manusia sejak 2 bulan yang lalu.” Pinkan berkata jujur pada putrinya.
“Ya sudah, terserah mama.” kemudian Lula menyantap daging yang ia bawa.
🏵️
Arsy yang telah berada di rumah Eric, melihat dengan seksama setiap sudut rumah itu, sebab rumah Eric begitu sederhana.
Punya 3 kamar, 4 kamar mandi, dapur model bar, dan ruang tamu berukuran 3x6.
“Wah! Rumah mu bagus.” Arsy memuji rumah suaminya yang simpel.
“Iya, aku sengaja buat kecil, karena hanya tinggal sendiri,” terang Eric.
“Segini saja sudah cukup sih,” ujar Arsy.
“Aku lapar, kau bisa masak kan?” ucap Eric, karena ia sangat ingin mencicipi masakan istrinya.
“Bisa dong!” kemudian Arsy melihat bahan-bahan di kulkas, dan ia pun menemukan hanya ada telur.
“Akan ku buat telur dadar spesial!” Arsy begitu bangga mengatakannya.
“Astaga... ternyata kau belum bisa masak juga ya! Duduk saja kau! Biar aku yang masak!” Eric yang lama menyendiri ternyata belajar kursus masak, ia melakukan apa yang belum sempat istrinya lalukan di masa lalu.
...Bersambung......
__ADS_1