Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 103 (Nasehat Zanjiil)


__ADS_3

Kissky yang merasa lapar memutuskan untuk keluar kamar.


“Ky, Zanjiil ada di ruang tamu nak.” July memberitahu jika menantunya datang.


“Dia sudah lama datang atau gimana ma?” Kissky tak menyangka, jika suaminya akan datang malam itu.


“Baru, ayo temui dia, mama mau ke kamar dulu, soalnya mama ngantuk, papa bilang dia akan pulang pagi.”


Kissky begitu iba pada sang ibu yang percaya begitu saja pada ayahnya.


“Oh iya ma, tidur yang nyenyak ya ma.” Kissky mencium kening ibunya.


Setelah itu, ia menuju ruang tamu menemui suaminya.


Sesampainya Kissky di ruang tamu, ia pun melihat Zanjiil duduk seraya bermain handphone.


“Kenapa kau kesini?” tanya Kissky seraya duduk di atas sofa.


“Harusnya aku yang tanya, kenapa kau pulang secara tiba-tiba?”


“Aku rindu mama.” jawab Kissky dengan santai.


“Benarkah? Atau kau marah pada ku, karena aku tak mengizinkannya mu ke mall?” Zanjiil sangat yakin, itulah alasan kepulangan istrinya.


“Iya, aku memang marah, tapi aku pulang bukan karena merajuk pada mu.” Kissky menyembunyikan alasan sebenarnya ia pulang.


“Kalau begitu, ayo kita pulang ke rumah?” Zanjiil yang anti tidur di rumah orang lain mengajak istrinya untuk kembali.


“Kau saja, besok aku menyusul.” Kissky yang masih punya urusan dengan sang ayah menolak ajakan suaminya.


“Kaukan sudah bertemu mama, harusnya rasa rindu mu sudah hilang, ayo! Aku lelah, nanti tidur ku kurang lagi karena mu!” Zanjiil terus mendesak agar mereka segera pulang.


“Aku enggak mau, aku masih rindu!” Kissky tetap menolak, meski suaminya memaksa.


“Baiklah, kalau begitu, aku juga menginap, tunjukkan, kamar mu sebelah mana.”


“Ta-tapi, katanya kau mau pulang?!” Kissky mendadak grogi, jika harus tidur bersama Zanjiil.


Belum lagi jika ayah dan ibunya tahu, ia tak dapat menahan malunya.


“Kita pulang sama-sama saja, lagi pula mama dan papakan enggak di rumah, jadi tak masalah, kalau kita sesekali menginap di luar,” terang Zanjiil.

__ADS_1


“Oh, gitu ya.” Kissky yang banyak pikiran tak fokus pada suaminya.


“Jangan diam saja Huwl, ayo ke kamar, aku benar-benar lelah!” Zanjiil kesal pada Kissky yang sangat lambat.


“Baiklah, tapi jangan macam-macam ya, karena aku enggak mau kau berbuat aneh!” Kissky yang takut khilaf bersama sang suami pun memperingati terlebih dahulu.


“Iya, kalau aku ingat!” Zanjiil tak mau berjanji, karena ia takut tak bisa menepatinya.


“Awas saja kalau kau macam-macam, akan ku lempar kau dari ranjang!” setelah memberi ancaman, Kissky pun menuntun Zanjiil ke kamarnya, yang Berjarak 5 kamar dari jejeran kamar orang tuanya.


Ceklek!


Krieeett...


Kissky membuka pintu kamar lamanya, Zanjiil pun melihat isi kamar istrinya yang begitu manis di balut dengan warna serba kuning, mulai dari dinding seprei, lampu, dan lemari.


Zanjiil tersenyum kecil, lalu melirik istrinya, “Kau sudah mandi belum?” tanya Zanjiil dengan tersenyum manis.


Lalu Kissky pun mendongak, “Sudah, kau bagaimana?”


“Belum, siapkan untuk ku air panas, karena aku ingin berendam.” Zanjiil yang lelah ingin melemaskan otot-ototnya dengan mandi air panas.


Zanjiil yang merasa istrinya ada masalah pun bertanya.


“Ada apa? Coba katakan pada ku?”


Kissky yang butuh teman cerita ragu untuk memberi tahu suaminya atau tidak, pasalnya itu adalah aib keluarga.


“Enggak ada apa-apa, sudah, kau mandilah, setelah itu, datang ke ruang makan, akan ku siapkan nasi untuk mu.” akhirnya, Kissky memilih diam.


Kissky yang keluar dari kamar membuat bingung Zanjiil, sebab sang istri biasanya di sentil sedikit akan menyambar.


“Apa dia lagi sakit gigi? Makanya malas bicara?” Zanjiil menggeleng-gelengkan kepalanya


Selanjutnya, lelaki tampan itu masuk ke dalam kamar mandi.


20 menit kemudian, Kissky yang ada di meja makan melamun, sampai-sampai ia tak sadar, jika Zanjiil ada di sebelahnya.


“Akukan sudah sering bilang Huwl, kalau mau tidur, gosok gigi.” bisik Zanjiil ke telinga Kissky.


Lalu Kissky menoleh ke arah suaminya. “Aku enggak sakit gigi Zanjiil.”

__ADS_1


“Lalu kau kenapa? Ky, aku ini suami mu, sebaiknya kau ceritabpada ku, apa yang ada dalam hati mu saat ini, tak baik memendam masalah sendiri, apa lagi kau memiliki suami bijaksana seperti ku.” perkataan asal Zanjiil tak di tanggap serius oleh Kissky.


“Baiklah, tapi janji, jangan meremehkan aku setelah ini ya.” Kissky mewanti-wanti, agar Zanjiil tak mengungkit soal keluarganya jika ia bercerita.


“Iya, aku janji.” ucap Zanjiil.


“Papa Jiil.” Kissky tertunduk lesu saat ingat perkataan Rea.


“Iya, ada apa dengan papa?” tanya Zanjiil.


“Papa selingkuh Jiil, dan dia akan memiliki anak dengan perempuan itu.” Kissky pun menceritakan apa yang telah ia lihat dan yang ia dengar dari Rea. Hingga membuat Zanjiil ikut cemas, sama seperti Kissky.


Kenapa dia enggak berpikir panjang? batin Zanjiil.


“Sabar Ky, semoga papa cepat sadar.” Zanjiil mengusap punggung istrinya.


Kenapa mereka yang orang tua tak berpikir panjang dengan apa yang terjadi jika mereka berselingkuh? batin Zanjiil.


Setelah selesai mengatakan apa yang ada dalam hatinya, Kissky mengambil nasi untuk Zanjiil.


Pukul 01:00 dini hari. Kissky yang ingin menunggu ayahnya malah terlelap karena lelah. Kemudian Zanjiil keluar dari kamar istrinya menuju ruang tamu.


Kebetulan, saat itu Ahmad baru pulang. Melihat Zanjiil ada di rumahnya, Ahmad langsung menyapa menantunya.


“Zanjiil, kapan datang nak?” Ahmad memeluk menantunya.


“Tadi pa, aku menyusul Kissky kemari Karena kepikiran, tiba-tiba ia meminta pulang dengan menangis histeris.”


“Loh, ada apa nak? Kissky baik-baik sajakan?” Ahmad nampak khawatir dengan yang Zanjiil ceritakan.


“Hatinya tak baik-baik saja pa, sebab ia mendapati papa masuk hotel dengan wanita muda, dan wanita itu adalah istri baru papa yang sedang mengandung.” Zanjiil memaparkan semua yang di katakan istrinya tanpa berbasa-basi pada mertuanya.


Sontak Ahmad panik, rahasianya terbongkar, “Nak, papa bisa jelaskan.”


“Alasannya karena papa tak punya anak biologis dengan mama kan? Dan yang paling membuat ku terkejut, papa memberi semua aset-aset dan saham pada wanita itu?” mata Zanjiil membelalak pada Ahmad.


“Itu tidak benar nak, mana mungkin papa melakukan hal bodoh itu, hehe...” Ahmad tertawa canggung.


“Bagus, jika itu tak benar, sebab jika papa salah langkah, papa akan menyesal, karena tiada maaf dari papa ku, untuk orang yang berkhianat, tentunya saat papa menandatangani surat kontrak kerja sama, pasti baca janji yang satu itukan? Jika berkhianat, dan melakukan kerugian dengan sengaja, maka papa akan menebus dengan nyawa papa? Ku harap papa bijak, jangan sampai merepotkan diri sendiri dan orang lain, karena besan mu, hatinya itu lebih keras dari besi, ku beri saran untuk papa, jika itu benar, segera urus, sebelum semuanya terlambat.”


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2