Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
bab 62 (Tamu Tak Di Undang)


__ADS_3

“Aku bertemu Luna Minggu kemarin, karena dia meminta untuk kencan, tapi aku...”


“Iya, aku mengerti.” Kissky memotong perkataan Zanjiil yang belum selesai bicara.


Kau sesuka mu berbuat pada ku, sedangkan aku tak bisa, batin Kissky.


Winda yang telah mengambil nasi untuk Kissky meletakkannya di hadapan majikannya.


“Silahkan nyonya.”


“Terimaskih kak,” ucap Kissky.


Lalu Kissky mengambil sepotong daging besar untuk ia santap.


Zanjiil terus memperhatikan Kissky yang diam tanpa suara.


“Apa kau marah pada ku, karena aku bertemu


dengannya? Maaf karena alasan itu aku tak jadi membawa mu ke pulau? Jangan marah lagi ya.” ucap Zanjiil.


Namun diamnya Kissky Zanjiil artikan sebagai tanda cemburu.


“Enggak.” sahut Kissky.


Kau pikir aku perduli? batin Kissky.


“Lalu, kenapa kau tak seperti biasanya?”


“Akukan harus jadi istri yang baik, jadi aku harus hemat bicara dan tak akan mencampuri segala urusan mu.” terang Kissky.


“Kau benar juga, kalau mau jadi istri yang merindukan surga, apapun yang di lakukan suami, istri tak boleh protes.” Zanjiil memancing emosi Kissky.


“Iya, kau benar.” perkataan Zanjiil membuat Kissky sakit hati, ia pun menyudahi makannya yang masih tersisa banyak di piringnya. Kemudian Kissky bangkit dari duduknya.


“Kau mau kemana? Nasi mu kan belum habis?” tanya Zanjiil.


“Aku sudah kenyang!” Kissky pun beranjak dari ruang makan meninggalkan suaminya.


Zanjiil yang juga selesai menyusul Kissky. “Ky, tunggu!” Zanjiil menggenggam lengan Kissky.

__ADS_1


“Ada apa?” Kissky pun menoleh ke arah Zanjiil.


“Apa kau marah pada ku?”


“Akukan sudah bilang, enggak.”


“Lalu, kenapa kau pergi begitu saja?”


“Aku cuma tak selera makan, apa itu jadi masalah untuk mu?”


“Tentu, kalau kau kurus, itu akan membuat ku khawatir,” ucap Zanjiil.


“Astaga... kau benar-benar lucu!” Kissky menghempaskan genggaman tangan Zanjiil.


Lalu ia pun berjalan menuju lift untuk ke lantai 2.


Oh, jadi tadi pagi dia turunnya pakai lift, batin Zanjiil.


“Ky!” saat Zanjiil ingin menyusul Kissky kembali, tiba-tiba Sinta memanggilnya.


“Tuan muda.”


Zanjiil pun menoleh ke arah Sinta yang berdiri di belakangnya.


“Ada 2 orang polisi yang mencari tuan, mereka saya persilahkan duduk di ruang tamu,” ucap Sinta.


“Polisi?” Zanjiil mengernyitkan dahinya, sebab ia merasa tak melakukan kesalahan apapun.


“Iya tuan.” setelah memberitahu Zanjiil, Sinta pun kembali ke pekerjaannya.


Apa orang tua Luna melaporkan ku ke polisi? batin Zanjiil.


Ia pun segera menuju ruang tamu. Sesampainya ia, ternyata benar, 2 polisi dengan seragam lengkap telah duduk di atas sofa, netra kedua polisi itu pun celingak-celinguk kesana kemari seperti mencari sesuatu.


Aku harus segera menyelesaikannya, jangan sampai mama papa pulang, mereka masih disini, batin Zanjiil.


Kemudian Zanjiil segera menuju dua polisi tersebut, “Selamat malam pak.” Zanjiil menjabat tangan polisi yang ada di hadapannya.


“Selamat malam, apa benar dengan dik Zanjiil?

__ADS_1


“Betul pak,” sahut Zanjiil.


“Kenalkan saya Sarman, dan ini Seto rekan kerja saya, dan kita dari Polresta?” ucap Sarman.


“Iya, ada apa ya pak, malam-malam datang kemari?” tanya Zanjiil.


“Kami mendapatkan informasi dari pak Reyhan, ayahanda Luna, beliau berkata, kalau dik Zanjiil adalah orang terakhir yang bertemu dengan dik Luna hari minggu kemarin ,” terang Seto.


“Iya, itu betul pak, tapi kami hanya bertemu sebentar di pinggir kota sebelum saya berangkat ke kantor untuk meeting. Dan itu hanya kebetulan bertemu.” ucap Zanjiil.


Setiap perkataan yang keluar dari mulut Zanjiil di catat oleh Sarman.


“Benarkah? Lalu, saat itu apa yang kalian bicarakan?” tanya Seto.


“Dia minta kencan, tapi aku katakan tak bisa, karena saat itu ada meeting yang harus ku hadiri,” terang Zanjiil.


“Meeting?” kedua polisi itu meragu, terlebih mereka lihat kalau Zanjiil masih sangat muda.


“Bisa kau perjelas meeting apa itu?” ucap Sarman.


“Aku menggantikan ayah ku meeting di kantor.” Zanjiil pun menceritakan seluruh kegiatannya hari itu, namun ia menyembunyikan pertemuannya dengan Luna pada saat di mall.


“Baiklah dik, terimakasih atas kerja samanya, kalau adik dapat informasi mengenai Luna, tolong kabari kami segera.” karena tak ada yang mencurigakan dari Zanjiil, untuk sementara dia di kecualikan dari daftar tersangka.


Sarman juga memberi kontak pribadinya pada Zanjiil, jika sewaktu-waktu, Zanjiil mengetahui tentang kabar Luna.


Setelah urusannya selesai dengan para polisi, Zanjiil pun mengantar kedua tamunya tersebut ke depan pintu utama, bertepatan saat itu Basuki baru pulang kerja.


Ia pun tersentak melihat ada dua polisi malam-malam di rumahnya.


Mati aku, batin Zanjiil.


“Permisi, maaf sudah menggangu waktunya dik,” ucap Sarman.


Setelah kedua polisi itu pergi, Basuki yang penasaran pun bertanya pada anaknya.


“Jelaskan pada papa sekarang juga.” suara tenang namun mencekam dari Basuki membuat Zanjiil gentar.


“Itu pa,” Zanjiil tak tahu harus memulai darimana, ia sangat takut,

__ADS_1


jika Basuki tahu mengenai hubungannya dan Luna.


...Bersambung......


__ADS_2