Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 65 (Rencana)


__ADS_3

Lalu Zanjiil naik ke atas ranjang, dan membelai lembut rambut Kissky.


“Aku lelah, andaikan aku tak kaya, apa kau masih mau menjadi istri ku?” Zanjiil yang lelah masuk ke dalam selimut istrinya.


“Ku temani kau tidur malam ini.” Zanjiil memejamkan mata seraya memeluk Kissky.


Keesokan harinya, Kissky yang baru terbangun dari tidurnya merasa jika badannya terasa pegal.


Ia yang menoleh ke sebelahnya, kembali melihat bantal yang tak ia pakai berubah posisi.


“Wah! Enggak benar nih, pasti Zanjiil tidur di sebelah ku.” ia yang ingin memastikan memilih bertanya langsung pada pelakunya. Ia pun turun dari ranjang menuju kamar Zanjiil.


Krieett!!!


Tanpa sungkan Kissky membuka pintu kamar mereka yang terhubung.


“Zanjiil!” ia memanggil keras nama suaminya.


Zanjiil yang sedang mengancing pakaian seragamnya menoleh ke arah Kissky.


“Ada apa memanggil ku?” sahut Zanjiil.


Lalu Kissky dengan langkah kaki cepat mendatangi Zanjiil ke tempat lelaki tampan itu berdiri.


“Apa semalam...” tiba-tiba mulut cerewetnya berhenti bicara, saat ia melihat, sudut bibir Zanjiil membiru.


“A-apa kau baik-baik saja?” tanya Kissky dengan khawatir.


“Tentu saja, kenapa kau bertanya begitu?” tanya Zanjiil kembali, sebab ia tak merasakan luka yang ada di sudut bibirnya tersebut.


“Ini...” Kissky dengan berjinjit menyentuh sudut bibir Zanjiil. “Biru, siapa yang melakukannya?”


Enggak mungkin papa yang melukainya kan? batin Kissky.


Kemudian Zanjiil menggenggam tangan Kissky yang menyentuh bibirnya.


“Ini bukan apa-apa, pergilah mandi, jangan lupa gosok gigi,” ujar Zanjiil.


“Baiklah, kalau ada yang mau kau ceritakan, katakan saja pada ku, aku siap untuk mendengarkan,” ucap Kissky, yang ingin berbagi duka dengan suaminya.

__ADS_1


“Wah! Kau sekarang pengertian ya Huwl!”


Bam! Zanjiil menepuk punggung Kissky dengan keras.


“Kau!” Kissky memegang bekas pukulan suaminya


“Pergilah, kita akan berangkat bersama mulai hari ini,” terang Zanjiil.


“Jangan ah! Nanti malah jadi bahan gosip lagi!” ujar Kissky yang ingin menghindari masalah.


“Tenang saja, sudah sana! Kau lambat sekali!” Kissky baru beranjak ke kamarnya setelah Zanjiil mengusirnya.


Di dalam kamar, Kissky memikirkan bekas luka Zanjiil. Entah mengapa ia seolah merasakan apa yang Zanjiil rasakan, sebab dulu ia sering mendapat luka yang sama oleh orang-orang yang tak punya hati padanya.


Kejam! Jika ayah mertua yang melakukannya! batin Kissky.


Ia yang ingin buru-buru segera masuk ke dalam toilet.


Sedang Zanjiil melihat wajahnya di cermin, “Aku tak merasakan apapun ketika tubuh ku di kerjai, karena rasa sakit di hati lebih parah dari pada di fisik,” gumam Zanjiil.


Zanjiil yang telah selesai berpakaian turun ke lantai satu menuju meja makan.


“Zanjiil!” ia memanggil nama suaminya yang baru saja melintas dari kamarnya.


“Ya?” sahut Zanjiil.


“Tunggu aku!” Kissky berlari kecil untuk mendatangi suaminya.


“Ehm, kita pakai lift saja ya,” pinta Kissky.


“Kenapa?”


“Biar lebih cepat!” ujar Kissky.


Zanjiil yang tak banyak debat hari itu menuruti permintaan Kissky. Mereka berdua pun turun dengan menaiki lift.


Ting!


Sesampainya di lantai satu, keduanya keluar bersama. Kemudian berjalan menuju meja makan.

__ADS_1


Ketika keduanya sampai, mereka pun melihat Pinkan, Basuki dan Lula sedang sarapan.


Tumben hari ini mama dan papa telat berangkat kerja, batin Kissky.


Zanjiil yang masih marah pada orang tuanya, tak menyapa mereka sama sekali. Ia langsung duduk di kursi yang jauh dari keluarganya.


Kissky yang tak ingin ikut melakukan hal yang sama dengan suaminya memilih duduk di sebelah Lula.


“Selamat pagi ma, pa, dan Lula...” sapanya dengan tersenyum.


“Selamat pagi juga,” jawab ketiganya.


“Kakak hari ke sekolah naik sepeda lagi?” tanya Lula berbasa-basi sebagai pemecah ketegangan di antara abang dan orang tuanya.


“Aku berangkat dengan Zanjiil, kau sendiri, hari ini kembali ke asrama ya?” tanya Kissky.


“Iya kak,” jawab Lula.


Sesekali Kissky melirik Zanjiil yang duduk jauh darinya.


“Papa dan mama tumben berangkat lama,” ucap Kissky.


“Mama ada meeting di luar, kalau papa ada kunjungan ke mall yang baru menjalin kerja sama dengan kita,” terang Pinkan.


“Oh, begitu ya pa, ma.” Kissky menganggukkan kepalanya.


Setelah selesai sarapan anggota keluarga Rabbani berangkat ke tempat tujuan mereka masing-masing.


Zanjiil dan Kissky yang telah berada dalam mobil tak melihat satu sama lain.


Kok dia enggak ajak aku bicara sih? batin Kissky.


Kissky yang benci akan keheningan itu mencoba memecahkan suasana.


“Rabbani...”


“Iya Huwl?” sahut Zanjiil seraya melirik wajah Kissky.


“Sepulang sekolah kita ke museum yuk, kau mau kan?” Kissky mengajak suaminya untuk menghirup udara selain selain sekolah dan rumah, dengan begitu ia berharap Zanjiil akan merasa lebih baik.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2