
“Apa salahnya, orang tua zaman dulu biasa kok punya anak 10 sampai 14,” ucap Eric. Setelah itu Eric melepas tangan Arsy.
“Aku coba stop mobil dulu, kau berteduh lah di sana!” Eric menunjuk ke arah pohon besar yang ada di pinggir jalan.
“Kenapa enggak dari tadi sih!” Arsy jengkel dengan sikap Eric yang tak jelas.
Kan aku ingin punya pengalaman jalan kaki dengan mu, batin Eric.
Kemudian Eric melambai-lambaikan tangannya ke arah mobil yang berdatangan.
Namun sayang, satupun tak ada yang mau berhenti. Kemudian Eric mendatangi istrinya.
“Kita jalan lagi yuk! Mungkin di depan sana ada warung di pinggir jalan, karena aku sangat lapar.” akibat berendam di danau, perut Eric menjadi keroncongan.
“Memangnya kau ada uang?” Arsy bertanya, karena menurutnya Eric tak membawa dompet.
“Nanti aku gadaikan jam ku ini saja.” Eric menunjuk ke arah jam tangan rolexnya.
“Baiklah.” kemudian Arsy bangkit dari duduknya. Dan berjalan kembali dengan Eric.
“Ayo!” keduanya pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju bandara dengan berpegangan tangan.
Setelah berjalan selama 300 meter, mereka pun menemukan warung makan kecil di pinggir tol
“Ayo, sarapan dulu.” Eric mengajak Arsy untuk melewati pagar pembatas jalan.
Setelah mereka berhasil keluar, Eric dan Arsy duduk di kursi yang ada pada warung itu.
“Tolong bu, ayam penyet 2, tempe gorengnya 4, air minum teh manis hangat.” kemudian Eric mengambil kerupuk yang ada dalam toples kaleng.
“Hei, dari pada kau makan ini itu, lebih baik kau jual dulu jam mu, sebelum ibu itu siap menggoreng ayamnya,” ujar Arsy.
“Tenang saja.” Eric nampak santai, dan hal itu membuat Arsy curiga.
15 menit kemudian, pesanan mereka pun datang. Kemudian Eric dan Arsy melahap nasi penyet hangat itu dengan nikmat.
Setelah selesai makan, Eric mengeluarkan dompet tipis yang ia simpan di saku dalam bajunya.
Mata Arsy seketika membelalak sempurna, belum lagi, saat Eric mengeluarkan handphone anti airnya.
Dasar setan! Lagi-lagi aku tertipu oleh biawak rawa rontok ini! batin Arsy.
“Kalau kau punya uang dan handphone, kenapa kita harus cape-cape jalan kaki?!” pekik Arsy.
“Biar mesra.” jawaban sembarang Eric yang membuat Arsy mendengus kesal.
“Mesra dari mana sih?” gumam Arsy.
Selesai membayar makanan mereka, Eric memesan transportasi online.
“Hei, kau tak berniat untuk naik pesawat dengan keadaan basah kan?” Arsy menunjuk ke arah bajunya yang belum kering.
__ADS_1
“Oh iya, kau benar juga.” kemudian Eric bertanya pada ibu pemilik warung. “Bu, ada toko baju enggak di sekitar sini?”
“Ada pak, tinggal jalan lurus dari sini, nanti di ujung gang ada toko baju Bima.” ucap ibu penjaga warung.
Setelah mendapat arahan dari si ibu, Arsy dan Eric pun berjalan ke toko baju yang di maksudkan.
Keduanya pun melangkah beriringan, orang-orang yang melihat mereka mulai berbisik, sebab Eric yang tampan dan gagah berjalan tanpa alas kaki.
Eric yang menyadari mereka di perhatikan menundukkan kepalanya.
Sebab ia yang selalu percaya diri ternyata masih punya malu.
Sesampainya mereka di toko baju, mereka pun masuk.
Pak Bima yang menjaga tokonya menyambut ke datangan pasangan suami istri itu.
“Selamat datang, untuk bapak dan ibu... mau borong baju?” pertanyaan Bima membuat Eric dan Arsy melihat satu sama lain.
“Kami hanya butuh 2 pasang baju.” ucap Arsy dengan cepat.
Sebab ia sangat tak nyaman dengan pakaian yang ia kenakan.
“Oke, silahkan di pilih.” ucap ramah Bima si pemilik toko.
Arsy dan Eric pun memilih pakaian dan sepatu yang cocok untuk mereka.
Setelah melakukan pembayaran, keduanya pun berangkat menuju bandara dengan menggunakan taksi.
Apa sudah benar, aku meninggalkan Devan demi Eric yang sudah membuat ku hancur. batin Arsy.
Arsy tertidur pulas, sampai-sampai ia tak sadar jika mereka sudah sampai di Bandar Udara Internasional Husain.
Eric yang terjaga mencubit hidung istrinya dengan kuat.
“Ayo turun!” ucap Eric seraya berdiri.
“Iya-iya.” Arsy pun bangkit dari bangkunya, kemudian mengikuti langkah Eric keluar dari pesawat.
Mereka yang telah tiba di lobby pesawat telah di tunggu oleh karyawan toko Eric.
“Ayo!” Eric menuntun tangan Arsy masuk ke dalam mobil.
Zikri yang melihat sang bos membawa wanita terkejut.
“Dapat dari mana pak?” tanya Zikri.
“Di jalan, hahahah.” Eric yang biasa kaku kini jadi lebih humoris.
Perubahannya itu membuat Arsy terkejut. “Kau ya! Kalau bicara jangan asal!” keberanian Arsy membentak bos besar itu membuat Zikri menatap lekat wanita yang di bawa bosnya.
“Ayo jalan!” titah Arsy.
__ADS_1
“Ba-baik bu.” jawab Zikri dengan gelagapan. Pasalnya Arsy begitu galak di pertemuan pertama mereka.
Selama perjalanan, Arsy dan Eric adu mulut tiada henti.
Zikri jadi berpikir jika wanita yang menjadi lawan bicara bosnya adalah Kissky, istri sang bos yang hilang selama 10 tahun.
“Bu Kissky ya?” ucap Zikri.
“Bukan!”
“Iya, tapi sekarang dia lagi menyamar jadi Arsy, hahahaha...” Eric terus saja meledek istrinya.
“Pantas, bapak dan ibu akrab banget.” Zikri senang karena sang bos terlihat begitu ceria.
“Hei, apa kabar pak Dimas. Apa dia sudah menikah?” Arsy sangat penasaran dengan supir mereka tersebut.
“Pak Dimas, sudah punya anak 3, dan sekarang pak Dimas tinggal di pedesaan, profesi terbarunya bertani. Seperti cita-cita mu dulu. Aku juga mau jadi petani, pasti menyenangkan hidup di lingkungan sepi, hanya ada kita berdua.” Eric membayangkan masa depan mereka yang sederhana.
“Iya kali enak, aku enggak mau.” ternyata cita-cita Arsy di masa muda hanya angan-angannya belaka.
“Kalau begitu, jadi asisten ku saja.” Eric terus membujuk istrinya agar mau bekerja sama dengannya.
“Tidak, aku masih mau jadi guru.” Arsy ingin tetap melanjutkan profesinya.
“Iya, jadi guru untuk anak-anak kita nanti saja.” ucap Eric.
Zikri merasa geli, saat bosnya terus menggombal Arsy. Rasanya ia ingin turun dari mobil itu.
“Oh ya pak, kita mampir ke toko sebentar ya.” Eric ingin mengambil gaun buatannya untuk di kenakan oleh Arsy.
“Baik pak.” setelah beberapa saat dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai.
Arsy pun melihat toko baju milik milik suaminya.
Besar banget, batin Arsy.
Matanya pun fokus dengan nama toko tersebut.
“K Huwl?” Arsy menoleh ke arah Eric.
“Kissky Huwl, nama istri ku, Arsy.” Eric tersenyum pada Arsy. “Ayo turun.”
Keduanya pun keluar dari dalam mobil dan masuk toko.
Eric yang menggenggam tangan Arsy membuat karyawan toko tercengang.
Pasalnya sang bos tak pernah membawa wanita sebelumnya kesana.
Para karyawan pun di buat syok, saat Arsy di bawa masuk ke ruang kerja pribadi sang bos.
Dita yang juga melihat hal itu menjadi cemburu.
__ADS_1
Rencana untuk menyatakan cinta pada sang bos gagal total, sebab Eric telah membawa wanita di hadapannya secara langsung.
...Bersambung......