Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 172 (Plak)


__ADS_3

Pinkan memarahi suaminya yang akan menghentikan perjodohan anaknya dengan orang baik itu.


“Pinkan, jangan pengaruhi putri ku, aku tak setuju jika itu orangnya!” Basuki menentang hubungan Lula dan Fahri.


“Tapi aku mau pa, orangnya baik dan juga santun, tenang saja pa, aku takkan keluar dari perusahaan hanya karena dia,” terang Lula.


“Lula, lebih baik kau menikah dengan Parman,” ucap Basuki.


“Jangan aneh-aneh pa, karena aku takkan suka dengan orang-orang terdekat papa, tolong papa jangan maksa, karena aku enggak akan mau!” Lula menolak keras kandidat yang di katakan ayahnya.


“Bagus Lula, itu namanya baru anak mama.” Pinkan menatap sinis ke arah Basuki.


Saat mereka masih bersitegang, Eric dan Arsy pun telah berada di hadapan mereka.


Lula yang tak sengaja melihat kehadiran abangnya tercengang.


“Kak Kissky?!” sebab Eric membawa kakak ipar yang hampir ia bunuh di masa lalu.


Sontak Pinkan dan Basuki pun melihat ke arah Arsy.


“Kissky?! Ini kau?!” Pinkan yang tak punya masalah dengan menantunya pun berdiri dari duduknya dan memberi pelukan rindu.


Sementara Basuki hanya diam, ia masih ingat masalah besar yang ia timbulkan untuk menantunya.


Sedang Lula yang tak perduli dengan yang ia lakukan di masa lalu malah ikut memeluk Fi setelah Pinkan.


“Apa kabar kak? Aku rindu loh sama kakak!" Lula tersenyum hangat seolah tak terjadi apapun.


“Baik.” jawab Arsy singkat.


Kemudian Pinkan memeluk erat Eric dengan penuh kasih sayang.


Tes!


Untuk pertama kalinya Pinkan menitikkan air matanya.


“Nak, kau kemana saja?” Pinkan pun berulang kali mencium wajah putranya. Hingga Eric yang menerima perlakuan manis itu tersentak.


Sejak ia kecil, sang ibunda jarang sekali mencium dan menunjukkan kasih sayangnya pada Eric.


“Ayo duduk kalian berdua,” ujar Pinkan.


Kemudian Arsy dan Eric pun duduk bersebalahan menghadap keluarga Rabbani.


Air mata Pinkan yang terus mengalir membuat Lula dan Zanjiil merasa sedih, karena itu tak seperti ibu mereka biasanya.


“Mama jangan nangis lagi ma, malu di lihat orang.” Eric menyeka air mata ibunya dengan tisu yang ada di hadapannya.


“Kenapa baru pulang sekarang nak?” ucap Pinkan.


“Karena aku baru menemukan apa yang ku cari ma.” Eric memegang tangan istrinya. “Dan kedatangan kami kemari untuk mengundang seluruh keluarga kita, agar dapat menghadiri pernikahan kami tanggal 10 Juni besok,” terang Eric.

__ADS_1


“Kaian menikah ulang?” ucap Lula dengan perasaan senang.


“Iya La, datanglah kalau kalian berkenan.” Eric menyerahkan satu undangan untuk keluarganya pada Lula.


“Eric dan Arsy?” Lula membaca nama membelai pria dan wanita.


“Kalian ganti identitas?” tanya Pinkan penuh selidik.


“Iya ma, karena masa itu sangat menyakitkan buat kami.” ungkapan hati Eric membuat Basuki merasa bersalah.


“Ehm, maafkan papa, karena papa kalian berdua melalui masa-masa yang berat. Maafkan papa Arsy, sudah membuat luka di hatimu.” Basuki yang sadar meminta maaf pada anak dan menantunya.


Arsy yang mendengar secara langsung melihat wajah Basuki dengan seksama.


Meski ia ingin marah, namun ia tak bisa, karena itu adalah ayah kandung suaminya.


Ia tahu, itulah resikonya apabila bersama Eric, dirinya harus menerima keluarganya juga.


“Iya pa, aku memaafkan papa.” Arsy yang sudah ikhlas tak mau menyimpan dendam apapun pada keluarga suaminya.


Karena sudah saling memaafkan, keluarga itu lanjut dengan mengobrol-ngobrol seputar perjalanan hidup mereka selama ini.


🏵️


Sesampainya di rumah sakit, Leon langsung di tangani oleh para dokter.


Leon yang tak kunjung sadarkan diri membuat Liza dan Gibran semakin resah.


“Sabar sayang, kita sama-sama berdo'a saja, semoga anak kita terselamatkan.” Gibran sangat kasihan pada Leon dan juga istrinya yang tengah mengandung.


Tapi, kok bisa kamar Leon di masuki ular sebenar itu? batin Gibran.


Ia merasa itu semua tak masuk akal, sebab rumah mereka telah terbilang aman dari hewan seperti itu.


“Kita harus telepon pak Basuki.” Gibran ingin memberitahu kabar duka itu.


“Jangan, nanti mereka marah pada ku.” Lula sangat takut, karena ia merasa bersalah atas kejadian malang yang menimpa anak pertamanya.


Apa lagi ia tahu, putranya adalah kesayangan Basuki dan Lula.


“Bagaimana pun mereka berhak tahu sayang, karena Leon adalah cucu pak Basuki.” atas saran dari Gibran akhirnya Liza setuju.


Kemudian Gibran mendial nomor Basuki yang sedang mengobrol santai dengan keluarganya setelah lama tak bersua


Halo Gibran. 📲 Basuki.


Halo pak, bapak ada dimana? 📲 Gibran.


Lagi di kafe. 📲 Basuki.


Tolong segera datang ke rumah sakit Kasih Bunda, Leon masuk rumah sakit pak. 📲 Gibran.

__ADS_1


Apa?! Leon masuk rumah sakit??!! 📲 Basuki.


Keluarga Rabbani yang mendengar kabar duka itu menoleh ke arah Basuki yang sedang menelepon.


Iya, cepat ya pak. 📲 Gibran.


Oke, kami akan segera kesana. 📲 Basuki.


Setelah sambungan telepon terputus Basuki bangkit dari duduknya.


“Leon masuk rumah sakit, ayo segera kesana,” titah Basuki.


“Kok bisa sih pa?” tanya Lula dengan wajah bingung.


“Papa belum tahu apa sakitnya, tapi suara Gibran jelas panik benget tadi,” terang Basuki.


Arsy dan Eric pun berdiri dari duduk mereka. “Ayo pa.” ujar Eric, akhirnya mereka semua berangkat ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, mereka semua melihat Liza duduk di atas kursi tunggu seraya menangis tersedu-sedu.


“Ada apa ini? Kok Leon bisa masuk rumah sakit?” tanya Basuki selaku kakek yang sangat menyayangi Leon.


“Maaf pak, ini kesalahan kami, kami ceroboh,” ucap Gibran dengan suara tak berdaya.


“Ceritakan yang jelas!” Pinkan tak suka hal yang bertele-tele.


“Leon di patuk ular king kobra dalam kamar mandi kamarnya, hiks.... maafkan kami karena telah lalai menjaganya, hiks!!!” Liza kembali mengangguk.


Mendengar nama king kobra, sontak Basuki menoleh ke arah Lula.


Lula yang sadar itu adalah ulah peliharaannya seketika menjadi deg degan.


Apa lagi sorot mata Basuki begitu tajam padanya.


“Kami tidak tahu kenapa tiba-tiba ada ular di rumah, ularnya besar banget, maaf pa, kami salah.” ucap Liza berulang kali.


Lula yang merasa bersalah tak ingin berbohong pad keluarganya, dan ia pun memilih jujur.


“Maaf, sebenarnya semua adalah salah ku, ular itu peliharaan ku, tapi aku tak tahu, kalau Leon akan membawanya pulang.” terang Lula dengan tangkas.


“Apa?!” Liza yang mengetahui kebenaran itu menjadi geram.


Plak!!


Liza menampar keras wajah Lula. “Brengsek! Kau juga mengajarinya membedah kodok kan? Apa lagi yang kau ajari selain itu?! Hah?!” keluarga Rabbani hanya diam saat Lula mendapat serangan dari Liza.


Sebab mereka sadar, hal itu murni kesalahan dari Lula.


“Dia sampai berani menyimpan ular di kamarnya? Itu semua karena didikan mu kan! Kau tak sadar kalau dia masih kecil?! Belum tahu bahaya Lula! Dimana otak mu?! Kalau saja kau lihat langsung tubuh Leon di lilit ular besar itu! Pasti kau ketakutan, dan aku sebagai ibunya merasa ingin mati! Lula! Kau jahat!!! Hikss....” Liza menangis seraya memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2