
Perlahan si gadis percaya diri itu pun mendekat ke vending mesin.
Dengan perlahan, Liza memasukkan koin ke dalam lubang vending, sambil sesekali melirik ke arah Joe, namun pria tampan tersebut, malah asyik dengan ponselnya, seolah tak merasakan kehadiran orang lain di sekitarnya.
Klontang!! Klontang!!
2 botol air minum dingin meluncur ke delivery port, Liza dengan perlahan mengambil air minum tersebut. Ia sengaja mengulur waktu, berharap Joe akan melihat kehadirannya.
“Hei! Kenapa kau malah pake mode slow! Kau tahu ini milik umum, bukan pribadi! Cepat menyingkir!” pekik salah seorang siswi yang antri di belakang Liza.
“Sudah tahu bukan milik pribadi, ya perbanyak sabar dong!” Liza memarahi siswi tersebut.
Suara keras keduanya, memancing perhatian Joe yang sedang bersantai.
“Kalian bisa diam enggak!” ketika Joe melihat salah satu dari kedua siswi itu adalah Liza, ia pun tersenyum.
“Maaf ya Joe, kalau aku mengganggu ketenangan mu.” Liza yang penuh sandiwara memulai dramanya kembali.
Perlahan Joe bangkit dari duduknya, “ Tak apa, hei kau!” Joe menatap tajam ke arah siswi yang adu mulut dengan Liza. “Kalau sudah selesai dengan urusan mu! Tinggalkan tempat ini, jangan buat rusuh!” pembelaan yang Joe lakukan pada Liza, membuat gadis percaya diri itu makin salah paham.
Astaga, Joe, kali ini kau terang-terangan memperlihatkan perasaan mu padaku?! Ya Tuhan! Aku harus bagaimana? Di satu sisi ada Gibran dan ibu mertua yang teramat baik dan royal, di sisi lain ada Joe, yang dengan gagahnya, di garda depan melindungi ku dari bahaya, batin Liza
Setelah siswi tersebut pergi, Joe menoleh ke arah Liza, yang hidungnya kembang kempis.
Ada apa dengannya? Apa dia punya penyakit asma atau jantung? Kenapa dia terlihat sulit bernafas? batin Joe.
“Kau tak apa?” Joe memegang bahu Liza, dan menuntunnya untuk duduk di kuris panjang, yang Joe duduki sebelumnya.
“Aku baik-baik saja!” sahut Liza dengan mata berkaca-kaca, ia terharu akan besarnya perlindungan Joe padanya.
Astaga, jangan-jangan benar lagi, dia ada penyakit jantung, buktinya, Liza sampai menahan tangis, batin Joe.
“Tenangkan dirimu, pasti tadi kau terkejut banget, saat perempuan itu membentak mu.” Joe yang pandai dalam menenangkan wanita pun membelai lembut puncak kepala Liza.
__ADS_1
Sontak Liza makin kejang-kejang, Ya Allah, aku harus bagaimana? Jangan sampai Joe menyatakan perasaannya sekarang juga pada ku, aku belum siap untuk menentukan, siapa yang pantas dan layak untuk menjadi calon imam ku di masa depan. batin Liza sungguh berkecamuk, ia amat bingung harus bagaimana.
“Joe...” ucapnya lembut.
“Terimaksih kau sudah perhatian pada ku, tapi... aku belum siap untuk menentukannya sekarang.”
Joe yang berpikir itu tentang balas dendam ke siswi yang tadi, menganggukkan kepalanya.
“Aku mengerti, tunggu waktu yang pas saja.” ujar Joe.
Deg! Jantung Liza berdetak kencang. Liza yang takut akan lebih jauh dengan Joe, memutuskan untuk meninggalkan koridor tersebut.
Ini enggak benar, jangan sampai aku mengkhianati tante Jenny, yang sudah baik pada ku, batinnya.
“Joe, maaf aku harus pergi!” ucap Liza.
“Oke, hati-hati di jalan.” Joe pun melambaikan tangannya pada Liza yang melihatnya dengan tatapan penuh makna.
Liza yang ingin membeli kue pun jadi lupa, karena urusan perasaannya dengan Joe.
Tuk! Liza meletakkan minuman yang baru ia beli ke kursi Rizal yang sedang kosong.
“Apa ini?” Gibran bertanya dengan tatapan mata sendu, akibat mengantuk. Liza yang salah sangka, malah mengira, Gibran sedang menggodanya.
“I-itu untuk mu, minumlah, kau pasti haus,” ucapnya dengan malu-malu.
“Terimakasih banyak, kau baik sekali.” Gibran yang haus pun langsung meneguk minuman tersebut.
“Sama-sama.” Liza menatap lekat jakun Gibran yang naik turun, bagai eskalator mall.
Setelah selesai menghabiskan air minum pemberian Liza, Gibran pun bertanya. “Apa kau sudah makan?”
Sontak Liza yang makin dilema, geleng-geleng kepala.
__ADS_1
“Nanti makan bersama yuk, aku sangat lapar, dan kata mereka, di kantin ada menu baru!” Gibran yang baik hati mengajak Liza untuk makan siang bersama, tentunya ia tak lupa untuk mengajak Kissky juga.
Liza yang berpikir itu adalah kencan, tak bisa menahan gejolak di hatinya
“Aku mau!” sahutnya dengan semangat, Setelah itu, Liza pun kembali ke kursinya dengan penuh senyuman.
Luna yang telah menunggu lama, cemberut pada Liza yang baru datang.
“Jelek banget sih wajah mu!” pekik Liza.
“Sudah salah! Main bentak lagi! Enggak sadar diri banget sih!” Luna bangkit dari duduknya, kemudian menuju Zanjiil yang sibuk melukis bersama Kissky.
Hug! Luna melingkarkan kedua tangannya di leher Zanjiil, lalu meletakkan dagunya di bahu kanan sang kekasih.
“Sayang... aku haus...” ucapnya dengan manja.
“Luna!” Zanjiil yang tak enak pada Kissky pun mencoba melepaskan tangan kekasihnya dari lehernya.
“Kenapa sih?!” Luna yang merasakan perubahan Zanjiil pun menoleh ke arah Kissky.
Namun Kissky berlagak tak perduli, sikapnya seolah tak menganggap keduanya ada.
“Ini tempat umum, kau enggak malu apa, kalau sampai jadi bahan gosip orang lain?” selain hal tersebut, yang menjadi alasan Zanjiil adalah istrinya, Kissky.
“Untuk apa perduli dengan omongan orang lain, toh kita yang menjalaninya,” terang Luna.
“Sudahlah, kau mau apa kemari?” tanya Zanjiil dengan gelagat kesal.
“Aku haus! Berikan aku minuman mu yang itu!” Luna menunjuk ke arah meja kecil yang ada di sebalah kursi Kissky.
“Itu punya Kissky!” ucap Zanjiil.
“Ambil saja kalau kau mau!” Kissky yang murah hati pun memberikan pemberian Zanjiil pada Luna.
__ADS_1
...Bersambung......