
Mereka semua beranjak ke ruang kontrol cctv sekolah.
Sesampainya mereka ke ruangan tersebut, Riza beserta satpam yang bertugas membuka rekaman cctv dari pagi sampai saat penggeledahan tas dan loker.
Dalam video yang tersimpan, tak ada tanda-tanda kalau Kissky mengambil berlian Coronia, karena memang sebelumnya Riza telah mengarahkan sensor cctv ke arah yang tak menangkap bangku barisan depan siswa serta bagian loker.
Zanjiil menatap tajam ke arah Riza. “Ibu lihat sendirikan? Tak ada bukti kuat kalau Kissky yang mengambil? Bisa saja dia di jebak!” ucap Zanjiil.
“Ibu tahu, tapi tak ada juga yang menjamin kalau bukan Kissky pelakunya,” ujar Riza.
Coronia yang lelah memilih untuk menyudahi masalah yang terjadi.
“Sudahlah bu, di perpanjang juga enggak ada gunanya, lagi pula berliannya sudah kembali pada ku.”
Riza sangat kesal, sebab semua rencana yang telah di atur olehnya keluar dari jalurnya.
“Kau boleh memaafkannya, tapi Kissky tetap harus dapat panggilan orang tua!” keputusan Riza membuat Kissky takut
“Bu, jangan bu, orang tua saya bisa marah, lagi pula saya benar-benar tidak mencuri, saya juga enggak tahu, berlian itu ada di tas saya.” Kissky berusaha membujuk Riza, agar gurunya tersebut mau mengubah keputusannya.
“Tidak bisa, pokoknya orang tua mu harus datang ke sekolah besok, ibu akan cetak surat panggilannya,” terang Riza.
“Bu, dengan bukti yang tak akurat ibu bertindak gegabah, bagaimana kalau Kissky bukan pelaku yang sebenarnya? Apa ibu enggak akan merasa bersalah padanya?” Zanjiil yang tak ingin istrinya dapat masalah baru, membela dengan intens.
“Itu sudah pasti, ayo semuanya, keluar dari ruangan ini, Coronia dan Kissky ikut ibu ke kantor guru.” titah Riza.
“Bu, bukan saya pelakunya, lagi pula saya selalu bersama Liza, tanya saja padanya.” Riza yang tak ingin Kissky lolos dengan mudah, tak mau menerima pembelaan Kissky.
“Jangan banyak bicara, ikuti saja ibu.” Riza yang angkuh melangkahkan kakinya menuju kantor guru.
“Ky, aku enggak tahu, kau atau tidak pencurinya, tapi sungguh, aku sudah memaafkan mu, atau pelaku yang sebenarnya, maaf ya, aku juga k
tak mau jadi panjang, ini semua kehendak dari bu Riza.” Coronia yang iba pada Kissky tak bisa berbuat apapun.
“Terimakasih Cor.” sebelum pergi, Kissky menatap nanar suaminya.
Jika Kissky sendiri, pasti ia telah menangis sekencang-kencangnya. Namun situasi yang tak tepat membuatnya harus kuat dan tegar.
Akan ku beri pelajaran pada pelaku sebenarnya, batin Zanjiil.
Ia yang beranjak menuju kelas XB Seni di perhatikan seseorang, dari sebuah ruangan yang ada di sebelah ruang kontrol cctv, seseorang itu tersenyum menyeringai melihat kejadian yang terjadi.
Sesampainya Zanjiil ke koridor kelas seni, ia mencari keberadaan Mei di ruang kelasnya.
__ADS_1
Beruntungnya, Mei masih duduk di kursinya dengan keadaan menangis di temani oleh Suli.
Mei yang melihat kehadiran Zanjiil pun berteriak.
“Mau apa lagi kau brengsek!”
“Heh!” Zanjiil yang tak pilih bulu menjambak rambut Mei.
“Lakukan, ada cctv yang akan merekam kelakuan mu!” hardik Suli.
Kemudian Zanjiil yang sudah di luar kontrol mengambil tas milik Mei.
Pluk!
Zanjiil dengan mudah membidik cctv yang ada di atas white board kelas XB.
Kaca cctv itu pun pecah saat menyentuh lantai, serta kabel-kabelnya putus. Seketika Mei dan Suli bungkam.
“A-apa yang kau inginkan,” Mei yang takut menjadi kikuk.
“Mana sim cart mu!” tanya Zanjiil.
“Untuk apa?” Mei yang takut Zanjiil mengerjainya menolak untuk memberikannya.
“Aku perlu melihat, nomor yang mengirim dokumen Kissky pada mu!” terang Zanjiil.
“Sini handphone mu!” suara Zanjiil yang bagai petir membuat Mei ketar ketir, dengan terpaksa ia meyerahkan ponselnya pada Zanjiil.
Kemudian lelaki tampan yang sedang marah itu pun mencabut kartu sim milik Mei. Selanjutnya ia memindahkan ke handphonenya.
Ia yang penasaran pun mengunduh duplikat aplikasi si hijau.
Setelah itu mendaftarkan nomor Mei pada aplikasi si hijau.
Tak menunggu lama, semua pesan masuk yang ada di handphone Mei pindah ke handphone Zanjiil.
Zanjiil pun menemukan kontak yang membuat petaka dalam hidup istrinya.
“Pasti ini biang keroknya!” Zanjiil pun menyerahkan nomor tersebut pada kenalannya seorang ahli IT dan hacker untuk di lacak keberadaannya.
Setelah urusannya selesai dengan Mei, ia pun menyerahkan handphone gadis itu kembali.
“Kartu simnya aku kembalikan besok.” ucap Zanjiil.
__ADS_1
Meski tak ikhlas, namun Mei tak bisa berbuat apapun.
Zanjiil pun keluar dengan langkah terburu-buru, ia yang telah berada di lapangan yang jaraknya tak jauh dari ruang guru di sapa oleh Joe.
“Buru-buru banget, mau kemana Jiil?” Joe mendekat pada Zanjiil.
“Bukan urusan mu!” Zanjiil yang muak akan Joe pun kembali melangkahkan kakinya.
“Istri mu benar-benar luar biasa ya, selalu buat ulah, hehehe!” Joe memancing amarah Zanjiil.
“Kerenkan?!” Zanjiil mencoba untuk tak memukul Joe.
“Ya, dan aku makin suka padanya!” ungkap Joe.
“Ambil saja kalau kau bisa!” Zanjiil pun meninggalkan Joe, karena Kissky jauh lebih penting di banding melayani anak mantan madu ayahnya.
“Ck, perempuan itu yang akan mengantarkan mu pada ke hancuran.” Joe tertawa menyeringai.
_______________________________________
Di dalam kantor guru, Riza duduk menghadap kedua anak didiknya.
“Ini.” Riza memberikan surat panggilan orang tua yang telah terbungkus dalam amplop putih pada Kissky.
“Bu, kenapa sih ibu enggak mau mendengar penjelasan ku?” Kissky masih berharap jika Riza berubah pikiran.
“Harus tetap di lakukan, sekarang kau harus minta maaf pada Coronia.” Kissky yang tak bersalah di paksa meminta maaf atas apa yang tidak ia lakukan.
“Aku enggak mau bu, karena aku merasa tak melakukan apapun!” Kissky yang tak melakukan kesalahan menolak perintah Riza.
“Kissky!” pekik Riza, ia amat kesal pada Kissky yang tak turut padanya.
“Sudahlah bu, aku sudah memaafkannya, kalau bisa enggak usah panggilan orang tua juga, kasihan Kissky.” Coronia yang sudah terlambat kencan ingin segera keluar dari sekolah saat itu juga.
“Baiklah, kau boleh pergi Coronia, tapi Kissky tinggal disini dulu, karena ibu mau menasehatinya.”
“Terimkasih banyak bu.” sebelum keluar dari kantor guru, Coronia menjabat tangan Riza. Sekarang hanya tinggal Kissky dan Riza di kantor guru tersebut.
“Kissky, kalau kau ingin pulang, bawalah surat panggilan ini.” Riza masih berusaha, agar Kissky menerima surat panggilan yang ia berikan, karena ia ingin sekali memaki orang tua angkat Kissky, tujuannya agar musuh bebuyutannya kena benci.
“Saya enggak mau bu, kalau ingin menghukum saya, tunjukkan bukti yang lebih akurat.”
“Apa? Beraninya kau membantah guru mu sendiri!” netra Riza membelalak.
__ADS_1
“Pada hal Coronia sudah memaafkan, tapi ibu ngotot sekali ingin memanggil orang tua saya! Ada apa dengan mu bu?”
...Bersambung......