Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 97 (Operasi)


__ADS_3

Mobil yang di tumpangi Zanjiil dan Lula berhenti di sebuah titik yang menjadi patokan akses masuk ke ruang bawah tanah. Berjarak 00 meter dari pintu masuk karyawan.


Terrrrttt... perlahan mobil itu turun kebawah, ternyata itu adalah lift menuju ruangan rahasia tersebut.


Sesampainya mereka di tujuan, Zanjiil dan Lula keluar dari dalam mobil.


Tampilan ruangan begitu bersih bagai rumah sakit elit di tengah kota.


Banyak dokter spesialis yang bekerja disana, banyak juga orang-orang yang antri di loket pendaftaran untuk mengisi formulir perjanjian setuju untuk menjual organ tubuhnya.


“Baru 2 bulan tak kesini, perubahan tempat ini sungguh pesat,” ungkap Lula.


“Kau benar, ekonomi yang semakin krisis membuat banyak orang menjual organ tubuhnya, kasihan sih, tapi apa boleh buat, tunjangan sehari-hari adalah alasan di balik itu semua, terutama bagi orang tua yang ingin menyambung hidup anaknya,” terang Zanjiil.


“Kau benar bang, tapi aku tak habis pikir, para orang tua yang datang kemari sepertinya gagal teknologi, tapi bisa mencari situs kita di dark web,” Lula menggelengkan kepalanya.


“Yang itu karena ada calo khusus, si calo yang akan menyerahkan uang tersebut pada keluarga penjual, kau tahu La? Kebanyakan dari mereka yang menerima uang, tak perduli akan nasib orang tua mereka yang telah tiada.” tanpa terasa kakak adik itu sampai di depan pintu office.


“Ayo ke tempat operasi bersama,” ucap Lula.


“Kau saja, aku masih ada kerjaan di dalam.”


“Baiklah, cepat datang bang, aku tak nyaman kalau harus bersama orang-orang berseragam hijau itu!” meski sering menghabisi nyawa korbannya, namun Lula selalu enggan bila harus terlibat ke ruang eksekusi.


“Iya.” Zanjiil menganggukkan kepalanya.


Kemudian Lula beranjak menuju tempat yang ia benci.


Para tenaga kerja yang melihat kehadirannya pun menundukkan kepala sebagai tanda hormat.


“Huffft...” Lula menghela nafas panjang saat kakinya telah berada di depan pintu yang bertuliskan ruang operasi.


Sang dokter yang bertugas saat itu membuka pintu dengan cepat.


“Selamat datang nona Alula.” Dokter bedah yang telah bekerja 20 tahun bersama keluarganya, mempersilahkan Lula untuk masuk.

__ADS_1


Gadis kecil yang terlalu cepat menelan pil pahit kehidupan, melangkahkan kakinya lebih dalam pada ruangan tersebut.


Kemudian Lula di beri seragam hijau, setelah itu ia di tuntun menuju seorang gadis yang telah terbaring di ranjang pasien.


“Tolong saya, saya menyesal, saya ingin pulang, saya masih mau hidup, hiks...” gadis muda yang terlihat masih balia itu menangis histeris saat pisau medis yang sangat tajam akan menyayat tubuhnya.


Lula yang menyaksikan air mata ketakutan gadis itu bersikap tenang, tanpa kasihan sedikit pun.


“Kak, tolong bantu saya, saya berjanji takkan buka mulut pada siapapun, yang penting saya bebas, saya akan melupakan segalanya.” suara bising gadis tersebut membuat telinga Lula sakit.


“Kenapa kau kemari?” tanya Lula.


“Aku butuh uang untuk operasi ayah ku yang gagal jantung,” ucap si gadis dengan jujur.


“Bagus, kalau begitu, lanjutkan! Jangan tanggung-tanggung kalau mau berbakti pada orang tua!” gadis itu sungguh mengira Lula akan iba padanya. Namun sayang, Lula yang telah biasa dengan kekerasan merasa nyawa orang lain bukanlah hal penting.


”Nona Lula, silahkan pakai sarung tangannya.” salah satu dari ketiga dokter yang ada dalam ruangan itu memberi Lula sepasang sarung tangan karet.


Lula pun mengambil dan memakainya, “Apa operasinya bisa di mulai sekarang?” tanya Lula.


“Iya nona.” sahut sang dokter senior.


“Boleh aku yang menyayatnya?” Lula yang rajin ingin praktik langsung.


“Baik nona.” sang dokter senior mengawasi gerakan Lula secara ketat, agar tak terjadi kesalahan pada saat membedah tubuh si penjual.


Lula tanpa ragu apa lagi grogi membelah tubuh si gadis sesuai pada tempat yang di arahkan sang dokter. Gadis itu masih menangis histeris berharap ada ampun baginya.


“Beri dia obat bius, berisik sekali! Suaranya membuat ku gagal fokus.” titah dari Lula segera di laksanakan oleh para tim medis.


Setelah cairan bius masuk ke tubuh si gadis, perlahan kesadaran gadis itu mulai menurun dan pingsan.


Setelah itu, Lula melanjutkan kembali pelajaran bedahnya yang sempat tertunda.


“Ya, bagus non, hati-hati, jangan sampai ginjalnya rusak, karena ginjal gadis ini sangat sehat, pembeli telah menunggu di rung operasi lain.” terang sang dokternya senior.

__ADS_1


“Aku tahu, tak usah mengingatkan ku!” Lula dengan mudah memotong kedua ginjal gadis itu secar bergantian, dan memindahkannya ke toples khusus.


Selanjutnya Lula mengerjakan jantung, liver, dan kedua bola mata.


“Apa semua organ gadis ini sudah laku?” tanya Lula.


“Betul nona.” setelah proses operasi selesai Lula meminta suntik yang berisi racun pada sang dokter senior.


”Biar aku yang melakukannya.” ucap Lula.


Lalu sang dokter senior pun memberikan suntik tersebut pada Lula.


Di kira Lula akan memasukkan obat itu ke tubuh si gadis, namun ternyata Lula mengarahkan ujung jarum suntik yang tajam ke leher si dokter senior.


“A-apa yang kau lakukan nona?” ucap sang dokter dengan suara terbata-bata.


“Harusnya aku yang tanya begitu, kenapa kau membuka praktik di rumah mu? Sehingga tempat ini kewalahan dalam menangani pasien yang akan di operasi, apa upah mu kurang? Sehingga kau mencari penghasilan tambahan?” Aura Lula yang begitu mencekam membuat dokter itu ketakutan.


“Ma-maaf nona, saya tidak akan mengulanginya lagi, saya salah!” sang dokter bergidik ngeri saat rahasianya terbongkar.


“Tutup tempat praktik mu, atau kau akan menyesal, hari ini kau masih ku maafkan, sempat ada laporan kerugian lagi, ku pastikan tamat riwayat mu dan keluarga mu!” sang dokter tahu, kalau itu bukan gertakan semata. Ia yang masih ingin hidup mengikuti perintah dari Lula.


“Baik nona, saya akan melaksanakannya.” ucap sang dokter.


“Bagus! Aku suka orang yang patuh.” lalu Lula mengarahkan jarum suntik yang ada di tangannya tepat pada leher si gadis yang belum sadarkan diri.


Setelah itu, Lula membuang suntik tersebut ke tong sampah, selanjutnya Lula meninggalkan ruang operasi menuju office tempat Zanjiil berada.


“Selama 3 jam aku melakukan operasi, tapi kau tak datang juga bang.” ucap Lula yang berdiri di depan pintu.


“Maaf, aku banyak pekerjaan yang harus di urus, ada permintaan baru dari pelanggan untuk membunuh kakeknya, si kakek sekarang lagi berada di kabin tengah hutan yang ada di pinggir kota bagian timur, apa kau mau ambil? Atau aku kasih pada yang lain?” keluarga Rabbani memiliki 10 pembunuh bayaran yang mereka gaji di setiap bulannya.


“Aku saja, lagi pula aku enggak ada kerjaan! Dan sudah sebulan tak menghabisi nyawa orang lain,” terang Lula.


“Baiklah, aku akan kirim ke ponsel mu alamatnya.”

__ADS_1


“Oke bang.”


...Bersambung......


__ADS_2