Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 71 (Museum)


__ADS_3

“Huwl! Kau merasa cape enggak?” tanya Zanjiil, karena ia takut istrinya kelelahan.


“Enggak.” jawab Kissky seraya melihat punggung bidang Zanjiil dari belakang.


“Syukurlah, karena kalau kau tak sanggup lagi, aku berniat meninggalkan mu,” Zanjiil menggoda Kissky.


Anehnya, bukannya marah, Kissky justru tersenyum. Menyebalkan! batin Kissky.


Setelah menempuh perjalanan 7 menit, keduanya pun sampai di pangkalan angkot.


Saat Kissky akan naik ke dalam kendaraan yang akan mereka tumpangi, Zanjiil pun menghentikannya.


“Kita naik mobil saja!”


“Bukannya mau naik ini?” Kissky menunjuk ke arah angkot.


“Aku sudah menyuruh Dimas datang, nah! Itu dia!” Zanjiil menunjuk ke arah mobil BWM yang akan mendatangi mereka.


Plak!


Kissky memukul bahu Zanjiil. “Kalau pak Dimas mau datang, untuk apa kita cape-cape jalan?!” pekik Kissky.


“Ku pikir kau senang, aku melakukannya demi kau loh!” ujar Zanjiil seraya menahan tawa.


“Tapi kaki ku hampir patah Rabbani!” Kissky memarahi suaminya yang terlalu usil.


“Bukannya tadi aku bertanya pada mu? Kau lelah atau tidak? Kata mu enggak, makanya ku lanjut jalan kaki!” Zanjiil melimpahkan kesalahan pada istrinya.

__ADS_1


“Jahat!” Kissky yang kalah debat malah memancungkan bibirnya.


Citt...


Mobil mewah nan elegan pun berhenti tepat hadapan mereka berdua.


“Ayo naik! Jangan banyak drama lagi!” Zanjiil pun masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, yang di susul oleh Kissky.


Setelah pasangan suami istri itu telah duduk dengan posisi ternyaman , Dimas melajukan mobil membelah jalan raya tmyang padat akan kendaraan.


“Apa kita langsung di antar pak Dimas, atau turun di stasiun lagi?” tanya Kissky.


“Langsung saja, pulangnya baru naik kreta.” jawab Zanjiil.


Zanjiil yang selalu ingin menjahili Kissky malah menuntun kepala istrinya untuk tidur di pangkuannya.


“Jadi kau enggak mau tidur?” kemudian dengan cepat Zanjiil mengembalikan Kissky ke posisi duduknya. “Biar aku saja!” tanpa izin Zanjiil meletakkan kepalanya di pangkuan Kissky.


“Zanjiil!!!” Kissky mendorong kepala besar suaminya dari pahanya, namun Zanjiil malah memeluk kedua betis milik Kissky.


“Lepas... malu di lihat pak Dimas...” bisik Kissky.


“Tenang saja, pak Dimas pasti mengerti, aku saja pernah jadi obat nyamuk untuknya!” ujar Zanjiil.


Dimas pun tersenyum malu, sebab ia pernah di temani kencan oleh Zanjiil yang masih kelas 1 SMP.


“Benarkah?” Kissky tak mengira, jika suami sombongnya mau berbaik hati pada Dimas yang hanya seorang supir.

__ADS_1


“Betul nyonya, saya dan tuan muda sudah seperti sahabat.” Sahut Dimas yang membuat Kissky mengernyitkan dahinya.


Unik juga, pada hal usia mereka bagai anak dan ayah, tapi bisa solid ya, batin Kissky.


setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, keduanya tiba di pintu besar museum. Zanjiil pun bangkit dari pangkuan Kissky.


“Kepala berapa kilo sih! Kenapa berat banget!” pekik Kissky yang merasa pegal di bagian pahanya.


“mungkin 10 kilo.” sahut Zanjiil.


“Ya Tuhan, betul-betul deh!” Kissky menggelengkan kepalanya. Karena sang suami selalu menyahuti setiap perkataannya.


“Tadikan kau yang ku buat tiduran enggak mau, sekarang malah ngeluh, perempuan banyak banget ya maunya!”


“Sudahlah, ayo turun, debat terus yang ada kita kehabisan waktu!” keduanya pun keluar dari dalam mobil.


Lalu Zanjiil berkata pada Dimas, “Pergilah kencan, aku dan Kissky akan pulang naik kereta sebelum mama dan papa pulang.” titah Zanjiil.


“Siap tuan muda!” setelah itu Kissky dan Zanjiil pun masuk ke dalam museum.


Di dalam museum banyak terdapat karya seni dari orang-orang terkenal yang di pajang.


Zanjiil yang membawa mini kameranya memotret Kissky secara diam-diam.


Cekrek!


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2