Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 64 (Khawatir)


__ADS_3

“Semoga kau baik-baik saja.” Kissky pun beranjak menuju kamarnya.


Di dalam kamar, ia tak hentinya memikirkan Zanjiil, ia pun berjalan berputar-putar tak jelas.


Ia yang melihat jam di dinding telah menunjukkan pukul 22:00 malam, berpikir kalau Zanjiil telah kembali.


“Coba ku kirim pesan padanya.” Kissky pun mengambil ponselnya yang berada di atas ranjang, selanjutnya ia pun mengirim pesan singkat pada Zanjiil.


Apa kau di kamar? ✉️ Kissky.


5 menit berselang setelah Kissy mengirim pesan pada Zanjiil, namun ia tak kunjung mendapat balasan.


“Pada hal sudah 3 jam sejak Zanjiil menemui papa dan mama, tapi kok belum kembali juga? Apa dia sudah tidur??” Kissky yang ingin memastikan memutuskan untuk masuk ke sala kamar Zanjiil melalui pintu yang ada dalam kamarnya.


Kriett...


Dengan perlahan Kissky membuka pintu, lalu ia dengan hati-hati masuk ke kamar Zanjiil.


“Aku hanya ingin memastikan, dia sudah disini apa belum, kalau memang sudah, aku akan merasa tenang.” Kissky pun menyusuri kamar milik suaminya tanpa izin.


Tapi saat ia telah sampai di ranjang, ia tak menemukan Zanjiil ada disana.


“Apa dia di kamar mandi?” Kissky yang penasaran beranjak menuju kamar mandi.


Tok tok tok!

__ADS_1


“Zanjiil, apa kau di dalam?”


Tok tok tok!!


“Maaf aku masuk tanpa izin, apa boleh aku memakai kamar mandi mu sebentar?”


Sebanyak apapun Kissky mengetuk, Zanjiil yang ia cari tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi.


Berarti dia masih ngobrol dengan papa dan mama, batin Kissky.


“Hufff...” Karena sudah terlanjur dalam kamar suaminya, Kissky pun menyempatkan untuk melihat-lihat isi kamar suaminya, saat ia melewati sofa yang ada di dekat jendela, ia tak sengaja melihat photo pernikahannya bersama Zanjiil yang di letakkan di atas meja.


“Aku tak menyangka, kalau dia melakukan ini, sedang aku tak menyimpan satu pun photo pernikahan kami.” Kissky yang meragu akan perasaannya tertunduk lesu, ia pun beranjak menuju kamarnya kembali.


_______________________________________


Batin Zanjiil sungguh tak terima, saat ia di bandingan dengan anak selingkuhan ayahnya.


Apa-apa selalu Joe, batin Zanjiil.


Pinkan yang duduk di sebelah Basuki merasa terhina, saat anak mantan madunya di banggakan oleh suaminya.


“Papa, hati-hati kalau bicara! Mama enggak suka, setiap kali menasehati Zanjiil, selalu saja bawa-bawa anak pelacurr itu!” Pinkan yang berontak membuat Basuki naik pitam.


“Itu kenyataan ma! Dan jangan sekali-kali mengatakan pelacurr padanya, karena dulu aku menikahinya secara resmi!”

__ADS_1


“Oh... jadi papa masih ada rasa pada pelacurr itu?!”


“Cukup, jangan kau bahas tentang dia, ini tidak ada hubungannya dengannya!” ucap Basuki.


“Kalau kau tak suka, jangan sebut nama anaknya di hadapan ku! Anak tiri kau sanjung-sanjung, anak kandung kau anggap sebelah mata!” emosi Pinkan meletup-letup bagai kompor, Basuki yang takut khilaf memilih keluar dari ruang kerjanya.


“Pokoknya ingat Jill, setelah masalah ini beres, jangan ada masalah lain lagi, kalau sampai kau berurusan dengan polisi, kau akan tahu akibatnya!” setelah memberi ancaman pada putranya, Basuki meninggalkan ruangan tersebut.


Kemudian Pinkan menatap sinis anaknya, “Apa mama bilang! Jadi anak yang baik Jiil... kau selalu saja buat mama emosi, kalau sampai papa mu memberikan hak warisnya pada Joe, kau bisa apa nanti? Mama enggak rela, kalau bisnis yang mama ikut kelola di berikan padanya! Kau juga tahukan, anak setan itu dan kau lagi di nilai, meski pun nenek mu yang di kampung membela mu, tapi tetap saja, keputusan papa mata keranjang mu yang paling mutlak! Huh! Bikin emosi!” Pinkan yang masih di kuasai amarah keluar ruangan begitu saja.


Zanjiil yang di marahi selama berjam-jam masih menundukkan kepalanya. Hatinya sangat hancur setiap kali orang tuanya memberi nasehat, selalu di sertai dengan kata-kata kasar yang menusuk telinga.


“Kenapa mereka tak pernah melihat apa yang ku lakukan? Sudah jarang memuji, malah selalu mencaci, sejak kecil aku selalu mengikuti mau mereka, sampai soal jodoh pun aku masih terima. Tapi kenapa? Bersenang-senang dengan apa yang menjadi pilihan ku tak boleh? Kalau bukan karena memikirkan nasib mama dan Alula, aku pasti sudah meninggalkan semuanya, aku tak perduli dengan warisan yang membuat ku tercekik setiap saat.” Zanjiil bangkit dari sofa, dengan langkah tak berdaya ia menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Kriieett...


Ia yang masuk ke dalam kamar melihat kalau pintu yang menghubungkannya dengan kamar Kissky terbuka separuh.


“Apa dia disini tadi?” Zanjiil yang butuh teman malam itu pun menuju kamar Kissky.


Ia pun memasuki kamar istrinya. Lalu ia mendapati jika istrinya telah terlelap di atas ranjang tanpa memakai selimut.


Lalu Zanjiil yang perhatian menarik selimut putih selembut sutra yang ada di pinggir ranjang hingga menutupi dada istrinya.


...Bersambung......

__ADS_1



__ADS_2