
Kemudian Kissky pun menceritakan apa yang telah Zanjiil lakukan padanya secara detail.
📲 “Ma, kalau mama enggak mau menjemput ku, aku akan pulang sendiri!” Kissky.
📲 “Baiklah, mama dan papa akan menjemput mu, jangan pulang diam-diam, itu enggak baik, jangan sampai kesalahan datang dari pihak kita,” July.
📲 “Iya ma,” Kissky.
📲 “Sudah jangan menangis lagi, hapus air mata mu nak, mama akan bicara sama papa, kalau papa sudah pulang kerja, kau yang sabar ya sayang, kunci kamar mu rapat-rapat, oke...” July.
📲 “Iya ma,” Kissky.
📲 “Baiklah, mama tutup ya sayang, Assalamu'alaikum,” July.
📲 “Walaikumsalam ma,” Kissky.
Setelah sambungan telepon terputus, Kissky yang ingin melindungi diri, berniat untuk menggeser lemari hiasnya ke pintu penghubung kamarnya dan Zanjiil.
Namun saat ia berbalik, “Akhhh!!" ia tersentak bukan main, sebab Zanjiil telah berdiri tegap di hadapannya seraya bersedekap.
Ia pun menelan salivanya bulat-bulat, ia tak tahu harus berkata apa pada Zanjiil yang terlihat marah kembali.
“Apa yang kau lakukan?” pertanyaan Zanjiil membuat Kissky menundukkan kepalanya.
__ADS_1
“Buka mulut mu, pada hal beberapa detik yang lalu kau lancar berbicara,” ucap Zanjiil.
Kissky yang tak nyaman akan kehadiran Zanjiil yang begitu mendominasi ya mulai gelisah.
Bagaiman ini, apa dia akan menggila lagi? batin Kissky.
Perlahan Zanjiil melangkah, hingga hanya menyisakan jarak 4 senti, dari Kissky yang duduk di pinggir ranjang.
“Kenapa kau tetap bungkam?” Zanjiil memegang dagu Kissky, hingga wajah gadis itu mendongak.
“Pada hal aku sudah minta maaf pada mu di bawah, tapi kau seenaknya mengadu pada orang tua mu, menangis-nangis dan menceritakan semua yang terjadi disini, apa kau lupa dengan petuah yang mereka sampaikan pada kita? Apapun masalahnya, simpan rapat, jangan ceritakan pada mereka para orang tua, apa kau lupa?” Kissky tak menjawab apapun yang di katakan Zanjiil.
“Kissky, jangan berpikir untuk pergi dari rumah ini, apa lagi bercerai dariku, sempat kau kabur diam-diam, ku potong kaki mu! Jangan karena ulah mu, aku gagal menjadi ahli waris!” Zanjiil melepas kasar dagu istrinya, hingga Kissky kembali menitihkan air mata, ia yang tak ingin melihat Zanjiil merebahkan tubuhnya, dan membenamkan wajahnya ke ranjang.
Apa yang ku lakukan? Tak seharusnya aku melampiaskan kemarahan ku padanya, pada hal aku yang salah, bukan dia, batinnya. Sebelum pergi, Zanjiil menatap nanar Kissky yang tubuhnya bergetar karena menangis.
Zanjiil yang tak ingin melakukan kesalahan lagi, beranjak menuju kamarnya, melalui pintu dalam kamar mereka.
Ia yang telah mengunci pintu kembali duduk di sofa yang ada dalam kamarnya.
“Kau enggak tahu Ky, kalau aku tak bisa seperti yang papa mau, maka harta warisan milik ku akan jatuh ke tangan Joe dan adiknya, pada hal yang membangun perusahaan ini adalah nenek moyang ku, ibu ku juga berperan banyak dalam memperjuangkan bisnis keluarga Rabbani, hingga sesukses sekarang. Aku enggak ikhlas Ky, kalau sampai anak-anak dari pelacu* itu mendapatkan apa yang bukan milik mereka, cukup uang bulanan saja yang menjadi hak mereka sampai mereka tua.” Zanjiil meraih poto pernikahannya dengan Kissky yang ada di meja sebelah sofa yang ia duduki.
“Jadilah istri yang baik Ky, jangan buat aku marah tetaplah di sisi ku, karena bagaimana pun, hanya kau yang akan menemani ku sampai tua.” Zanjiil yang telah sadar betul kalau ia telah menyukai Kissky tak ingin melepas istrinya itu.
__ADS_1
Kalau besok Luna datang ke sekolah, aku akan memutuskannya, aku ingin menjadi suami yang setia untuk Kissky, batin Zanjiil.
_______________________________________
Ahmad yang telah selesai mandi, duduk di atas ranjang bersama istrinya.
Kemudian July pun mulai bercerita pada suaminya, “Pa, kita harus mengambil Kissky kembali dari keluarga Rabbani.”
“Memangnya kenapa ma?” tanya Ahmad dengan perasaan bingung.
“Zanjiil hampir saja membunuh Kissky, dia dengan berani mau menjatuhkan Kissky dari tangga, dan juga menyayat tangan Kissky dengan pisau buah, mama takut pa, kalau putri kita mati beneran, pokoknya besok, kita harus menjemput Kissky, kasihan dia, dia menangis tanpa henti karena ketakutan pada Zanjiil,” terang July.
”Ck!” Ahmad berdecak, kemudian ia menatap wajah istrinya.
“Ma, jangan lakukan itu, kecuali keluarga Rabbani sendiri yang mengantarnya pulang.”
“Papa! Nyawa Kissky dalam bahaya, apa papa enggak kasihan pada anak sendiri?!” July tak percaya, suaminya bersikap santai.
“Papa kasihan dan khawatir juga, sama seperti mama, tapi mama tahu sendiri, Kissky bukan milik kita lagi, dia istri dan menantu orang lain, kita tak boleh asal kesana, lagi pula kita hutang budi banyak pada keluarga itu, berkat mereka, perusahaan kita masih berdiri sampai sekarang, mama juga tahukan, karena kerja sama dari mereka, kita masih bisa bertahan sampai sekarang?”
...Bersambung......
__ADS_1