Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 61 (Telepon)


__ADS_3

“Apa kau bertemu lagi dengan Luna Minggu kemarin?” tanya Zanjiil.


“Nanti ku telepon lagi ya.” Lula menutup panggilan teleponnya sebelum menjawab pertanyaan abangnya. “Aku hanya sekali bertemu dia, itu juga waktu dengan mu, memangnya kenapa?”


“Luna, sejak hari itu enggak pulang ke rumah sampai hari ini, dia juga enggak datang ke sekolah,” terang Zanjiil.


“Bunuh diri kali, dia putus asa, karena enggak bisa terima kenyataan,” Lula mengatakan pendapatnya.


“Lula, kalau bicara jangan sembarangan!” Zanjiil tak suka akan pernyataan adiknya.


“Santai bang, itukan baru pendapat ku saja, cewek kurang iman dan kepercayaan diri seperti dia akan nekat melakukan sesuatu yang ekstrim!” Lula yang ingin pergi ke kamarnya, bangkit dari duduknya.


“Ku pikir kau tahu sesuatu.” ucap Zanjiil.


“Enggak tuh!” sahut Luna.


“Soalnya La, kami sempat bertengkar, dan dia mengancam akan datang ke rumah ini, aku mengejarnya, tapi karena ban mobil ku kempes, aku tak bisa menyusulnya. Sesampainya aku ke rumah, ternyata dia tak ada disini,” terang Zanjiil.


“Sudah tanya Art dan satpam?” tanya Lula.


“Belum, karena ku pikir dia memang tak kesini,” ujar Zanjiil.


“Astaga... kalau di pikir-pikir berani juga kau ya membawa pacar mu ke rumah yang di tinggali istri dan keluarga mu, um um...” ucap Lula seraya bersedekap.


“Dia terus meminta,” terang Zanjiil.


“Makanya bang, kalau mau pacaran lihat-lihat juga perempuannya seperti apa, kalau ginikan jadi repot, kau pasti akan terbawa-bawa, apa lagi kau pacarnya. Coba hubungi pak Rico, agar dia mencari keberadaan pacar mu yang rempong itu!” meski Lula selalu bicara ketus pada Zanjiil, namun ia tak bisa melihat jika abang satu-satunya kesusahan.


“Baiklah, terimakasih atas sarannya.” ucap Zanjiil, kemudian ia pun beranjak ke kamarnya.


Setelah Zanjiil pergi, Lula geleng-geleng kepala, “Satu wanita saja bikin kepala mu pusing, bisa-bisanya kau punya dua, dasar laki-laki! Tapi... kasihan juga dia kalau terseret ke dalam kasus Luna, coba aku selidiki sendiri.” Lula yang bercita-cita menjadi seorang detektif, menjadikan kasus kehilangan Luna sebagai pencarian pertamanya.


Zanjiil yang ingin ke kamarnya malah berpikir untuk bertanya terlebih dahulu pada para Art dan satpam tentang Luna.

__ADS_1


“Sinta.”


“Ya tuan muda?” sahut Sinta.


“Kau pernah melihat wanita ini datang kemari?” Zanjiil menunjukkan photo Luna pada Sinta.


“Tidak tuan muda,” jawabnya.


“Bernarkah?” entah mengapa hati Zanjiil berkata kalau Sinta berbohong.


“Jujur saja Sin, aku enggak akan marah pada mu.” Zanjiil mencoba membujuk Sinta.


“Benar tuan muda, saya tidak pernah melihat nona itu.” ucap Sinta dengan sangat menyakinkan.


“Sinta, kalau kau ketahuan berbohong, tahu sendirikan akibatnya seperti apa?” Zanjiil mengancam Sinta agar mau berkata jujur padanya.


“Maaf tuan, tapi saya benar-benar tak pernah melihatnya.” karena jawaban Sinta tetap sama, Zanjiil pun menyimpan kembali handphonenya.


Setelah itu Zanjiil menuju dapur, untuk menemui Winda.


“Selamat malam tuan muda, apa tuan ingin makan sekarang?” tanya Winda.


“Iya, tolong ambilkan aku nasi,” titah Zanjiil.


Pada saat Wonda mengerjakan perintah Zanjiil, Zanjiil pun mulai bertanya pada Winda.


“Winda.”


“Iya tuan muda?”


“Kau masih ingat dengan wanita yang ku bawa kemari beberapa hari yang lalu?” Winda yang sempat melayani kekasih Zanjiil saat berkunjung pun mengingat dengan mudah, yang di maksud oleh majikannya.


“Nona Luna?” ucapnya.

__ADS_1


“Betul, apa Minggu kemarin dia datang kesini? Sebab kami sempat bertengkar waktu itu, lalu dia berkata akan datang kemari,” terang Zanjiil.


“Maaf tuan muda, saya tidak melihatnya datang kemari.” Winda pun meletakkan piring berisi nasi di hadapan Zanjiil, “Silahkan tuan.”


“Benarkah? Soalnya dia menghilang, itu terakhir kali dia pulang ke rumahnya dan bertemu dengan ku, kau taenggakk bohong pada ku kan Win?”


“Tidak tuan.” jawab Winda dengan singkat.


Lalu Zanjiil pun membuka tudung nasi untuk mengambil lauk.


“Kau masak dendeng Win hari ini? Kok tumben?” Zanjiil bertanya, karena tak biasanya Winda memasak menu tersebut.


“Iya tuan, karena nyonya besar yang meminta,” terang Winda.


“Oh ya...” Zanjiil pun mulai menyantap masakan buatan Art andalan keluarganya.


“Um... enak, Win...”


“Iya tuan muda?"


“Oh ya, kabari seluruh Art dan satpam, kalau melihat Luna datang ke rumah ini, segera beritahu aku,” ucap Zanjiil.


“Baik tuan muda.” Winda yang melihat kehadiran Kissky yang berdiri di depan pintu pun menyapanya.


“Selamat malam nyonya!” Winda memberi hormat pada Kissky.


Lalu Zanjiil menoleh ke arah belakangnya. “Kissky, sejak kapan kau disitu?”


“Dari tadi.” sahut Kissky seraya berjalan menuju meja makan. Kemudian ia pun duduk di hadapan Zanjiil.


“Jadi kau mendengar percakapan kami?” tanya Zanjiil.


“Ya, aku dengar semuanya,” jawab Kissky seraya menelan salivanya.

__ADS_1


Termasuk pertemuan mu dengan Luna hari itu, karena itukan, kita tak jadi pergi ke pulau? batin Kissky.


...Bersambung......


__ADS_2