
Lula yang terampil dan banyak tahu berbagai hal dalam hidup, menjadikannya lebih unggul dari anak-anak seusianya.
Setelah keduanya duduk saling berhadapan, Lula pun bertanya pada Rico.
“Coba jelaskan, apa yang ingin bapak sampaikan.” ucap Lula, yang tak sabar mengetahui hasil penyelidikan Rico.
“Saya sudah periksa cctv lobi mall, dan parkiran mall.”
“Lalu?” Lula semakin di buat penasaran.
“Ini!” Rico memberi salinan video cctv pada Lula. Lalu Rico juga memberi photo-photo mobil Luna saat melintasi jalan yang memiliki cctv. Hingga di photo terakhir, saat mobil Luna tertangkap oleh cctv yang di letakkan Lula sendiri pada sebuah pohon yang mengarah ke rumahnya tanpa seorang pun yang tahu.
“Sejak Luna masuk ke dalam, hingga kini ia tak keluar lagi!l Saat nona meminta saya untuk memeriksa rekaman cctv, itu membuat saya memikirkan banyak hal,” terang Rico.
Lula menganggukkan kepalanya, jangan beritahu siapapun, terutama Zanjiil. Yang ada dalam rumah, biar aku yang menyelidikinya.” Lula sudah dapat menebak apa yang terjadi, meski begitu, ia masih ingin memastikan secara langsung.
“Ini untuk mu pak.” Lula mengirim upah dengan nominal yang tak biasa pada Rico.
“Banyak sekali non, pada hal saya tak membantu banyak!” ucap Rico dengan perasaan senang, sebab uang yang di beri oleh Lula cukup untuk membeli sebuah mobil Portuner Sport.
“Itu sekalian untuk uang tutup mulut, ingat pak Rico, kalau sampai informasi ini bocor pada orang lain, aku takkan segan-segan untuk memotong lidah bapak. Dan jangan lupa, bereskan semua bukti!” Lula yang ingin melindungi keluarganya melakukan berbagai macam hal, meski dengan cara kotor.
“Jangan khawatir non, bukankah kita sudah bekerja sama selama bertahun-tahun?” Rico menyakinkan Lula akan kesetiaannya.
“Baiklah!” Lula kembali menjabat tangan Rico, sebelum detektif cerdik dan cekatan itu meninggalkan kamarnya.
Setelah detektif itu pergi, Lula melihat video yang di berikan oleh Rico padanya.
“Ck! Aku harus tahu, Luna di sembunyikan dimana.” Lula begitu tak sabar menunggu akhir pekan.
Meski ia ingin pulang saat itu, namun ia tak bisa melakukannya, sebab Luls sudah pulang ke rumah 2 kali dalam seminggu itu.
“Andaikan laptop ku tak tinggal di kamar, pasti aku langsung tahu apa yang terjadi sebenarnya.”
Posisi kamar Lula yang berada tepat di sebelah ruang tamu, membuat cctv yang ia letakkan di antara fentilasi kusen kamarnya merekam banyak hal yang terjadi di ruang tamu yang menyambut siapa saja yang datang ke rumahnya.
Tentunya yang Lula lakukan tak di ketahui oleh keluarganya.
_____________________________________
“Hatciiim, kok malah jadi flu pilek sih!” Kissky yang baru selesai mengganti baju berniat untuk meminum obat.
Karena ia tak tahu penyimpanan obat dimana, Kissky pun turun ke lantai satu untuk mencari Winda.
Ia yang tak menemukan Winda di dapur mencari lebih lanjut ke kamar para Art.
Fi yang telah memasuki area kamar Art menemukan seorang wanita yang memakai pakaian you can see dengan posisi membelakanginya. Tubuh mulus wanita itu pun di penuhi dengan tato dengan berbagai gambar yang menurut Kissky sendiri cukup tak enak di pandang mata.
Apa mama dan papa tidak menyelidiki lebih detail saat mewawancarai Art ini? batin Kissky.
__ADS_1
Ia yang penasaran dengan wanita bertato itu pun mendekatinya.
“Permisi, kamar kak Winda yang mana ya?” sontak Art itu berbalik, seraya meraih bajunya yang ada di gantungan dinding.
“Maaf nyonya!” wanita bertato yang baru saja Kissky lihat ternyata adalah Winda. Kissky juga melihat di lengan tangan kanan Winda ada tato bergambar rantai.
“Kak Winda...” Kissky terperangah, ia benar-benar tak mengira Winda pecinta tato.
“Ada yang bisa saya bantu nyonya?” tanya Winda penuh hormat.
“Aku cuma mau tanya, kotak obat di simpan dimana kak?” Meski wajah Kissky terlihat tenang, namun di dalam hatinya timbul banyak pertanyaan tentang latar belakang Winda di masa lalu.
Setelah Winda selesai memakai baju tangan panjangnya, ia pun mengantar Kissky menuju apotik berukuran 3x3 meter milik keluarga Rabbani yang terletak di sisi selatan rumah besar itu.
Ya Tuhan, aku enggak tahu kalau rumah ini mempunyai apotik pribadi, batin Kissky.
Ia yang tak memiliki kaki panjang, tak pernah mengurusi apa yang ada dalam rumah mertuanya.
Ia hanya melangkahkan kakinya dari ruang makan, kamar dan ruang tamu.
“Mau obat apa nyah?” tanya Winda seraya merapikan ujung tangan bajunya yang berlipat. Kissky pun melihat apa yang di lakukan Winda.
“Obat flu pilek.” ucap Kissky.
Oh, karena itu dia selalu pakai tangan panjang? batin Kissky.
Setelah mengatakan apa yang di butuhkan oleh Kissky, Winda pun mengambil obat tersebut dengan cepat, seolah telah hapal isi apotik itu.
“Terimakasih banyak kak,” ucap Kissky.
“Apa masih ada yang nyonya butuhkan?” tanya Winda.
“Tidak ada kak, terimakasih banyak atas waktunya.” Kissky yang sudah mendapatkan apa yang ia mau, kembali menuju kamarnya.
______________________________________
Ting! Setelah pintu lift terbuka, Kissky keluar dari dalam lift, ia yang masih memikirkan Winda tanpa sengaja menabrak Zanjiil yang akan menuju lift.
Bruk!
Zanjiil yang cekatan pun memeluk tubuh Kissky.
“Maaf, aku tak sengaja.” ucap Kissky tanpa memandang wajah Zanjiil.
“Lain kali perhatikan jalan mu, untung saja kita tak di dekat tangga, kalau sampai jatuh bisa repot kan?” ucap Zanjiil.
Kissky yang masih terbayang-bayang akan ciuman pertama mereka 1 jam yang lalu merasa janggal bertemu Zanjiil.
“Terimakasih.” Kissky pun melepas tubuhnya dari Zanjiil.
__ADS_1
“Apa kau mau langsung tidur?” tanya Zanjiil, sebab ia masih ingin mengobrol dengan Kissky.
“Iya, karena aku lelah.”
“Oh, jangan lupa, cuci wajah, kaki dan gosok gigi!” Zanjiil yang perhatian selalu tak lupa mengingatkan hal rutin yang ia lakukan sebelum tidur pada istrinya.
“Baiklah, kau juga jangan lupa.” setelah itu, Kissky menuju kamarnya.
Keesokan harinya, saat di dalam mobil, Kissky yang berangkat bersama Zanjiil berniat untuk menanyakan perihal Winda.
Siapa tahu saja, keluarga Zanjiil tak tahu soal tato yang ada di tubuh kak Winda, batin Kissky.
Meski merasa janggal bicara dengan lelaki yang telah merebut ciuman pertamanya, namun Kissky yang penasaran akan Winda pun menepis semua rasa malunya jauh-jauh.
“Jiil...” Kissky memanggil nama suaminya.
“Iya Ky?” sahut Zanjiil.
“Kau tahu enggak, mengenai kak Winda?” ucapnya dengan hati-hati.
“Memangnya kenapa dengan dia?” tanya Zanjiil.
Oh, berarti mereka tak tahu, batin Kissky.
“Kau tahu tidak, kalau kak Winda itu punya tato banyak di seluruh tubuhnya?”
Zanjiil pun terdiam sejenak dengan pemberitahuan pernytaan, “Memangnya ada yang salah dengan itu?” tanya Zanjiil.
“Bukannya aneh ya? Seorang Art memiliki banyak tato? Apa waktu dia melamar kerja tak di selidiki sampai kesana? Nanti kalau ternyata dia seorang kriminal bagaimana?” bisik Kissky dengan hati-hati agar tak di dengar oleh Dimas.
“Mana mungkin, kau mikir apa sih Ky?” Zanjiil tertawa kecil menanggapi yang istrinya katakan.
Ya Tuhan, positif thinking banget sih dia, enggak khawatir sama sekali, batin Kissky.
“Semoga saja kau benar.” ucap Kissky seraya membenarkan duduknya kembali.
Kok bisa, si Winda seceroboh itu? batin Zanjiil.
Sesampainya mereka ke sekolah, Gibran yang melihat Kissky keluar dari dalam mobil yang sama dengan Zanjiil merasa sedih.
“Apa benar mereka sudah pacaran?” ia yang merasa cemburu tak tahu harus berbuat apa, antara maju atau mundur teratur.
Gibran yang gundah pun berjalan menuju kelas, saat ia tak fokus, tiba-tiba Liza datang dengan mengelus tengkuknya.
“Lagi mikirin apa sih Bran? Aku kan disini?!” Liza yang perhatian mencoba menghibur Gibran yang terlihat banyak masalah di mata Liza.
...Bersambung......
__ADS_1