Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 160 (Mengerjai Liza)


__ADS_3

“Mau bicara apa?” tanya Eric.


Kemudian Dita menundukkan kepalanya, ia pun menjadi malu-malu untuk melihat wajah Eric.


Arsy yang menyaksikan keduanya menelan salivanya.


Baru kali itu ia merasa cemburu melihat Eric bercengkrama dengan wanita lain.


“Saya mau kasih ini pak.” Dita pun memberikan tas belanja kecil pada bosnya.


“Apa ini?” tanya Eric seraya membuka isi tas pemberian Dita.


“Bukanya nanti saja pak.” Dita tersenyum kaku.


“Baiklah, terimakasih banyak ya.” lalu Eric meletakkan hadiah pemberian Dita di meja kerjanya.


“Kalau begitu saya keluar sebentar pak.” Dita yang grogi tak mampu melihat wajah Eric.


Setelah tinggal Arsy dan Eric dalam ruangan itu, Eric pun melihat ke arah Istrinya yang bersedekap dengan sorot mata tajam.


“Kau kerasukan ya?” Eric tahu jika istrinya merasa cemburu.


“Benar-benar enggak punya otak!” umpat Arsy.


“Kau kenapa sih? Biasa saja dong, kalau ada masalah bilang, jangan ngoceh tak jelas!” ucap Eric seraya membuka makanan yang ia beli.


“Cih! Semoga kalian berjodoh!” Arsy memutar mata malas dan memilih keluar dari ruang kerja suaminya.


“Mau kemana?” tanya Eric.


“Cari makan di luar, biar kalian lebih leluasa ngomongnya!” Arsy yang cemburu akut tak tahan melihat wajah suaminya.


“Arsy! Jangan pergi!” meski Eric telah menghentikan istrinya, namun Arsy yang terlanjur marah tak mau mendengar suaminya.


Ia pun terus berialan hingga keluar dari toko. Sementara Eric yang masih di ruangan dengan santai melanjutkan makannya.


“Diakan tak tahu alamat rumah, Xixixi! Uhuk uhuk uhuk!” seketika ia batuk saat mengingat istrinya kapan saja bisa kabur.


“Dasar Arsy! Paling bisa buat aku emosi.” kemudian Eric menyudahi makannya. Ia pun segera menyusul istrinya.


Arsy yang berada di jejeran pertokoan merasa bingung harus kemana sebab ia belum tahu daerah itu, dan yang paling penting, Arsy tak punya handphone atau pun uang.


“Aduh! Sial banget jadinya!” Arsy yang ingin kembali merasa ragu. Karena ia sudah jual mahal duluan.


Belum lagi Eric akan meledeknya habis-habisan, jika ia kembali tanpa di bujuk.


“Kapan dewasanya sih dia!” gumam Arsy.


“Kau yang kapan Dewasa. Pakai kabur-kabur segala, kalau hilang gimana?” Eric menyentil kening istrinya.


“Hum... kaukan butuh waktu dengan dia untuk bicara dari hati ke hati. ” Arsy memutar mata malas.

__ADS_1


“Akukan selalu bersamanya, bahkan sudah bertahun-tahun, aku tahu kau takut kehilangan ku, tapi enggak usah berlebihan kan bisa, kalau aku di taksir wanita itu wajar, karena kau sendiri yang membuka pintunya.”


“Hiih!!” Plok! Arsy menyentil hidung Eric.


“Arsy! Sakit!” pekik Eric.


“Bicara lagi ku sunat laser terong mu!” setelah itu Arsy menyerahkan tangannya.


“Apa?” ucap Eric.


“Berikan aku uang, aku butuh untuk beli hanphone dan ongkos pulang ke rumah,” ujar Arsy.


“Enggak bisa! Enak banget kau pulang duluan, sedang bos masih kerja!” Eric tak mau memberikan permintaan Arsy.


“Ya wajarlah! Xixixi... Aku kan bos utamanya, betul apa betul?” Arsy tertawa cekikikan.


Kemudian Eric mencubit wajah istrinya. “Iya bu, saya juga sependapat.”


Kemudian Eric membawa kembali istrinya ke ruang kerjanya.


🏵️


Lula yang sedang berada di kantor di hubungi oleh Faiq.


“Ih! Ngapain sih dia telepon aku terus? Kalau bukan karena mama yang larang, sudah ku buat sushi kau!” Lula merasa geram dengan sikap Faiq yang terus mengejarnya.


Karena Faiq terus memanggil kontaknya, terpaksa ia mengangkat panggilan dari mantan gurunya itu.


Halo! Jangan ganggu dong pak! Saya lagi sibuk. 📲 Lula.


Faiq yang kini jadi dosen, malah bertemu kembali dengan Lula.


Faiq yang ingin membuat Lula susah malah sengaja menjadikan dirinya jadi dosen pembimbing skripsi Lula.


Saya enggak mau bertemu, pasti bapak cuma mau bilang revisi, pada hal aku sudah 15 kali revisi loh pak! Jangan bikin kesal deh! 📲 Lula.


Lula yang kesal melempar sendok yang ada di tangannya dengan sembarang.


Kalau kau tak datang, maka skripsi mu tidak akan akan ku buat lolos sampai kau jadi mahasiswa abadi. 📲 Faiq.


Aneh kau pak! Pada hal tak ada yang salah dengan tulisan ku! 📲 Lula.


Lula tahu jika dosennya hanya ingin membuatnya marah.


Tanpa ia tahu, alasan Faiq sebenarnya adalah karena ia ingin lebih lama bersama Lula. sebab dirinya yang terlalu mencari tahu tentang Lula selama ini malah tak sengaja jatuh cinta.


Pokoknya begitu, temui aku di kafe biasa siang ini. 📲 Faiq.


Baiklah! Aku datang! 📲 Lula.


Setelah sambungan telepon terputus Lula *******-***** meja yang ada di hadapannya, pasalnya ia yang jenius tak di akui kepintarannya oleh Faiq yang IQ nya jauh di atas Lula.

__ADS_1


“Mulai dari guru sampe jadi dosen! Itu orang enggak pernah waras, sekarang apa maksudnya, menyuruh ku bertemu dia! Kalau bukan karena mama, aku sudah malas melanjutkan skripsi menyebalkan ini, entah kenapa, mama suka sekali padanya.”


Setelah itu Lula bangkit dari duduknya. Ia yang akan terlambat ke tempat yang telah di janjikan memutuskan untuk berangkat saat itu juga.


🏵️


Liza yang sedang mengganti popok si anaknya mendapat pesan baru dari nomor tak di kenal.


Hei, suami mu adalah suami orang. ✉️ ...


Liza yang membaca pesan itu mengernyitkan dahinya.


Siapa kau?! ✉️ Liza.


Meski begitu ia melayani nomor yang tidak di ketahui siapa pemiliknya itu.


Aku adalah orang. ✉️ Arsy.


Kemudian Liza mendial nomor misterius tersebut.


Jawab yang jelas jelek! Jangan jadi benalu! 📲 Liza.


Kalau mau tahu, datanglah ke Bandung bersama suami mu. 📲 Arsy.


Arsy pun mengatakan alamat rumah suaminya.


Kau siapa? Apa kau pacarnya sayang ku? 📲 Liza.


Kalau mau tahu, bawa suami mu ke alamat yang tadi ku katakan. 📲 Arsy.


Tut... tut... tut...


Arsy mematikan teleponnya dengan cepat, dan hal itu membuat Liza panas dingin.


“Perempuan mana yang telah membuat mu oleng sayang!” Liza yang cemburu menahan tangisnya.


Ia pun merasa resah dan gelisah karena ulah Arsy yang sedang mengerjainya.


🏵️


Arsy yang tertawa cekikikan membuat Eric penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya dengan istrinya.


“Kau kenapa Ky, eh Arsy maksudnya, ada hal bagus apa? Kenapa kau tertawa terus?” tanya Eric.


“Ini, aku tadi mengerjai Liza, ku katakan Gibran itu suami orang, sepertinya dia percaya, terbukti dia marah-marah pada ku.” ucap Arsy dengan menahan perutnya yang sakit karena tertawa.


“Jangan begitu Sy! Nanti karena mu dia dan Gibran cerai lagi, jangan bercanda dengan orang yang sudah berumah tangga, memangnya kalau mereka bertengkar kau senang?” pertanyaan Eric membuat Arsy menyesal.


“Iya-ya, kau benar juga , harusnya aku tak bilang begitu.” Arsy merasa resah dengan hal yang ia lakukan.


“Sudah, telepon dia lagi, kau jangan buat huru-hara Arsy.” Eric tak suka dengan candaan istrinya.

__ADS_1


“Baiklah.” sahut Arsy.


...Bersambung......


__ADS_2