
“Kau!” kemudian Arsy tertawa lepas pada Devan yang baru ia kenal.
“Berarti mulai saat ini kita pacaran dong?” Devan memberikan jari kelingkingnya pada Arsy.
“Apa ini?” wajah Arsy nampak bingung.
“Sebagai janji, kalau kita akan terus bersama.” Devan tersenyum tulus pada pada barunya.
“Apa ini perlu?” Arsy merasa aneh, sebab mereka baru kenal, tapi sudah harus mengikat janji.
“Tentu.”
Arsy yang tak menganggap serius perkataan Devan, hanya menerima janji kelingking itu.
Geb!
“Baiklah, mari bersama, sampai kita bosan.” andai tak ada Devan yang mengajaknya pacaran saat itu, Arsy tak pernah kepikiran untuk mencari pria lain sebagai sandaran hatinya.
Sejak saat itu, Arsy dan Devan selalu bersama.
“Apa aku boleh bermain ke rumah mu?” Devan ingin mengenal keluarga kekasihnya lebih dekat.
“Aku sebatang kara?” ucap Arsy.
“Apa? Maksud mu yatim piatu?” Devan tak percaya dengan apa yang di katakan kekasihnya.
“Iya, apa kau tak suka dengan orang seperti ku?” Arsy berpikir kalau kekasihnya tidak akan menyukainya.
“Tidak.” kemudian Devan duduk di sebelah Arsy. “Pasti kau merasa kesepian.”
“Aku sudah biasa.” Arsy tertawa tipis.
“Apa kau tak punya sanak saudara? Masa hanya seorang diri?” ucap Devan, karena menurutnya itu tidak masuk akal.
“Sebenarnya, aku tak kenal siapa ayah dan ibu ku, aku di buang waktu masih bayi, dan aku besar di panti asuhan, dan aku di adopsi, habis itu, aku hidup mandiri, dan aku kuliah sambil kerja. Bagaimana? Kau masih ingin dengan ku?”
Arsy tak berharap banyak pada Devan, andai Devan tak menerimanya, Arsy bisa mengerti, dan menerima dengan lapang dada.
“Tidak, hatiku takkan pernah mubah, tenang, sekarang ada aku sebagai keluarga mu, besokkan minggu, aku akan menjemput mu. Kau akan ku kenalkan pada orang tua dan adik-adik ku.” Devan yang baik hati menjadikan sang kekasih sebagai keluarganya.
“Baiklah.” berkat ketulusan Devan, Arsy membuka hatinya pada sang kekasih.
Ku yakin, Zanjiil juga sudah bahagia, batin Arsy.
__ADS_1
Keesokan harinya, Arsy berkunjung ke rumah Devan.
Ketika ia melihat tempat tinggal suaminya, hatinya merasa tersayat, pasalnya sang kekasih hanya memiliki rumah sederhana, yang memiliki kamar satu.
Devan juga memiliki 3 adik perempuan yang parasnya cantik dan lembut.
Ayah dan ibu Devan menyambut Arsy dengan baik.
“Silahkan masuk nak. Jadi kau pacarnya Devan??” ucap Asrita, ibunda Devan.
“Iya bu.” jawab Arsy dengan malu-malu, sebab itu adalah pertemuan pertamanya dengan orang tua Devan.
“Kau cantik sekali, apa kau serius suka dengan anak kami? Kau lihat sendiri kan nak, rumah kami kecil, kami juga hanya bertani, nanti kalau kau jadi sama Devan, malah tak tahan kalau di bawa ke sawah.” Arjuna mengatakan situasi masa depan yang akan di hadapi Arsy.
“Kalau harus ke sawah, saya akan ke sawah pak, tapi... sebisanya aku dan Devan akan mencari kerja yang lebih baik, agar bisa membantu ibu dan bapak.” ucap Arsy apa adanya.
Ia yang pernah hidup susah tak lupa dengan penderitaan masa kecilnya.
“Pikirkan baik-baik nak, karena dunia pacaran tak seindah dunia rumah tangga.” Arjuna tetap tak ingin jika Arsy menyesal menikahi putranya suatu saat.
“Iya pak, lagi pula aku dan Devan masih muda, untuk pernikahan akan ku pikirkan matang-matang.” Arsy yang pernah menjalani pernikahan muda dengan Eric, menjadikannya lebih ekstra hati-hati dalam memilih pasangan.
“Baiklah kalau begitu.” setelah itu, keluarga Devan dan juga Arsy makan bersama.
Semakin hari, hubungan Devan dan Arsy kian dekat, Devan yang sangat sayang pada Arsy selalu melindungi wanita cantik itu dari segala hal yang ia bisa.
Yang membuat Arsy mantap akan menikah dengan Devan yaitu, karena Devan yang kuliah sambil kerja sudah jadi guru honorer di sebuah SMP yang tak jauh dari rumahnya.
Suatu malam yang indah, Arsy yang kini telah pindah rumah ke pinggir pantai di temui oleh Devan.
“Ada apa Van?” ucap Arsy seraya duduk di ayunan ban bekas bersama Devan.
“Arsy, kita sudah lama menjalin hubungan kekasih, apa kau sudah bersedia menikah dengan ku? Sebab kita berdua juga sudah lulus kuliah, dan sama-sama bekerja.”
Karena Devan bisa membuat Arsy nyaman, Arsy tanpa pikir dua kali menerima lamaran Devan.
“Baiklah, aku mau.”
...Flash Back Off....
Eric yang ternyata menguping cerita panjang lebar istrinya merasa cemburu berat.
“Ceritakan bagian ciuman dong!” permintaan usil Liza membuat Eric panas dingin.
__ADS_1
Telinganya tak sanggup jika harus mendengar istrinya membagi kisah perselingkuhannya dengan lawannya.
“Stop! Bubar!” Eric menghentikan Arsy untuk menjawab.
“Biasa saja dong Ric, aku saja sering loh mendengar curahan hati Liza, semasa ia dengan Joe.” Gibran yang terlalu pengertian merasa tak masalah dengan apapun yang di katakan istrinya.
Sebab prinsipnya adalah, Liza sekarang miliknya.
“Itu sih kau! Sudah, akhiri ceritanya.” ucap Eric dengan memutar mata malas.
“Tapi Ric, meski pun aku bersama orang lain, hatiku selalu untuk mu, sejujurnya aku menyesal, sudah meninggalkan mu, aku juga sempat pulang ke Jakarta, mencari tahu tentang mu, tapi sayang, hasilnya nihil.” ucap Arsy dengan mata berkaca-kaca.
“Aku juga sering mencari mu di media sosial, tapi enggak ketemu.” timpal Arsy.
Tes!
Tiba-tiba Arsy menangis. “Aku sangat rindu, karena ku pikir tak mungkin bertemu kau lagi, makanya aku memilih Devan, Eric maafkan aku. Hiks...” Arsy yang menangis membuat Liza, Gibran dan Eric ikut sedih.
Gibran memukul punggung Eric yang akan mendatangi istrinya.
“Peluk goblok!” Gibran kesal dengan Eric yang tak bisa romantis.
“Ini juga mau jalan pak! Keterlaluan ya kalian!” Eric kesal karena selalu di anggap salah oleh teman-teman mereka.
Setelah itu, Eric berdiri di hadapan Arsy. Dan memberi istrinya pelukan hangat.
“Sudah sayang, aku sudah memaafkan mu, lain kali, kalau ada masalah, jangan kabur-kaburan ya, karena kau takkan bisa hidup tanpa ku.” kata-kata percaya diri Eric membuat istri dan kedua temannya menoleh padanya.
“Benarkan? Karena aku telah mengikat hatimu.” ucap Eric seraya mengecup puncak kepala istrinya.
“Iya, dan aku baru sadar itu, setelah jauh darimu. Hiks...” Arsy memeluk erat suaminya.
Eric yang gemas, menggendong istrinya seperti anak kecil.
Liza yang melihat hal itu merasa cemburu. Ia pun mendatangi suaminya yang ada di pintu masuk dapur.
“Sayang, aku mau juga!” Liza tak sadar dengan berat badannya yang kini mencapai 105 kg.
“Jangan sayang, nanti si kembar terhimpit.” Gibran khawatir dengan keselamatan anak mereka.
“Aku mau...” namun Liza tetap memaksa kehendaknya.
Alhasil Gibran memaksa diri untuk menggendong istrinya meski tak sanggup.
__ADS_1
“Gendong yang benar!” pekik Liza.
...Bersambung......