
Meski Eric tak menuntut apapun pada Arsy, namun Arsy merasa bersalah pada suaminya, karena belum bisa memberi keturunan.
Saat Arsy sedang menonton televisi, Eric datang dan duduk di sebelahnya.
“Besok ada acara di rumah papa, katanya kita wajib datang.” Eric memberitahu istrinya.
“Acara apa lagi itu?” tanya Arsy dengan mata fokus ke layar televisi.
“Sunatan Ridho, ku mohon, kali ini kau ikut sayang.” Eric sangat berharap istrinya bersedia.
“Baiklah kalau begitu.” entah apa yang terjadi, Arsy mau menerima ajakan suaminya begitu saja tanpa ada drama sama sekali.
Keesokan harinya, Arsy dan Eric pun berangkat menuju Jakarta.
Selama perjalanan Arsy hanya termenung, tak mau mengajak suaminya bicara.
“Sayang, kau jangan sedih terus dong, kalau kau banyak pikiran, tak bagus untuk kesehatan mu,” ujar Eric.
“Aku hanya menikmati suasana, tenang saja mas, lagi pula aku sudah lama tak melewati jalan ini.” meski begitu, wajah Arsy menggambarkan banyak masalah.
Sesampainya di rumah mertuanya, Arsy dan Eric di sambut semua orang dengan baik.
Selama acara sunatan berlangsung, Arsy hanya duduk di kursi tamu.
Tak ada yang keberatan dengan sikap Arsy yang berlagak bagai bukan keluarga.
Sebab mereka mengerti duka lara yang ada di hati Arsy.
Malam harinya, Pinkan mengajak Arsy ke kamar Lula untuk membuka hadiah bersama.
Arsy yang di ajak langsung oleh sang ibu mertua, jadi tak dapat menolak.
Ia pun mengikuti langkah Pinkan sampai ke dalam kamar.
“Ayo, kita buka bersama.” ujar Lula dengan bersemangat.
“Oke.” sahut Arsy, kemudian ia pun duduk di atas ranjang bersama adik ipar dan ibu mertuanya.
Saat tangan mereka sibuk membuka kado, obrolan tak enak pun keluar dari dari mulut Pinkan.
“Arsy, Lula udah punya anak dua, Liza 5, kau kapan punya anak, ha? kau tak kasihan apa sama kami yang tua ini?” Pinkan mengatakan keluhannya.
“Benar banget ma, pasti bang Eric pengen juga punya anak, tapi kak Arsy, entah kenapa enggak bisa hamil.l,” timpal Lula.
__ADS_1
“Sudah 5 tahun loh Arsy, mau sampai kapan kau membuat suami dan keluarganya menunggu?” ucap Pinkan.
“Kakak harusnya mikir, itu sudah terlalu lama.” Lula yang subur tak memikirkan perasaan kakak iparnya.
“Maaf, aku juga mau punya anak, tapi Tuhan belum memberi,” terang Arsy.
“Kau saja yang kurang usaha, makan tang banyak vitamin Arsy!!” Pinkan sangat kesal pada Arsy.
“Iya bu, setiap hari aku selalu membuat menu yang memicu untuk hamil.” terang Arsy dengan jujur.
“Kau ini, di bilang malah menjawab, sudahlah Arsy, lepaskan Eric, karena mama berencana mau menikahkan dia dengan teman satu pengajian mama, orangnya baik, cantik dan masih muda, 20 tahun kalau enggak salah, jadi mama mohon bercerai lah dengan Eric. Eric berhak bahagia Arsy, tolong!!”Permintaan Pinkan membuat Arsy geram, pasalnya ia merasa tak di hargai.
“Tanyakan saja pada anak mama. Kalau dia memang mau berpisah, tidak apa-apa, aku terima.”
Arsy yang tak ingin meledak pada ibu mertua dan adik iparnya, memilih untuk pergi dari sana.
“Mama lihatkan gayanya, makin tua, semakin enggak ada sopan santun, perempuan kurang agama,” ucap Lula.
“Itu wajar saja Lula, dia sendirikan hanya anak adopsi, tak bisa di salahkan, asal usulnya saja pasti tak beres,” terang Pinkan.
Arsy yang bertemu suaminya di pintu kamar yang mereka tempati, langsung menatap kesal ke arah Eric.
“Ada apa sayang?” tanya Eric penasaran.
”Menurut mu apa?!” Arsy yang kesal dari awal bertambah marah.
“Kau mau kemana?” Eric merasa sangat bingung dengan sikap istrinya.
“Mau pulang, aku tak mau berada disini!” Arsy tak suka berlama-lama di rumah mertuanya.
“Kenapa? Apa ada masalah sayang?” tanya Erik kembali.
“Pokoknya aku mau pulang malam ini!” Arsy ngotot ingin pulang ke Bandung.
“Loh bukannya kita sudah sepakat untuk pulang besok?” Eric mengingatkan Arsy tentang diskusi mereka sebelumnya.
“Aku mau pulang sekarang! Kalau kau mau tetap disini, ya silahkan!” ucap Arsy seraya melangkah keluar.
“Tapi kenapa? Apa alasannya” Eric semakin penasaran.
“Nanti juga kau tahu alasannya!” Arsy terus berjalan meninggalkan suaminya.
“Arsy! Kau jangan begini, nanti aku bisa malu, apa lagi kalau keluarga kita lihat kau pulang dengan tiba-tiba.” Eric resah dengan perubahan drastis istrinya.
__ADS_1
“Siapa yang perduli?!” ketika Arsy akan melanjutkan langkahnya, tiba-tiba Pinkan datang.
“Ada apa ini?” tanya Pinkan, sebab ia lihat anak dan menantunya bertengkar.
“Arsy katanya mau pulang ma.” jawab Eric dengan menahan rasa malu.
“Biarkan saja.” tanggapan dari sang ibu membuat Eric tersentak.
Sedang Arsy memutar mata malas. Ia bosan menjadi orang baik untuk keluarga itu, kali ini memberontak.
“Mama bilang apa sih?!” Eric tak suka dengan cara bicara ibunya.
“Mau pulangkan dia? Sudah jangan cegah, lagi pula dia tak di butuhkan disini.” Arsy yang belum bisa melahirkan anak untuk Eric membuat Pinkan membencinya.
“Kau dengar apa kata ibu mu? Dan ini sebabnya dulu aku tak mau menginjak rumah ini lagi, karena rumah ini banyak membawa luka, dan sekarang juga begitu, karena aku belum mengandung, ibu mu mau menikahkan mu dengan yang lain!” suara kencang Arsy membuat Eric sakit kepala.
“Apa benar mama bilang begitu?” tanya Eric.
“Tentu saja, wanita itu jauh lebih cantik dan baik, agamanya juga paten, mama berniat menikahkan mu dengannya.” kata-katan tak berperasaan dari Pinkan membuat Arsy tertawa getir.
“Kau dengar apa yang di katakan ibu mu? Ingin menikahkan mu dengan wanita cantik dan baik!” Arsy menunjuk dada Eric.
“Silahkan kalau kau mau! Lagi pula aku juga sudah bosan pada mu, mungkin kalau kita kita berpisah, kita akan mendapat keturunan.” Arsy menantang karena ia tak suka di remehkan.
“Arsy, jangan katakan hal terlarang itu!” Eric tak suka dengan cara bicara istrinya yang terkesan mempermainkan pernikahan.
“Biar saja Eric, kalau tak bisa kasih anak, di cerai saja, karena dunia pernikahan tanpa anak, itu masa depannya suram, lagi pula betul kata Arsy, mungkin kalau kalian berpisah baru bisa punya anak, rejekikan tidak ada yang tahu datangnya dengan cara apa,” terang Pinkan.
Arsy yang mendengarnya pun tambah panas, perasaannya yang sensitif jadi semakin akut.
“Ya sudah, kalian urus saja perceraiannya, lagi pula dari awal yang mohon-mohon untuk menikahkan anak kalian sendiri, cih!” Arsy sungguh muak dengan keluarga suaminya.
Saat Arsy ingin pergi, Eric menggenggam erat tangan istrinya.
“Mama! Kenapa mama jadi ikut campur dengan masalah keluarga ku?! Ada anak atau tidak, itu tak mengurangi kebahagiaan kami, asalkan kami bisa bersama-sama.” Eric merasa sedih dengan pertikaian ibu dan istrinya.
“Mama hanya mengkhawatirkan masa depan mu Ric, Mama enggak mau kau tua tak ada yang urus, kata mu kalian berdua sama-sama sehat, jadi mungkin inilah jalannya, bercerailah dan cari pasangan yang lain. Mungkin dengan itu, kalian baru punya anak.” Pinkan yang tidak memikirkan perasaan menantunya membuat Arsy bertekad untuk berpisah sungguhan.
Tidak punya otak, apa karena aku memberi maaf atas kejadian pertama, makanya mereka pikir aku bisa di atur-atur? batin Arsy.
“Eric, ikuti saja apa kata orang tua mu, aku sudah ikhlas.” setelah itu Arsy melepaskan genggaman tangan Eric darinya.
Eric yang emosi memarahi ibunya. “Dasar mama! Selalu membuat kekacauan, ini rumah tangga ku! Aku tak ingin seperti mama, yang sifatnya egois! Aku juga tak mau mengikuti jejak mama dan papa, 1 pasangan sudah cukup untuk menemani ku sampai tua! jadi jangan ganggu pernikahan ku!” setelah mengatakan isi hatinya, Eric mengejar istrinya.
__ADS_1