
Pagi harinya, ketika Arsy masuk ke dapur, ia pun merasa mual saat mencium bau bawang goreng yang di masak oleh suaminya.
“Sayang, bawangnya kau apakan? kenapa baunya busuk sekali?” ucap Arsy seraya menutup hidungnya.
“Ya di goreng sayang, bukannya kau suka mie si tabur bawang goreng?” ucap Eric seraya mencuci mie yang baru ia rebus.
“Tapi kok baunya bau banget?!” Arsy terus mengeluh tentang bau bawang yang membuatnya pusing.
“Sini deh, kau lihat sendiri, bawangnya masih sama seperti bawang kemarin!” kemudian Eric menuntun tangan istrinya untuk melihat ke kuali.
“Oh iya, kau benar juga.” Arsy tertawa kecil.
“Apa hidung mu bermasalah?” Eric memeriksa lubang hidungnya yang besar
“Sayang! Jangan dong!” Arsy menyingkirkan tangan suaminya yang usil.
“Tapi aku kenapa ya mas?” Arsy bertanya-tanya pada suaminya.
“Mungkin efek umur sayang, kau ini, orang tua seperti kita wajar saja merasakan hal aneh setiap harinya, sudah, sana kau panggil Aron, sebentar lagi diakan mau berangkat sekolah.” Eric menyuruh istrinya untuk memanggil anak angkat mereka.
“Iya-iya, tunggu sebentar mas.” kemudian Arsy beranjak menuju kamar anaknya.
“Aron, ayo sayang! Kita sarapan.” Arsy merangkul anaknya yang telah memakai seragam TK.
Setelah sampai ke meja makan, keluarga kecil itu pun mulai sarapan pagi bersama.
Pada pukul 07:00 pagi, mereka yang ingin berangkat tiba-tiba terkendala, karena Arsy mengeluh akan kepalanya yang semakin nyut-nyutan.
“Mas, sepertinya aku enggak ke sekolah hari ini.” Arsy terus memijat pelipisnya yang terasa sakit.
“Apa masih sakit banget sayang?” Eric memeluk Arsy seraya meniup ubun-ubunnya.
“Ayah, kita bawa bunda ke rumah sakit saja, biar bunda sembuh.” Aron mengutarakan idenya.
“Iya sayang. Ayo Sy!” hari itu mereka absen dari rutinitas mereka masing-masing.
Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, mereka sampai ke rumah sakit terdekat.
Ketiganya pun segera turun dari dalam mobil menuju tempat pendaftaran.
Setelah mengambil tiket untuk tujuan dokter umum. Keluarga kecil itupun menunggu antrian.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya giliran Mereka pun tiba.
Saat ketiganya di dalam ruangan dokter. Sang Dokter wanita yang berjaga menyapa Arsy dengan ramah.
“Selamat pagi bu Arsy, Ada keluhan apa Bu?” tanya sang dokter
“Saya juga tidak tahu kenapa dok, tiba-tiba saja saya merasa pusing, mual dan tak enak badan, saya juga merasakan panas yang tidak seperti biasanya, gerah setiap saat, yang terpenting tidak bisa mencium bau yang menyengat seperti bawang dan bau parfum.” terang arti dengan panjang lebar.
“Sejak kapan Ibu merasakannya?” Tanya Dokter kembali.
“Kalau tidak salah sejak 2 hari yang lalu, hanya saja hari ini yang lebih parah dan saya baru mengatakannya kepada suami saya karena sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya,” Arsy mengatakan sakit yang ia rasakan.
“Oke, ngomong-ngomong Ibu Arsy usianya berapa sekarang?”
“50 tahun dokter,” jawab Arsy.
“Baik, kita periksa dulu ya bu.” Kemudian sang dokter menuntun tangan Arsy menuju ranjang pasien.
Setelah itu sang doker menekan-nekan kecil bagian perut Arsy. Dan entah mengapa sang dokter menampilkan senyum penuh makna.
“Ada apa dok? Apa semua baik-baik saja?” Arsy jadi khawatir, ia takut terjadi apa-apa pada dirinya.
Ketika sang dokter mengambil transducer, Arsy dan Eric melihat satu sama lain.
“Iya, benar bu, coba kita periksa dulu ya bu.” kemudian sang dokter membuat pelumas di atas perut rata Arsy.
“Coba bapak dan ibu lihat di layar monitor.” dokter menunjuk layar televisi besar yang ada di hadapan Eric.
“Apa usus istri ku bermasalah dok?’” tanya Eric yang tak mengerti apapun.
“Xixixixi...” seketika sang dokter tertawa geli.
“Bukan pak, ini namanya kantung rahim,” ucap sang dokter
“Kenapa dengan rahim istri saya dok?” Arsy dan Eric semakin di buat bingung.
“Ibu Arsy, hamil pak.” mendengar kabar bahagia itu, Eric dan Arsy terdiam sejenak.
“Saya hamil dok?” mata Arsy membulat sempurna.
“Betul bu.”
__ADS_1
“Dokter jangan mengada-ngada deh, saya ini sudah 50 tahun, mana mungkin saya masih bisa hamil, dokter mau menghina saya? Mentang-mentang saya tidak punya keturunan!” Arsy yang sensitif tersinggung akan kebenaran yang dokter katakan.
“Mohon maaf sebelumnya ibu, saya tidak ada maksud untuk menyakiti hati ibu, tapi yang saya katakan itu benar, dan memang jarang sekali orang hamil di usia 50 tahun bu, tapi bukan berarti tak ada.” terang sang dokter.
“Tapi bagaimana bisa dok?” tanya Eric penasaran.
“Memang pak, kebanyakan wanita akan mengalami menopause di kisaran usia 50 tahun. Pada usia ini, ovarium akan mulai menurun aktifitasnya, sehingga tidak mampu lagi menghasilkan sel telur yang berkualitas baik dan siap dibuahi. Karenanya, kehamilan pun akan lebih sulit terjadi. Pada kondisi ini, jika terjadi hubungan se*ks, sel ****** yang masuk bisa mati atau keluar kembali bersamaan dengan sekret vag*na lainnya. Meski begitu, ada saja wanita yang usia suburnya lebih panjang, yakni hingga lebih dari 50 tahun. Pada kasus seperti ini, bukan tidak mungkin ovarium masih mampu memproduksi sel telur yang siap dibuahi, sehingga bisa terjadi kehamilan jika dilakukan hubungan suami istri tanpa pengaman. Hanya saja, kehamilan di usia tua ini lebih berisiko memicu beragam komplikasi, baik bagi ibu (seperti menyebabkan perdarahan pasca salin, gangguan jantung, anemia, hambatan persalinan, dan sebagainya) maupun janinnya (seperti menyebabkan cacat bawaan, hambatan perkembangan janin dalam rahim, meningkat risikonya terlahir prematur atau BBLR, dan sebagainya).” terang dokter panjang lebar.
Tes!
Air mata Eric mengalir, setelah sekian lama, akhirnya ia dan Arsy memiliki anak biologis.
Eric pun memeluk Aron yang duduk di sebelahnya.
“Terimaksih banyak nak.” Eric merasa kalau kehamilan istriku ada hubungannya dengan anak angkatnya Aron.
“Mas.” bibir Arsy bergetar menahan tangis, ia tak sanggup melanjutkan barisan kata yang akan membuat air matanya semakin pecah.
“Sayang, selamat untuk kita semua.” Eric memeluk istrinya yang masih terbaring di atas ranjang.
“Mas, aku bahagia mas... Hiks...” Arsy dan Eric pun larut dalam tangis haru mereka.
Setelah menunggu selama 25 tahun, akhirnya yang maha kuasa menurunkan mukjizatnya pada pasangan yang telah lama menanti si buah hati.
“Di jaga baik-baik ya bu kandungannya, harus kontrol tepat waktu, agar ibu dan bayi sama-sama sehat,” ucap sang dokter.
“Siap dokter.” sahut Arsy dan Eric dengan antusias.
Setelah itu keluarga kecil itu pun pulang ke rumah dengan bersuka cita.
Eric si suami siaga menjaga istrinya dengan baik saat ia ada di rumah, mereka juga mencari art, untuk mengerjakan tugas rumah dan mengasuh Aron.
Karena sejak Arsy terindikasi mengandung, ia hanya di izinkan suaminya untuk mengurus dirinya sendiri dan pergi ke sekolah.
Pada usia kandungan Arsy yang ke 42 minggu.
Arsy pun melahirkan anak perempuan dengan keadaan sesar.
Bayi cantik berbobot 3,5 kg itu begitu sehat dan tangisannya kencang.
“Kita beri nama apa mas?” tanya Arsy di dalam ruang rawat.
__ADS_1
“Khadijah.” jawab Eric seraya mengecup pipi istri dan juga bayi kecilnya yang imut.