
Jawaban Fahri membuat Pinkan yakin, kalau Fahri mau menikah dengan putrinya.
Ia pun sangat senang, senyum bahagia tak lepas dari bibirnya.
Harapan untuk mengubah jalan hidup putrinya ada di depan mata.
Aku ingin, jika kelak aku tiada, putri ku dapat mendo'akan ku, hanya do'a nya yang bisa ku harapkan, untuk meringankan siksa ku di dalam kubur, batin Pinkan.
Setelah keluarga Fahri pulang, Pinkan pun berkata pada anaknya.
“Kau harus belajar mengaji Lula. Bisa-bisa kau malu lagi, saat mengaji bersama Fahri, tapi kau tak bisa baca Qur'an.” Pinkan khawatir jika putrinya tak punya muka di hadapan menantunya.
“Iya ma.” Lula yang pasrah hanya mengikuti kemauan ibunya.
Aku yakin, Lula yang punya IQ tinggi bisa membaca Alquran dengan cepat, batin Pinkan.
🏵️
Liza yang masuk ke kamar Leon melihat kodok yang baru di bedah di atas meja.
Ia yang takut akan hewan tersebut langsung mencari anaknya.
“Leon! Leon!” Liza memanggil nama anaknya, tak lama Leon keluar dari kamar mandi.
“Iya ma?” sahut Leon.
“Apa ini?” Liza menunjuk ke arah kodok yang isi perutnya di keluarkan.
“Kodok ma, enggak mungkin tikuskan,” ucap Leon.
“Ya, mama tahu ini kodok, alias katak! Tapi... kenapa kau membunuh kodok ini? Dapat dari mana?” Liza tak suka dengan sikap anaknya.
“Dari selokan ma.” Leon bicara dengan santai, seolah semua bukanlah masalah besar.
“Leon! Jangan masuk selokan juga dong! Itu kotor tahu, dan mama enggak suka kau membunuh hewan, karena itu dosa! Mereka juga berhak hidup, jangan mengusik apapun, baik itu hewan, atau pun tumbuhan!” Liza menasehati putranya.
“Iya ma.” Leon setuju tanpa membantah.
“Sekarang, katakan pada mama, siapa yang mengajari mu?” Liza penasaran siap guru anaknya.
“Tante Lula.” Leon menjawab dengan jujur.
“Lula?” seketika Liza teringat, kalau Lula adalah jurusan fisika.
“Aku tahu dia pasti berbagi ilmu dengan Leon, tapi enggak langsung main benda tajam jugakan?!” Liza merasa tindakan Liza waktunya belum tepat.
“Leon, lain kali jangan lakukan lagi! Buang bangkai kodoknya, oke!” Liza mengusap puncak kepala putranya.
“Iya ma.” Leon yang patuh selalu setuju dengan apa yang di katakan ibunya. Kemudian Liza keluar dari kamar putranya.
Setelah ibunya pergi, Leon mengunci kamarnya, dan masuk kembali ke kamar mandi.
__ADS_1
“Untung mama tak melihat mu.” Leon berbicara dengan king kopra milik Lula, Lula sendiri tak tahu jika keponakannya membawanya pulang ular peliharaannya. Dan ternyata king kobra itu, bisanya belum di buang.
Leon yang mengira jika ular sepanjang 5 meter itu tak berbahaya malah dengan santai mempermainkannya.
Liza yang mendatangi Gibran di ruang tamu, langsung duduk di sebelah suaminya.
“Sayang,” ucap Liza.
“Iya? Kenapa?” sahut Gibran.
“Kau tahu, tadi aku ke kamar anak kita, masa dia bedah-bedah kodok sih sayang, ih! Lihatnya aku mau muntah, itu Lula lagi yang mengajari, astaga...” Liza memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
“Mungkin dia lihat Lula lagi praktek, terus dia minta Lula untuk mengajarinya, bisa jadikan?” Gibran yang tak tahu apapun malah berpikir positif.
“Sayang benar juga sih. Hufff.” Liza menghela napas panjang.
“Kalau dia punya bakat di bidang itu, kita kuliahkan saja dia di jurusan kedokteran,” ujar Gibran.
“Iya, ya. Kau benar juga sayang, mungkin anak kita cita-citanya mau jadi dokter hewan kali.” Liza sependapat dengan suaminya.
🏵️
Karena hari itu adalah minggu, Eric dan Arsy pulang cepat.
Keduanya pun keluar dari toko seraya mengobrol.
Dita yang melihat kemesraan keduanya menundukkan kepalanya.
“Hufff...” Dita menghela napas panjang. “Aku mau resign saja, aku malu kalau bertemu mereka berdua setiap hari.” Dita tak sanggup bila harus bertatap muka dengan Eric dan Arsy.
“Jangan Ta, sekarangkan lagi susah cari kerja, kau tak boleh asal keluar, apa lagi belum dapat pekerjaan baru.” Deri mencegah sahabatnya untuk keluar dari pekerjaan mereka.
“Tapi aku tak bisa, apa lagi aku sudah menyatakan cinta dengan meminta izin pada Arsy sendiri, astaga... rasanya aku benar-benar prustasi.” Dita tetap ingin berhenti kerja, karena beban batinnya terlalu berat.
🏵️
Di dalam perjalan, Arsy meminta izin suaminya untuk tetap melanjutkan profesinya.
“Sayang, tolong restui aku untuk jadi guru lagi, bekerja di toko membuat ku tak nyaman, aku juga tak suka bekerja di tempat yang terkurung, sayang... aku suka jadi guru, aku cinta pekerjaan ku, jadi ku mohon, biarkan aku mengajar ya.” Arsy menggenggam tangan suaminya.
“Tapikan ijazahkan mu ada di Bali,” ucap Eric.
“Ya tinggal di ambil, sekalian aku mau mengurus surat pindah, nanti setelah kita selesai menikah, kita bulan madunya di Bali saja, tak mungkin ku tinggalkan semua barang-barang ku disana begitu sajakan?”
Arsy merasa sayang dengan harta bendanya yang ada di Bali.
“Baiklah, kalau itu keputusan mu, aku ikut saja.” akhirnya Eric mengabulkan keinginan istrinya.
🏵️
Keesokan harinya, Pinkan yang sudah mendapat guru mengaji untuk putrinya meminta segera melakukan pembelajaran.
__ADS_1
Wahyu yang sebagai guru khusus Alquran, mulai mengajari Lula.
“Saya sudah kenal huruf pak, bapak mengaji saja duluan, saya akan memperhatikannya.” ucap Lula. Sebab ia percaya jika dirinya dapat dengan cepat memahami apa yang di baca oleh Wahyu.
“Baiklah.” kemudian Wahyu membuka surah pertama dalam Alquran, yaitu Alfatihah.
“Alhamdulillahi rabbil 'alamin...” pria tampan dan sholeh itu pun membaca ayat pendek itu dengan fasih, lengkap dengan makhraj dan juga tajwidnya.
“Sudah, coba kau yang baca,” titah Wahyu.
“Baiklah. Alhamdulillahi rabbil 'alamin..” Lula yang cerdas membuat Wahyu terkejut. Pasalnya Lula membaca ayat tersebut persis seperti yang ia baca.
“Bu, katanya Lula tak bisa mengaji, ini saya lihat lancar kok,” ujar Wahyu.
“Akh! Itu hanya kebetulan pak, sayakan sudah bayar bapak, untuk paket mengaji Alquran dan mengenai ilmu agama lainnya, harap bapak melanjutkannya.”
Pinkan ingin putrinya tak ada kekurangan saat menjadi istri Fahri.
“Siap bu.” Wahyu pun melanjutkan proses mengajarnya, dan apapun yang ia katakan pada Lula, Lula selalu dapat melakukannya.
Dan kecerdasan dan juga kecantikan Lula itu membuat Wahyu jatuh hati.
Andai wanita ini jadi istri ku, batin Wahyu.
Setelah selesai belajar selama 5 jam, Lula yang lelah masuk ke dalam kamar.
Saat Pinkan masih menjamu guru agama anaknya dengan aneka kue yang ada di atas meja ruang tamu. Ia dan Wahyu pun menyempatkan untuk mengobrol-ngobrol seputar kisah nabi dan rasul.
“Bu,” ucap Wahyu.
“Iya pak?” sahut Pinkan.
“Lula usianya sudah berapa bu?” tanya Wahyu.
“Baru 22 tahun pak, dan sekarang lagi mengurus skripsi.” jawab Pinkan dengan tersenyum.
“Berarti sebentar lagi lulus ya bu.” ucap Wahyu penuh makna
“Iya, mudah-mudahan saja semua berjalan dengan lancar,” ujar Pinkan.
”Aamiin.” Wahyu terbayang dengan wajah cantik Lula.
“Bu.”
“Iya pak?”
“Apa saya boleh melamar anak ibu setelah lulus kuliah?” pernyataan Wahyu membuat Pinkan menjatuhkan menjatuhkan nastar yang ada di tangannya.
“Bapak suka dengan Lula?” tanya Pinkan dengan mata membelalak.
...Bersambung.......
__ADS_1