
“Ular? Tapi itukan berbisa tan?” ucap Leon.
“Iya, nanti tante ajari kau untuk membuang bisanya.” terang Lula seraya merangkul bahu Leon.
“Baiklah, tapi pelan-pelan ya tan, aku masih takut soalnya.” Leon yang tak pernah memegang ular sebelumnya merasa was-was.
Karena ia takut kena gigit oleh raja ular tersebut. Dan hal-hal ekstrim yang sering mereka lakukan, itu di luar pengetahuan Liza dan Gibran.
Sebab Lula meminta Leon untuk merahasiakannya dari orang tuanya.
🏵️
Arsy yang baru bangun di kejutkan oleh Eric yang membawa sarapan untuknya.
“Selamat pagi nyonya, sarapan sudah siap, silahkan bangun.” perlakuan manis dari suaminya membuat Arsy tersentak.
“Ada angin apa? Kok kau baik sekali pada ku?” ucap Arsy.
“Karena hari ini ulang tahun pernikahan kita.” Eric mengingatkan istrinya.
“Hah?! Memangnya hari ini ya?!” Arsy tak ingat tanggal pernikahan mereka.
“Tentu saja, ini tanggal 02 Juni loh!” ucap Eric dengan antusias.
“Oh, gitu ya.” tanggapan Arsy yang biasa saja membuat Eric merajuk.
“Huh... menyebalkan.” Eric meletakkan bubur yang ia bawa di atas meja. Kemudian ia keluar dari dalam kamar.
“Heh?? Apa dia marah?” sontak Arsy bangkit dari ranjang.
Kemudian ia menyusul Eric yang pergi ke dapur dengan membawa bubur pemberian suaminya.
“Hei, kau marah pada ku ya?” Arsy memeluk suaminya.
“Kau pikir saja sendiri.” Eric yang kesal tak melihat wajah istrinya. Tangannya terus saja sibuk mencuci piring.
“Jangan marah, tadi aku hanya pura-pura lupa tahu.” pada kenyataannya Arsy memang tak ingat hari pernikahan mereka.
“Benarkah?” Eric menoleh ke arah istrinya.
“Iya, mana mungkin aku lupa, itukan hari yang paling bersejarah dalam hidup ku.” Arsy memeluk suaminya untuk mensterilkan suasana.
“Baiklah, aku akan percaya.” ketika Eric akan mengecup bibir istrinya, tiba-tiba ada yang menekan bel pintu mereka.
Ting ting!
Ting tong!
Suara bel yang sangat berisik membuat fokus keduanya terganggu. Eric dan Arsy pun segera menuju pintu.
Ceklek!
Ketika Eric membuka pintu. Liza dan Gibran histeris.
“Zanjiil!” ucap keduanya.
Kemudian Arsy keluar dari belakang Eric. Pasangan Gibran dan Liza menjadi tambah syok.
“Jadi kau yang mengerjai ku?!” Liza yang masih panas membara memukul kening Arsy.
__ADS_1
Pok!
“Salam macam apa ini?” ucap Arsy dengan menggertakkan giginya.
Pok!
Arsy membalas Liza, dengan memberi pukulan di tempat yang sama.
Setelah itu keduanya saling berpelukan. “Kissky!!!”
“Liza!!”
Keduanya pun saling berpelukan melepas rindu.
“Kissky, kau kemana saja selama ini? Hiks...” Liza menangis sesungukan.
“Aku di Bali Za, dan sekarang nama ku bukan Kissky lagi, tapi Arsy!”
Sontak Liza melepas pelukannya. “Kenapa kau ganti nama?” tanya Liza penasaran.
“Biar lebih keren! Hiks...” sahut Arsy.
Gibran dan Eric geleng-geleng kepala melihat 2 wanita bertingkah berlebihan di hadapan mereka.
Ketika Arsy dan Liza ingin menangis kembali, Eric langsung menghentikannya.
“Diamlah, kalian berdua berisik banget, enggak kasihan apa pada anak yang kau kandung Za??” ucap Eric.
“Hei Zanjiil!”
“Aku Eric! Bukan Zanjiil lagi!” Eric menggaruk alisnya.
“Iya, biar keren!” Eric meniru jawaban Arsy.
Setelah itu mereka berempat masuk ke dalam rumah.
Eric yang ternyata memesan kue untuk hari jadinya dan sang istri mengeluarkan dari kulkas.
“Aku enggak ulang tahun, kenapa kau malah memberikan ku kue?” tanya Liza.
“Percaya diri sekali kau! Ini untuk aku dan Arsy! Hari ini adalah hari pernikahan kami,” terang Eric.
“Hah? Jadi hari ini ulang tahun pernikahan kalian?” ucap Liza dengan antusias.
“Iya, aku bersyukur tahun ini bisa merayakan dengan Arsy.” Eric mengecup istrinya.
“Aku juga bersyukur bisa bertemu kalian lagi, oh ya... aku penasaran dengan kisah mu selama 10 tahun ini, apa kau mau menceritakannya pada ku Sy?” Liza yang penasaran ingin mendengar kisah hidup sahabatnya.
“Apa aku perlu mengatakannya?” ucap Arsy dengan ragu.
“Tentu saja, bagaimana pun aku ingin tahu, apa lagi kau pergi dengan tiba-tiba, aku sampai detik ini masih merasa bersalah pada mu!” Liza berpikir kalau dirinyalah penyebab sahabatnya pergi.
“Kenapa kau merasa bersalah? Aku pergi bukan karena mu.” Arsy tak menyangka jika sahabatnya salah faham padanya.
“Karena waktu itu, aku akan menikah dengan Eric, ku pikir kau marah,” terang Liza.
“Enggak kok, kalau kau mau juga enggak apa-apa, xixixi...” Arsy tertawa cekikikan.
“Enggak banget, manusia model kaku, cara bicara tajam, siapa yang suka? Ku yakin hanya kau saja! Xixixi...” Liza meledek Eric.
__ADS_1
“Siapa juga yang suka pada mu?! Sudah jelek! Banyak lemak lagi.” Eric membalas pedas perkataan Liza.
“Tapi istri ku cantik kok!” Gibran membela Liza.
“Tuh! Dengar! Saat suami ku berkata cantik, memangnya pendapat mu penting?” Liza melirik tajam pada Eric.
“Hei, sudah, sudah.... kalian jangan bertengkar dong! Masa baru bertemu sudah mau adu otot!” ujar Arsy.
“Habis aku kesal padanya?” Eric memelototi Liza.
“Hei, aku lapar, bisa kau ambilkan aku makanan?” Liza menyuruh Eric untuk melayaninya .
“Hei, kau bisa menyuruh Arsy kan?!” Eric mencoba menolak, namun Liza tetap memaksa.
“Jangan sombong uak Eric!” ucap Liza.
“Hah? Uak kau bilang?” Eric tak terima dengan tutur yang di beri oleh Liza.
“Kau saudaranya Joe kan?” ucap Liza.
“Iya, kau benar, tapi enggak uak jugakan? Lagi pula kalau kau menikah dengan Joe, tetap saja, kau akan jadi yang lebih tua, karena Joe adalah anak pertama,” terang Eric.
“Baiklah om! Udah sih, jangan marah-marah!” Liza menertawai Eric.
Sedang Arsy dan Gibran hanya menyaksikan pertengkaran Liza dan Eric.
Setelah obrolan penuh drama akhirnya Arsy, Liza dan Gibran makan bersama dengan penuh canda dan tawa.
🏵️
Lula yang sampai ke rumah ibunya langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
Lula yang melihat Pinkan sedang makan siang di dapur langsung duduk di hadapan ibunya.
“Ada misi apa sih ma? Sepertinya penting banget!” ucap Lula.
“Makan dulu, baru kita ngobrol!” ujar Pinkan.
“Enggak, aku sudah makan.” Lula menolak karena lagi tak selera makan.
“Oh....begini La, kau kan sudah tua.”
“Apa?” Lula mengernyitkan dahinya.
“Jadi mama rasa, sudah waktunya kau menikah!” ucap Pinkan.
“Haah?!! Jadi mama menyuruh ku kesini untuk membicarakan pernikahan?” Lula kesal, karena ibu dan ayahnya sama-sama menyuruhnya untuk berumah tangga.
“Iya, harusnya kau sadar Lula! Kau itu sudah perawan tua! Tapi masih melajang! Lagi pula sebentar lagi kaukan sudah mau lulus,” ujar Pinkan.
“Lulus gimana? Skripsi saja aku enggak kelar-kelar, jangan bercanda deh ma.” Lula memutar mata malas, terlebih saat ia mengingat wajah dosennya.
“Tenang saja, semua pasti beres! Kalau kau setuju menikah.” Pinkan tersenyum penuh makna.
“Maksudnya giamana sih ma?” Lula menjadi curiga pada ibunya.
“Pak Faiq melamar mu.” Pinkan memberitahu putrinya dengan girang.
“Apa?!!!” Lula syok bukan main.
__ADS_1
...Bersambung......