
Tanpa di duga, ternyata Pinkan masih menggunakan nomor lama.
Eric mempersiapkan mentalnya untuk berbicara dengan sang ibu.
Halo, dengan siapa?📲 Pinkan.
Mendengar suara sang ibu setelah 10 tahun, rasanya Eric ingin menangis, meski ibunya telah menghancurkan masa depannya, namun Eric tetap menyayangi ibunya.
Ini aku ma, Zanjiil. 📲 Eric.
Zanjiil? Benar ini kau nak? 📲 Pinkan.
Suara bergetar ibunya di dengar jelas oleh Eric.
Iya ma, apa kabar ma? 📲 Eric.
Baik nak, Zanjiil, apa boleh ibu bertemu dengan mu? 📲 Pinkan.
Mendapat lampu hijau dari putranya, membuat Pinkan berani minta bertemu.
Iya ma, besok aku akan ke Jakarta. Tunggu sebentar, aku akan sambungkan pada papa 📲 Eric.
Kemudian Eric memanggil nomor Basuki dan mengkonversikannya dengan Pinkan.
Halo, ini siapa? Dapat nomor ku dari mana? 📲 Basuki.
Heh! Basuki, perhatikan cara biacara mu! 📲 Pinkan.
Ini kau Pinkan? 📲 Basuki.
Iya, tapi yang menelepon mu adalah nomor Zanjiil. 📲 Pinkan.
Zanjiil?! 📲 Basuki.
Busuki tak menyangka, setelah sekian lama, putranya menelepon juga.
Iya, ini aku pa. 📲 Eric.
Apa papa boleh ke Bandung nak? Papa sangat merindukan mu. 📲 Basuki.
Besok aku mau ke Jakarta pa. Jadi kita bertemu besok saja. 📲 Eric.
Baiklah, papa akan tunggu. 📲 Basuki.
Basuki sangat senang, karena anaknya kembali pulang, meksi ia tahu Eric ada dimana, namun ia menghargai keputusan anaknya yang tak mau bertemu dengannya.
Ya sudah kalau begitu ma, aku tutup dulu. 📲 Eric.
Baik nak. 📲 Pinkan.
Sampai besok nak. 📲 Basuki.
Setelah sambungan telepon terputus, Arsy memeluk suaminya.
“Ayo, berdamai dengan keadaan.” Arsy memutuskan untuk memaafkan keluarga suaminya.
“Terimakasih banyak sayang.” Eric membalas pelukan istrinya.
Setelah itu mereka tidur, karena besok mereka harus berangkat pagi-pagi.
🏵️
Keesokan harinya, Lula yang baru selesai mandi mendapat pesan lagi dari Fahri.
Assalamu'alaikum dik, beritahu kedua orang tua adik, Isinya Allah besok selepas sholat Magrib, abang beserta keluarga akan ke rumah adik. ✉️ Fahri.
“Wah, dia benar-benar serius.” Lula tersenyum tipis.
__ADS_1
Kemudian ia pun membalas pesan dari Fahri. calon suaminya.
Walaikumsalam bang, Insya Allah, akan ku sampaikan pada mama dan papa. ✉️ Lula
Baik, terimakasih dik, sampai besok, Assalamu'alaikum. ✉️ Fahri.
Sama-sama bang, Walaikumsalam. ✉️ Lula.
Setelah selesai membalas pesan, Lula keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi.
“Lula!” Basuki menghentikan langkah putrinya.
“Kenapa pa?” sahut Lula.
“Hari ini kau libur saja, karena kita akan kedatangan tamu penting,” ucap Basuki.
“Siapa pa?” Lula mengernyitkan dahinya.
“Zanjiil, dia akan datang!!!!” Basuki memberitahu putrinya dengan antusias.
“Yang benar pa?!!” Lula sama bahagianya dengan ayahnya.
“Iya, jadi jangan kemana-mana, karena kita akan berangkat ke kafe @saya_muchu.”
”Oke pa.”
🏵️
Liza yang sudah menyiapkan sarapan masuk ke dalam kamar Leon.
“Leon! Bangun sayang.” Liza mengelus puncak kepala putranya.
“Iya ma.” Leon yang baru bangun pun mengucek kedua matanya.
“Cepat mandi, karena sarapan sudah siap, mama tunggu di meja makan.” sebelum pergi, Liza mengecup kening putranya.
Setelah itu Liza keluar dari kamar putranya.
Ia yang baru membuka pintu kamar mandi yang terbuka separuh, melihat king kobra tantenya berdiri tegak dan kepala kembang.
Leon yang merasa itu tak masalah, malah mendekati ular yang stres karena kelaparan.
Sssttt!!!
Lagi-lagi ular besar itu mendesis, dan semakin berdiri tinggi, seolah siap memberi serangan.
Namun Leon yang tak mengerti, malah semakin mendekat ke arah bak mandi.
Plak!
Leon menyingkirkan tubuh king kobra yang terus memajukan kepalanya ke depan.
“Jangan ganggu, mama suruh aku untuk mandi,” ucap Leon.
Namun ular berbisa itu malah berjalan ke arah Leon dan dengan cepat melilit kaki Leon.
“Hei! Jangan!” teriak Leon.
Tap! Tap! Tap!
Ular yang memiliki bisa berbahaya itu mematuk kaki indah Leon.
Tap!
Kobra yang merasa tak nyaman, menggigit kaki Leon dan tak mau melepaskannya.
“Mama! Mama!!!” Leon yang kesakitan berteriak histeris, hingga Liza dan Gibran dapat mendengarnya dari meja makan. Mereka pun langsung mendatangi kamar Leon.
__ADS_1
“Leon!” Liza yang tak melihat putranya di ranjang langsung menuju kamar mandi.
“Leon!!!!!” baik Liza mau pun Gibran syok. Saat melihat seluruh tubuh putra pertama mereka di lilit king kobra, gigi tajam kobra itu pun menancap di leher Leon.
Gibran langsung masuk ke kamar mandi. Dengan hati-hati Gibran memegang kepala king kobra yang sedang sibuk mengigit leher Leon.
“Sayang! Cepat ambil parang! Cepat!” teriak Gibran. Ia pun berniat memotong kepala ular tersebut.
“Iya sayang! Hiks!!” Liza berlari menuju kamar, kemudian kembali membawa senapan.
“Cepat kemari! Tebas kepala ular ini!” Gibran yang berhasil membuka setengah tubuh kobra yang melilit Leon menyuruh istrinya untuk menebas tubuh ular tersebut.
Liza yang takut harus berani demi anaknya. “Akhh!!” teriak Liza.
Ia pun berulang kali menghantam parangnya ke tubuh kobra itu.
Hingga akhirnya kepala kobra itu berpisah dengan badannya.
Gibran yang masih memegang kepala kobra dengan cepat mengamankannya.
“Buka sisa lilitannya sayang.” setelah itu Gibran menuju halaman belakang dengan membawa bensin.
Surr!!!
Ia pun mengguyur kepala kobra itu dengan bensin di dalam bekas kaleng cat. Kemudian Gibran melempar korek api ke dalamnya.
Zasrrr!!!
Kepala kobra itu menggeliat liat kesana kemari.
Setelah itu, Gibran kembali ke kamar mandi anaknya.
Liza yang masih menangis tak mampu untuk mengangkat tubuh anaknya.
Kemudian Gibran, mengendong Leon ala bridal style menuju mobil, dan sebelum itu, ia mamasukkan paksa air yang dalam bak ke mulut anaknya, tujuannya agar bisa si ular turun.
Setelah itu mereka menuju rumah sakit. “Leon, sayang!!! Hiks...” Liza terus menangis histeris.
Gibran yang juga panik melakukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Saking paniknya mereka sampai melupakan 2 anak mereka yang ada di meja makan.
🏵️
Pukul 11:00 siang, keluarga Rabbani yang bersemangat telah sampai kafe terlebih dahulu.
Baik Pinkan maupun Basuki melupakan pertengahan mereka sejenak demi anak lelaki mereka satu-satunya.
Lula yang ada di antara ibu dan ayahnya malah sibuk bermain handphone.
“Lula! Kau lagi apa sih dari tadi, kenapa malah sibuk sendiri?” Pinkan kesal dengan sikap putrinya yang tak mengerti arti momen keluarga.
“Aku lagi balas pesan calon menantu mama loh!” kemudian Lula memperlihatkan isi percakapannya dengan Fahri.
“Siapa yang mama mu jodohkan dengan mu?” tanya Basuki penasaran.
“Papa tahu ustad Fahri enggak? Yang lagi viral di media sosial?” ucap Lula.
“Tahu, itu yang mama mu jodohkan pada mu?” mata Basuki membelalak sempurna.
“Apa salahnya!” Pinkan sangat tak suka dengan ekspresi Basuki.
“Papa tidak setuju, bisa-bisa bisnis papa nanti bisa hancur, tiap hari pasti kau akan di rukiah, di kasih minum air do'a yang membuat mu sadar akan dosa yang kau perbuat selama ini.”
Basuki khawatir, jika putrinya berubah, dan meninggalkan bisnis mereka.
“Papa bicara apa sih?!” Lula menatap tak suka pada ayahnya
__ADS_1
“Hei Basuki, tanpa bisnis haram itu jugakan kau sudah kaya, dari perusahaan legal mu! Aku maunya Lula kembali ke jalan yang benar, pikir Basuki, kau itu sudah tua, Memangnya kalau kau mati, uang yang nilainya triliunan itu bisa kau bawa ke kubur mu? Makanya tonton ceramah ustad Fahri, biar otak mu waras!”
...Bersambung......