
“Ya pa, apa masih ada yang lain?” tanya Zanjiil, sebab ia ingin segera kembali ke kamarnya.
“Tidak, kau boleh pergi sekarang.” setelah mendapat izin dari sang ayah, Zanjiil pun beranjak pergi.
Pada hal besok minggu, apa aku tak bisa santai sejenak? batin Zanjiil.
Pukul 19:00 malam, Kissky yang telah kembali ke rumah bertemu dengan kedua mertuanya yang sedang minum teh, di sofa yang ada di pintu utama.
“Baru pulang Ky?” sapa Pinkan.
“Iya ma, maaf aku tak izin pada papa dan mama untuk main ke kosan teman ku.” Kissky merasa canggung karena ketahuan pulang malam.
“Tak apa, kalau memang sudah izin pada Zanjiil,” ucap Basuki.
“I-iya pa.” Kissky tersenyum malu.
“Masuklah ke dalam, mandi kemudian makan,” ujar Pinkan.
“Iya ma.” Kissky membungkukkan badannya saat melewati kedua mertuanya.
Setelah Kissky pergi, Pinkan berkata pada suaminya.
“Pa, mama ikut ke London ya, karena tadi siang mama lihat Justin Bieber mau konser disana, mama mau nonton pa.” Pinkan yang sangat mengagumi seorang Justin Bieber sering kali mendatangi konser penyanyi kelas dunia itu ke berbagai negara.
“Kali ini tak bisa, papa sangat sibuk, nanti papa tak bisa temani mama.” Basuki tak mengizinkan istrinya ikut dengannya.
“Mama kan bisa sendiri, tak perlu papa temani. Dan juga, mama rindu makan di restoran A, tempat pertama kali papa dan mama makan saat baru menikah,” terang Pinkan.
“Lain kali saja, sekalian liburan keluarga, besok papa ingin fokus kerja, karena ini proyek besar, papa tak mau di ganggu.” sikap dingin Basuki membuat Pinkan sakit hati.
Ia sangat rindu di manja oleh sang suami tercintanya.
Meski Pinkan adalah, wanita karir, kuat dan mandiri, namun ia tetap seorang manusia biasa, yang bisa menangis dan juga merajuk.
Kemudian Pinkan bangkit dari duduknya, dan menyudahi percakapannya dengan suaminya.
“Kau mau kemana?” tanya Basuki.
“Tidur.” Pinkan yang marah masuk ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk.
Lula yang ingin ke kamarnya melihat sang ibu dengan wajah muram.
__ADS_1
“Mama sakit?” Lula memegang kedua pundak ibunya.
”Tidak, mama baik-baik saja.” Pinkan menegarkan dirinya kembali, meski hatinya menangis darah.
“Tapi mama pucat loh, apa papa memarahi mama?” Lula makin penasaran akan apa yang di pikirkan ibunya.
“Mana berani papa mu memarahi mama, sudahlah, mama mau istirahat, oh ya Lula, selasa mama akan ke sekolah mu.”
Seketika Lula menjadi panik saat tahu sang ibu mau berkunjung ke sekolahnya.
“Untuk apa ma?!” tanya Lula.
“Kau pasti tahu tujuannya, sudah dulu, mama mau ke kamar.” Pinkan pun meninggalkan putrinya.
Sesampainya Pinkan ke dalam kamar, ia menghela nafas panjang. “Huffff... kenapa nasib ku begitu menyedihkan Tuhan?” ia pun mendaratkan bokongnya ke pinggir ranjang lalu memijat pelipisnya.
“Papa selalu mencegah ku untuk ikut bisnis trip, apa kali ini aku diam-diam pergi ke London?” Pinkan telah lama curiga jika suaminya masih main gila, namun untuk menenangkan hatinya, ia pura-pura mengabaikan keadaan.
Tapi kali ini ia memberanikan diri untuk melanggar perintah suaminya, dan juga ia ingin memastikan, di luar negeri suaminya sendiri, atau bersama wanita lain.
Sedang Lula yang ada di kamarnya, kepikiran dengan wajah murung sang ibu.
Ia pun bangkit dari ranjangnya, kemudian menuju lantai 2.
Retek!
Kriettt... Zanjiil membuka pintu kamarnya.
“Ada apa kau kemari?” Zanjiil yang lelah tak mau membuka lebar pintu kamarnya.
“Bang, apa kau tahu mama ada masalah apa?”
“Enggak, memangnya mama kenapa?” tanya Zanjiil.
“Wajahnya nampak pucat, mama seperti banyak pikiran bang, aku kasihan sekali padanya, saat ku tanya, mama tak mau cerita.” meski Lula anak yang bandel, namun ia sangat menyayangi keluarganya.
Apa mama sudah tahu soal hubungan papa dan Esra? batin Zanjiil.
Zanjiil yang melamun membuat Lula semakin curiga.
“Bang, kau tahu sesuatu?” tanya Lula penuh selidik.
__ADS_1
“Masuklah.” Zanjiil yang hanya memiliki adiknya sebagai teman berdiskusi, berniat untuk menceritakan yang ia tahu pada Lula.
Setelah keduanya duduk berhadapan di sofa, Zanjiil pun mulai bercerita.
“La, ku harap kau tak perlu membesarkan hal ini setelah ku ceritakan,” ucap Zanjiil.
“Soal apa bang?” tanya Lula.
“Papa, dia masih suka bertemu dengan Esra, aku curiga, jangan-jangan mereka sudah rujuk,” terang Zanjiil.
“Kau tahu dari mana bang?” Lula yang kesal mengepal tangannya.
“Pak Dimas, tolong kau tutup rapat mulut mu, nanti kalau sampai bocor, pak Dimas akan kena imbas, dan mama semakin sedih,” ucap Zanjiil memperingati adiknya.
“Jangan-jangan saat papa ke luar negeri atau kota, membawa pelacurr itu lagi!” emosi Lula meledak saat sang ibu di khianati kembali.
“Aku tak tahu La, yang jelas aku kasihan pada mama, andaikan nenek telah tiada, pasti ku dukung mama untuk cerai!” ucap Zanjiil.
“Kau salah bang, papa yang akan menendang mama dengan cepat, mama kan sangat menyayangi papa. Papa tetap bertahan dengan mama karena nenek saja.” Lula menghela nafas panjang.
“Aku akan utus ajudan ku untuk mengikuti papa ke London, sempat papa masih bersama wanita itu, ku habisi nyawanya!” Lula yang tak menerima sang ibu merasa sakit untuk kedua kalinya berniat balas dendam.
“Lula, tak usah kau membuat petaka, papa pasti akan tahu pelakunya dirimu, lagi pula, Joe ada disana, yang ada kau yang akan mati konyol! Sikap gegabah mu hanya kan menghancurkan keluarga kita, papa juga akan semakin jauh dari kita,” terang Zanjiil.
“Kau itu selalu saja lemah! Atau kau mau jadi papa yang kedua?! Apa jangan-jangan kau mendukung papa yang mendua? Bagi mu itu biasa bang? Aku sebagai wanita dapat merasakan apa yang mama rasakan!” penuturan Lula membuat Zanjiil curiga, jika sang adik telah memiliki kekasih.
“La, kau belum pacaran kan?” tanya Zanjiil penuh curiga.
“Apa urusan pribadi ku perlu kau tahu juga?” Lula memutar mata malas.
“Oh... putuskan pacar mu itu! Sempat ku tahu kau pacaran, awas saja! Kau itu masih kecil La! Pantasnya kau masih SD menurut usia mu!” Zanjiil yang takutnya adiknya mendapat karma dari perbuatannya mencoba mencegah sang adik agar tak bermain api asmara.
“Iya bang, tenang saja, lagi pula aku tak selera dengan laki-laki yang ada di sekolah ku!” Lula yang pandai bersilat lidah membuat Zanjiil menyudahi nasehatnya.
“Bagus kalau begitu, kau harus bersikap baik La, jangan sampai salah jalan, kau paham kan?”
“Iya bang.” sahut Lula.
“Turunlah, aku mau kencan bersama istri ku.” Zanjiil mengusir sang adik.
“Ya Tuhan, ketemu tiap hari juga, sedangkan dengan ku jarang-jarang mengobrol,” ucap Lula.
__ADS_1
...Bersambung......