
Zanjiil bingung, antara harus mengejar istrinya atau tidak, sedang Gibran langsung menyusul sahabat masa kecilnya.
Liza yang tertinggal memilih untuk kembali duduk di kursinya.
Sial, kenapa Kissky pergi sih! batin Liza.
“Sayang, untung kau datang, wanita itu benar-benar gila! Dia juga!” Luna menunjuk tajam ke arah wajah Liza.
“Heh! Kau duluan ya! Banyak saksinya kok!” Liza si gadis bensin pun dengan cepat menyambar.
“Sudah! Kalian jangan bertengkar lagi, enggak malu apa!” Zanjiil melerai dua wanita yang bagai singa betina itu.
“Makanya ajari pacar mu dengan benar! Jangan asal main tangan sama orang lain! Lain kali begitu lagi, aku botak rambutnya!” Liza memberi gertakan pada Zanjiil dan Luna.
Zanjiil yang tak ingin memperpanjang masalah memilih pergi.
“Ayo!” ia pun membawa Luna untuk kembali ke bangkunya.
“Kenapa kau dan mereka bisa bertengkar?” Zanjiil mencoba memperjelas situasi yang terjadi.
“Perempuan itu, siapa namanya...” Luna memejamkan matanya sejenak, untuk mengingat kembali. “Kissky! Tadi pagi hampir saja membahayakan ku, dia dengan sepeda bututnya melintas di depan mobil ku!” terang Luna, yang masih merasa kesal.
Ia yang ingin merapikan penampilannya mengambil sisir dan kaca dari dalam tasnya.
“Dasar perempuan sinting! Awas saja dia!” ketika Luna menyisir rambutnya, ia pun tersentak.
“Ya Tuhan!!” netranya membuat, bagaimana tidak, mahkota yang ia rawat selama ini, rontok begitu banyak, bahkan lebih banyak dari pada Kissky.
“Kau lihat?!” Luna memungut rambutnya yang tercecer di lantai dan menunjukannya pada Zanjiil. “Apa kepala ku pitak? Coba periksa sayang!” ucapnya panik.
Lalu Zanjiil segera mengecek kondisi kepala kekasihnya lebih jelas.
“Enggak kok sayang,” Zanjiil merapikan rambut Luna.
Orang-orang yang menyaksikan pun menertawai kekonyolan Luna.
Luna yang merasa malu, menatap tajam ke arah Liza. “Kau! Salah satu setannya!” ia pun melempar sisir kesayangannya ke arah Liza.
Liza dengan cepat menghindar agar tak kena.
“Sudahlah, jangan mulai lagi.” Zanjiil menenangkan Luna.
“Tapi dia...” saat Luna masih ingin ngotot untuk balas dendam, tiba-tiba bel sekolah pun berbunyi.
Tet...tet... tet...
Karena cuaca gerimis, maka apel pagi di tiadakan.
Tak lama, Lisa si guru bidang studi matematika memasuki kelas.
Liza yang mengenalinya, sontak menundukkan kepala.
__ADS_1
Semoga dia enggak mengenali ku, batin Liza.
“Selamat pagi anak-anak!!” ucap Lisa, menyapa para siswa-siswinya di pagi yang mendung itu.
“Pagi juga Bu!!” sahut seluruh anggota kelas.
“Perkenalkan, saya Liza, yang akan membawakan pelajaran matematika untuk kalian, selama 2 semester, salam kenal!” ucapnya dengan bersemangat.
“Status Bu?” Rizal menanyakan hal pribadi gurunya.
“Maaf ya, ibu enggak buka sesi pertanyaan,” ucap Liza singkat. Sontak anggota kelas menertawai kegagalan Rizal untuk pendekatan dengan gurunya.
“Oke, buka buku kalian halaman satu ya!” titah Lisa.
Rizal yang merasa patah hati, mulai berkomentar pada Zanjiil yang duduk di belakangnya.
“Kenapa sih, para guru matematika itu rajin-rajin? Pada hal baru masuk sekolah 2 hari, tapi kita sudah di wajibkan belajar, kau lihat kan kemarin, bu Riza, dia malah berhasil kita sita waktu belajarnya selama 1 jam, aduh...” Rizal mengeleng-gelengkan kepalanya.
“Apa kau enggak tahu??”
“Soal apa?” tanya Rizal.
“Yang namanya guru matematika, mau hujan, badai, banjir dan gempa bumi, mereka enggak akan mau absen dari tugasnya.” ucap Zanjiil seraya menahan tawa.
“Iya juga ya, ku rasa, meski itu hari hari kiamat, mereka akan masuk kelas,” ujar Rizal.
“Pokoknya salut untuk seluruh guru matematika.” Zanjiil mengangkat 2 jempol tangannya.
“Kalian sedang membicarakan apa?” Lisa bertanya karena keduanya begitu sibuk, sedang yang lainnya fokus memperhatikan halaman buku yang akan di pelajari.
“Hadir bu!”
“Covitria!”
“Hadir bu!”
“Kissky!” karena tak ada yang menyahut, Lisa pun menoleh ke arah bangku kosong.
Saat Liza ingin mengatakan sedang di toilet, tiba-tiba, Luna menjawab.
“Bolos bu!”
Sontak Liza memelototi Luna. “Masih berani kau ya!” gumamnya.
“Wah!! Baru mulai ajaran baru, tapi preman sekolahnya sudah kelihatan ya!” ucap Lisa, seraya mengingat-ingat siapa pemilik nama itu.
Zanjiil menoleh ke bangku istrinya. Apa dia marah pada ku? batin Zanjiil.
___________________________________________
Sementara Gibran yang dari tadi keluar menyusul Kissky, tak menemukan keberadaan sahabat kecilnya itu dimana pun.
__ADS_1
“Kau kemana sih Ky??” karena hasil pencariannya nihil, Gibran pun memutuskan untuk kembali ke kelasnya.
Kissky sendiri melihat Gibran yang sedang mencarinya, ia yang bersembunyi di ruang praktek Teknik Audio Video, malah tak menyapa sahabatnya itu.
Aku ingin sendiri, batinnya, saat itu, ia tak ingin di ganggu oleh siapapun.
Setelah Gibran pergi, Kissky menuju salah satu kursi yang ada dalam ruang praktek tersebut.
“Aku kesal banget padanya, bisa-bisanya dia berteriak pada ku di depan umum!” ia amat kecewa atas sikap suaminya.
“Tanpa tahu cerita sebenarnya, dia membela wanita itu...” ia yang gundah, memikirkan kembali, tentang posisinya.
“Iya juga sih, si Luna kan pacarnya, sedangkan aku, hanya istri yang tak di cintai, wajar sih, dia membelanya.” setelah pikirannya jernih, ia pun menyesal dan malu atas sikap kekanak-kanakannya.
“Bodoh!!! Kenapa juga sih... aku harus meninggalkan kelas! Kesannya, seperti aku cemburu padanya, akhh!!” ia menjadi malu sendiri.
“Bagaimana aku akan melihat wajahnya?!!” saat ia heboh sendiri dalam ruangan itu, tiba-tiba sebuah benda, jatuh ke lantai.
Prang!!
“Astaghfirullah!” Kissky terkejut bukan main, lalu ia pun melihat kesekitarnya, namun ia tak melihat siapapun, apa lagi benda yang jatuh.
“Yang jatuh tadi apa ya? Dari bunyi jatuhnya sih, seperti suara asbak kaleng,” gumamnya.
Hujan di luar semakin lebat, cuaca mendung membuat ruangan yang minim akan penerangan itu semakin gelap.
Ia yang penasaran pun mencoba mencari tahu, benda apa yang membuat ia kaget dan hampir jantungan tadi.
Saat kakinya baru melangkah, tanpa sengaja ia melihat siluet sosok laki-laki di balik tirai yang menutupi sebuah rangka robot.
Ia yang bernyali, mendadak ciut, terlebih saat siluet itu membalik badannya. Perlahan Kissky mundur dari posisinya berdiri.
“Mau kemana?” ucap seorang pria dengan suara serak.
Kissky yang merinding dari ujung kaki sampai ubun-ubun kepalanya pun dengan secepat kilat, balik kanan dan melarikan diri.
Lorong sepi dan gelap membuat ia makin takut, terlebih ia mengingat gadis yang bunuh diri kemarin.
Aku enggak mau mati disini! batinnya.
Saat ia sampai ke kelasnya, tanpa sengaja ia menabrak tubuh Lisa yang akan keluar kelas. Bruk!! Keduanya terduduk di atas lantai.
“Kau Kissky!” ucap Lisa, yang ingat betul wajaho, yang membuat ia hampir dalam masalah.
“Ibu!” Kissky yang gemetaran tak sanggup berucap lagi.
Lisa yang ingin marah, mengurungkan niatnya, sebab wajah Kissky sangat pucat.
“Ada apa? Apa kau sakit?” tanya Lisa penuh selidik.
”Ada setan bu!”
__ADS_1
“Setan?” teman-teman Kissky yang berada dalam kelas merasa bingung akan ucapan Kissky, di zaman yang modern seperti saat itu, seorang Kissky masih percaya dengan hal mistis.
...Bersambung.......