Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 38 (Ancaman)


__ADS_3

“Jadi itu punya mu?” Luna yang tahu, itu adalah milik Zanjiil menelan salivanya.


Ada hubungan apa sih mereka berdua, batinnya makin penasaran, akan Zanjiil dan Kissky.


“Enggak usah!” Luna tak mau menerima air minum tersebut. “Sayang!”


“Ya?” sahut Zanjiil.


“Temani aku keluar, aku haus dan lapar.” Luna mengajak Zanjiil untuk makan bersamanya.


“Pekerjaan ku masih tanggung, kau saja yang pergi.” Zanjiil yang mulai berubah, membuat Luna resah.


“Pokoknya temani aku!” Luna yang tak terima Zanjiil mengabaikannya lebih sering, menarik tangan jenjang pria tampan itu.


Zanjiil melirik ke arah Kissky, untuk melihat reaksinya, marah atau tidak. Namun Kissky yang dingin hanya fokus ke arah kanvasnya.


Dia enggak perduli sama sekali? batin Zanjiil.


“Aku pergi sebentar.” Zanjiil yang izin berharap di cegah oleh Kissky.


“Oke.” namun sayang, orang yang ia harapkan malah dengan mudah memberi izin.


Dengan terpaksa Zanjiil menemani Luna sang kekasih ke kantin. Luna dengan percaya diri menggandeng tangan kekasihnya keluar dari ruang praktik.


Saat mereka berada di koridor, Zanjiil melepas tangan Luna darinya.


“Kau kenapa sih?” tanya Luna dengan perasaan kesal.


“Malu tahu, kita enggak usah umbar kemesraan lah,” ujar Zanjiil.


“Memangnya kenapa? Sepertinya, sampai saat kita baru masuk sekolah, kau tak masalah dengan apapun, kenapa makin kesini kau dingin pada ku, berubah drastis! Kalau memang kau tak suka dengan kemesraan yang ku tunjukkan di depan umum, kenapa enggak protes dari pertama kali kita pacaran?” Luna mengeluarkan isi hatinya.


“Bukan begitu, aku hanya enggak enak, kalau orang-orang mencibir kita.”


“Itu hanya alasan Jiil! Bahkan aku yang selalu memanggil mu sayang, sekarang sudah tak bisa lagi, karena apa? Karena kau tak melakukan hal yang sama! Kau katakan takut di cibir?!”

__ADS_1


Buk!


Luna memukul dada Zanjiil, “Bukannya dari SMP juga kita sudah jadi buah bibir siswa dan guru? Alasan lagi! Katakan saja, kalau kau suka pada Kissky! Si gadis jelek dan miskin itu!” ucap Luna dengan penuh amarah di hatinya.


“Jangan bawa-bawa dia Lun, dia enggak bersalah, lagi pula aku enggak suka padanya.” Zanjiil memilih berbohong untuk menghindari masalah yang lebih besar.


Buk!


Luna memukul dada Zanjiil kembali, “Kau pikir aku buta! Tak bisa melihat isi hati mu? Aku juga tahu kailu memberi perhatian dan menatapnya diam-diam! Pada hal kau baru mengenalnya, tapi secepat itu kau melupakan aku yang telah 2 tahun lebih bersama mu!”


“Lun, kau salah paham, aku enggak melakukan apa yang kau katakan, aku masih sama seperti yang dulu.” Zanjiil menenangkan Luna yang di kuasai amarah.


“Ingat ya Jiil, aku sudah memberikan segalanya pada mu, kau pun sudah berjanji takkan meninggalkan aku, kalau kau sampai berkhianat pada ku! Akan ku bongkar perbuatan bejat mu pada kekasih mu, atau pun istri mu di masa depan, tak cukup sampai di situ, akan ku katakan juga pada orang tua mu, kalau kau telah merusak ku!” ancaman Luna membuat Zanjiil menyesal, atas kesalahannya di masa lalu.


Ia yang terbawa suasana melakukan hal terlarang dengan Luna. Buah dari perbuatan yang ia lakukan, membuatnya tak bisa lepas dari sang kekasih yang sudah ia ingin tinggalkan.


Kekanak-kanakan banget, batin Zanjiil.


“Maafkan aku, kalau aku bersalah!” ucap Zanjiil.


“Oke, aku mengerti.” setelah memberi peringatan pada Zanjiil, mereka pun beranjak ke kantin.


Luna, makin hari kau makin gila. batin Zanjiil.


Namun seperti biasa, lelaki semakin di kekang, akan semakin menantang.


Zanjiil yang dasarnya liar dan buaya, mulai berpikir untuk melepaskan Luna secara perlahan, meski wanita itu akan berontak.


Tet... tet... tet...


Bel tanda pelajaran berakhir pun berbunyi, Kissky merapikan semua alat lukis yang ia gunakan.


Karena lukisan mereka belum selesai, Kissky pun menggulung kertas kanvas tersebut, untuk di bawa pulang ke rumah.


“Luna kemana sih?!” Liza yang datang ke kursi Kissky celingak-celinguk.

__ADS_1


“Belum selesai makan kali,” ucap Kissky yang masih sibuk mengepak barangnya.


“Iya juga ya. Oh ya Ky, kau tahu?”


“Apa?” sahut Liza.


“Tugas kita yang kemarin, akan di pajang di koridor kelas.” ucap Liza.


“Oh ya?” Kissky tersenyum senang.


“Tapi, khusus yang lukisannya bagus saja!” ujar Liza.


Kissky pun memutar mata malas, “Ya Tuhan, ku pikir semua orang.”


“Iya kali, jurusan seni ada 15 kelas, di pajang semua, yang ada jadi kelihatan numpuk bagai sampah!” ujar Liza.


“Oh iya, kau benar juga, ayo ke kelas, aku mau lihat, punya siapa yang di pajang.” kedua sahabat itu pun kembali ke kelas mereka.


Sesampainya keduanya ke depan kelas, Kissky melihat ke dinding koridor, memeriksa apa miliknya juga ada disana.


“Wah! Punya ku ada!” Liza merasa senang, karena hasil karya pertamanya di akui oleh sang guru seni.


Sialan! Kenapa punya ku enggak ada, pada hal, hasil lukisan ku lebih bagus dari Liza, batin Kissky.


“Tapi punya mu kok enggak ada ya?” ucap Liza, seraya tertawa meledek. Sontak Kissky memutar mata malas.


Lalu, Kissky pun melihat, jika lukisan Gibran, Luna dan Zanjiil juga ada disana.


“Apa-apaan ini? Kenapa hanya aku yang enggak ada?” Kissky menatap tajam ke arah Liza.


“Heh! Mata mu!” Liza mengusap kasar wajah Kissky. “Salahkan Bu Riza, jangan aku!”


“Pasti bu Riza salah pajang karya nih!” ucap Kissky, ia amat cemburu dengan keberhasilan pertama teman-temannya.


...Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2