
“Betul, harusnya kau makan rujak, atau jeruk nipis pakai garam!” ucap Gibran seraya menaruh baksonya ke mangkuk Kissky.
“Benar kata Gibran.” Zanjiil yang tak senang akan kebaikan hati Gibran pada istrinya, mengambil 2 buah bakso yang Gibran taruh di mangkuk istrinya.
Gap! Zanjiil pun memasukkan bakso tersebut ke dalam mulutnya.
“Enak Bran!” ucapnya dengan wajah tengilnya.
“Makan yang banyak kalau begitu.” Gibran tersenyum gagah, meski dalam hatinya merasakan panas membara.
“Sudahlah, hentikan perdebatan di antara kalian, mari makan!” ucap Liza.
Mereka berempat pun malai menyantap hidangan yang ada di hadapan mereka masing-masing.
Pukul 16:00 sore, bel sekolah pun berbunyi. Tet... tet... tet...
Semua siswa dan siswi keluar dari kelas mereka masing-masing.
Zanjiil yang masih duduk di kursinya mengirim pesan pada Kissky.
Kita naik apa ke stasiun? ✉️ Zanjiil.
Kissky tersenyum, karena merasa lucu, sebab mereka ada di satu tempat, tapi harus berkirim pesan.
Angkot ✉️ Kissky.
__ADS_1
Baiklah ✉️ Zanjiil.
“Ky, aku sudah pindah ke kosan loh, kau mau main ke kosan ku sekarang?” Liza yang kesepian berniat mengajak Kissky menginap di kosannya.
“Maaf, aku ada acara hari ini, lain waktu saja.” Kissky yang terburu-buru menyandang tas ranselnya. “Za, aku duluan ya!” Kissky berpamitan pada sahabatnya.
“Kau mau kemana? Main ke kosan ku dulu, nanti ku traktir! Ayolah...” Liza mencoba membujuk Kissky.
“Lain kali, oke! Kalau sekarang aku benar-benar tak bisa, ada acara yang lebih penting.” setelah itu Kissky meninggalkan Liza di kelas.
Sedang Zanjiil yang berjalan di belakang Kissky tersenyum, sebab ia melihat istrinya begitu bersemangat di hari pertama mereka kencan.
Setelah keduanya keluar gerbang sekolah, Zanjiil dan Kissky berjalan dengan posisi bersebelahan.
“Cuma 300 meter, anggap saja olah raga!” ujar Kissky.
“300 meter berjalan dengan kaki mu yang pendek bisa makan waktu 7 menit Huwl!”
“Terus bagaimana? Kau sendiri tahu, kalau disini transportasi online jarang dapat, kendaraan umum apa lagi, harusnya jangan suruh pak Dimas pulang tadi!” pekik Kissky.
“Kenapa kau jadi marah?”
“Habis kau mengeluh, pada hal salah mu sendiri!” ujar Kissky.
“Ya... baiklah! ini salah ku!” Zanjiil yang tak ingin ada keributan menggenggam di antara mereka memilih diam, lalu lelaki tampan itu menggenggam tangan istrinya.
__ADS_1
“Apa lagi ini?” ucap Kissky seraya melihat ke tangan mereka berdua.
“Aku lagi isi baterai.” jawab Zanjiil seraya memandang lurus ke arah jalan yang akan mereka tempuh.
“Apa?” Kissky pura-pura tak mengerti meski sudah tahu maksudnya.
“Kalau kau mau aku tetap prima sampai pangakalan, diam saja!” ucap Zanjiil.
“Tapi Jiil, malu tahu di lihat banyak orang, zaman sekarang mana ada orang yang jalan kaki sambil pegangan tangan,” Kissky tak dapat melihat wajah orang-halayak yang memperhatikan mereka.
“Kau kan istri ku, harusnya kau bersyukur, aku mau melakukannya pada mu, banyak suami yang mengabaikan istrinya setelah menikah, walau sepele, tapi nyaman kan Huwl?!” suara Zanjiil yang gagah membuat Kissky gerah di cuaca yang telah terik.
Wajah gadis cantik itu pun menjadi merah padam menahan malu, sebab yang di katakan Zanjiil benar adanya.
“Terserah kau saja! Kalau aku minta lepas, pasti kau tak mau!” Kissky berlagak tak suka agar Zanjiil tak mengetahui isi hatinya.
Kemudian keduanya pun mulai melangkah dengan jangtung berdebar-debar.
Dosa enggak ya, kalau aku bahagia di atas penderitaan Luna? batin Zanjiil.
Kissky terus melihat ke arah tangannya yang di genggam oleh Zanjiil.
Ia yang ingin membalas genggaman itu merasa tak percaya diri.
...Bersambung......
__ADS_1