
Namun Zanjiil yang ingin menghabiskan malam dengan Kissky tak mau beranjak dari sana.
“Kita itu jarang keluar Ky, kenapa sih, kau tak mengerti arah dan tujuan ku?”
“Kalau memang mau menginap di tengah laut, kenapa enggak bawa perlengkapan? Ini sih namanya menyiksa pasangan!” Kissky memeluk dirinya karena tak sanggup menahan dinginnya angin laut.
“Ku pikir kau kuat,” ucap Zanjiil.
“Kuat ku hanya mencintai mu, bukan menahan dingin.” Kissky yang belajar romantisme pada Liza, mempraktikkannya pada Zanjiil.
Sontak Zanjiil tersenyum tipis, dan menggaruk kepalanya dengan telunjuknya.
“Kemarilah!” Zanjiil yang duduk mengulurkan tangannya pada Kissky yang berdiri di sebelahnya.
“Enggak mau! Sebelum kau bawa aku pulang.” Kissky masih bersikeras untuk kembali ke vila.
“Iya, tapi kesini dulu, ada yang ingin ku katakan pada mu.” Zanjiil membujuk Kissky, hingga istrinya menggenggam uluran tangan Zanjiil.
Kemudian Zanjiil menuntun Kissky untuk duduk di pangkuannya.
“Lihat.” Zanjiil menunjuk ke arah langit yang di hiasi bintang. “Apa kau bisa melihatnya di kota? Dan apa kau tak ingin merasakan sensi tidur di tengah lautan?” Zanjiil memeluk tubuh Kissky agar merasa hangat.
Kau benar, tapi... kenapa kau enggak sekalian menyewa 1 kapal pesiar untuk kita berdua? Itu akan lebih romantis dan menyenangkan, yang kau lakukan sekarang, akan membuat kita sakit, kalau sampai aku masuk angin, kau harus tanggung jawab!”
“Iya, nanti aku akan mengerok mu, xixixi...” Zanjiil tertawa seraya menaruh keningnya di bahu Kissky.
Kissky pun ikut tertawa, karena wajah Zanjiil begitu lucu di matanya.
“Tapi Ky, kalau kita terseret ombak, lalu terdampar di pulau tak berpenghuni, pasti seru.” Zanjiil berkhayal, jika itu terjadi, ia ingin membuat rumah gubuk bersama Kissky.
Ia yang bosan dengan aktivitas yang di beri ayahnya selama ini, selalu ingin melarikan diri dari kenyataan.
Jujur, aku ingin hidup normal, tak apa-apa jika hidup pas-pasan, yang penting aku tak melakukan dosa itu lagi, batin Zanjiil.
“Ky... ayo tidur, aku lelah.” ucap Zanjiil.
“Sekarang?” Kissky tak mengira, kalau malam itu lewat begitu saja, tanpa melakukan ciuman dengan suaminya.
“Kau ngantuk jugakan?” Zanjiil pun menurunkan Kissky dari pangkuannya, selanjutnya ia berdiri.
“Ya, kau benar, aku memang mau tidur.” meski ingin, tapi Kissky tak berani melakukannya lebih dulu.
Kemudian mereka berdua pun masuk ke dalam bagian speed boat yang memiliki atap.
Dan mereka pun merebahkan tubuh di atas tikar yang begitu tipis. Lalu Zanjiil meletakkan kepala Kissky di atas lengannya. karena selain tak ada kasur, merek juga tak punya bantal.
“Selamat malam Ky.”
Cup!
__ADS_1
Zanjiil mengecup pipi kanan Kissky. Setelah itu lelaki tampan itu memejankan matanya.
Meski telah mendapat satu ciuman, Kissky merasa kurang afdol, jika bibirnya tak di sentuh juga.
Malam pun semakin larut, namun Kissky tak kunjung tidur.
Ia sangat ingin mencium bibir Zanjiil, namun sayangnya, ia tak berani.
Gila banget kalau aku harus jadi satpamnya semalaman penuh, batin Kissky.
Kissky yang ingin segera tidur, mengobati hatinya yang penasaran.
Lalu Kissky dengan sangat hati-hati mencium bibir menggoda suaminya.
Cup!
“I'm crazy loving you, tuan Zanjiil.” ucap Kissky.
“Me too.” Zanjiil pun memeluk istrinya, begitu pula dengan Kissky.
Dasar Zanjiil, selalu saja mengerjai ku, batin Kissky.
______________________________________
Liza yang berada di ranjangnya menangis bagai anak kecil.
“Hiks! Joe, sakit banget, hiks...”
“Hoek!” Tiba-tiba Liza ingin muntah. Ia merasa kalau perutnya kembung.
“Apa kau masuk angin?” tanya Joe.
“Mungkin.” wajah Liza menjadi pucat seketika.
“Permisi, maaf ya.” Joe menepuk perut penuh lemak Liza.
Puk puk puk.
“Ternayata benar, kau memamg masuk angin,” ucap Joe.
“Apa jangan-jangan aku bunting?” Liza mencengkram kuat lengan Joe.
“Memangnya bisa langsung hamil?” Joe yang tak mengerti siklus mengandung bertanya kembali pada Liza.
“Ya, aku mana tahu, yang penting kata orang, kalau dua insan bersatu, akan ada anak.” Liza menggaruk kepalanya.
“Agar lebih akurat, beli tespek saja.” Joe memberi usul pada Liza.
“Benar, tapi kau yang harus beli, karena kalau aku, sudah jelas kasirnya curiga. Tapi jika itu kau, katakan saja untuk nenek mu.”
__ADS_1
“Baiklah.” Joe yang telah terperangkap dalam lautan cinta Liza, hanya mengangguk setuju dengan apa yang di katakan kekasih barunya.
Ia yang hanya patuh pada ibunya dan juga Basuki, tanpa sadar menambah Liza sebagai pesuruh di hatinya.
“Za, setelah ini kita apa?” Joe yang bagai singa liar di mata korbannya, malah jadi kambing di hadapan Liza.
“Mungkin kita harus mandi, lihatlah, darah ku banyak sekali.” Liza menunjukkan bekas darah sucinya yang terdapat di selimut.
“Baiklah.” Joe pun turun dari ranjang, saat ia ingin berjalan terlebih dahulu, Liza memegang tangannya.
“Bantu aku ke kamar mandi, rasanya perih sekali,” pinta Liza.
Joe yang ternyata lebih lembut pada wanita di bandingkan Zanjiil pun menggendong Liza ala bridal style menuju kamar mandi.
_______________________________________
Keesokan hatinya, Kissky yang terbangun dari tidurnya merasa heran, sebab speed boat mereka telah sampai di pinggir pantai.
“Apa tadi malam Zanjiil membawa speed boatnya pulang?” namun Kissky merasa aneh, sebab vila milik Rabbani tak ada di sepanjang matanya memandang.
“Oh, mungkin karena kita berada di belakang pulau.” Kissky masih berpikir positif.
Kemudian ia yang telah lapar, turun dari speed boat menuju vila tanpa membangunkan Zanjiil terlebih dahulu.
Kemudian Kissky yang berjalan di atas pasir putih melihat banyak kepiting, kerang dan juga bintang laut.
“Wow, keren banget!” Kissky merasa senang dengan apa yang ia temukan. Rasa laparnya seketika hilang karena terpesona oleh keindahan pantai yang di huni banyak binatang laut yang jarang ia lihat.
Kissky pun memotret apa yang ada di hadapannya, kakinya juga terus melangkah, mengikuti seekor kepiting besar yang berjalan masuk ke dalam pepohonan hijau.
Zanjiil yang baru bangun, celingak-celinguk, matanya mencari keberadaan Kissky yang tak ada dimana pun.
“Kissky, apa kau masih hidup?” saat nyawa Zanjiil telah terisi penuh, ia pun menatap lurus ke depannya.
“Dimana ini?” hatinya bertanya-tanya, sebab ia sama sekali tak mengenal pulau kecil itu.
“Astaga! Jangan-jangan dia kesana lagi!” Zanjiil yang yakin jika istrinya mengira itu adalah pulau milik keluarganya.
Cak cak cak!
Zanjiil lari di atas air laut yang tenang dan dangkal.
“Kissky!!! Kau dimana?!!” Zanjiil berteriak, agar sang istri dapat mendengar suaranya.
Zanjiil pun berulang kali memanggil nama Kissky, namun sayang, sang istri tercinta tak kunjung menyahut.
“Gawat! Apa dia jatuh ke laut saat kami tidur? Atau dia tersesat dalam hutan?” Zanjiil menatap ke rerimbun hutan yang ada di hadapannya.
“Jangan-jangan dia dalam bahaya lagi, ya Tuhan, aku harus cepat!” Zanjiil yang khawatir pada istrinya tanpa pikir dua kali menerobos hutan yang tak pernah di jamah manusia itu.
__ADS_1
...Bersambung......