
Sesampainya mereka ke psntai, Zanjiil dan Kissky melihat Lula dengan gaya ala detektif lengkap dengan kaca mata hitamnya.
“Ayo pulang! Mama khawatir di rumah karena ulah mu!” pekik Lula.
“Lula, kau jangan marah-marah pada Zanjiil, dia tak bersalah, ini murni karena musibah,” Kissky membela suaminya.
“Musibah yang di sengaja, baru betul!” tak lama Seno datang dengan menarik speed boat yang di pakai oleh Zanjiil dan Kissky.
Mata Kissky membelalak saat mengetahui kenyataan sebenarnya.
“Kau merencanakan ini semua?” tanya Kissky seraya berkacak pinggang.
Lalu Zanjiil menggaruk kepalanya, ia menjadi tak enak karena telah ketahuan.
“Zanjiil! Jawab aku!” Kissky yang merasa di bohongi, menjewer telinga suaminya.
“A-a! Iya aku jujur, memang ini semua sudah ku rencanakan, karena ku pikir mama dan papa pulang 3 hari lagi,” terang Zanjiil.
Flash Back!
Malam itu, ketika Kissky tertidur nyenyak, Zanjiil yang kedinginan tak dapat memejamkan matanya, ia pun bangun dari tikar.
Zanjiil yang ingin jalan-jalan, melajukan speed boat menuju ke arah barat laut. Awalnya Zanjiil hanya sekedar melepas penat di kepalanya.
Namun ia yang baru membaca komik sepasang kekasih, harus berjuang hidup di tengah hutan pun, seketika terinspirasi untuk melakukan hal yang sama.
Kemudian Zanjiil melajukan speed boatnya ke tempat yang lebih jauh. Yaitu ke sebuah pulau kecil yang pernah ia datangi sebelumnya. Tak ada yang tahu tempat itu selain dirinya.
Selanjutnya Zanjiil menurunkan jangkar. Ia yang merasa ngantuk, merebahkan tubuhnya di sebelah Kissky kembali.
Pagi harinya, Zanjiil yang bangun setelah Kissky, tak mendapati istrinya dimana pun. Dan itu sangat membuat dirinya khawatir. Terlebih di dalam hutan pulau itu banyak sekali jenis ular berbahaya.
Zanjiil yang siaga ternyata membawa pisau dan juga pistol di saku bagian dalam jaketnya.
Setelah itu ia turun dari speed boat dan mencari istrinya.
Zanjiil yang tak menemukan Kissky dimana pun sempat berpikir akan mengakhiri rencananya, apabila sang istri telah temukan.
Namun saat Zanjiil bertemu Kissky, ternyata istrinya baik-baik saja. Bahkan Kissky makin jahil dari biasanya padanya.
__ADS_1
Katena itu, Zanjiil yang kesal berniat balas dendam, dengan melanjutkan rencananya.
Zanjiil kemudian membawa Kissky yang tak tahu daerah itu, ke arah berlawanan dimana mereka menaruh speed boat sebelumnya.
Flash Back Off
“Aduh bang Zanjiil, kau ada-ada saja, mama sampai khawatir pada mu, ia sangat sedih, ku rasa dia sudah berpikir kau mati,” terang Lula.
“Ya maaf, aku tak tahu kalau mama akan pulang secepat itu,” ucap Zanjiil.
“Heem! Sudah La, kita pulang duluan, biarkan saja dia di sini!” Kissky yang ingin pergi di tahan oleh Zanjiil.
“Naik speed boat ku saja.”
“Ta-tapi! Aku lagi marah pada mu, jadi sampai 2 jam ke depan, aku memutuskan mu!” Kissky memutuskan Zanjiil untuk yang kedua kalinya.
“Enak saja, semua semau mu terus, enggak bisa, kalau kau tak minta balikan pada ku dalam 15 menit ke depan, kita putus sungguhan.” Zanjiil membalas perbuatan Kissky yang sering berkata seenaknya padanya.
“Aku enggak mau!”
Lula mengernyitkan dahinya, saat ia melihat cekcok antara abang dan kakak iparnya.
Apa-apaan mereka? Gayanya aneh banget, pada hal suami istri, memangnya ada yang begitu ya? batin Lula.
“Kalau tak mau nurut, aku akan mengabulkan keinginan kalian untuk tinggal disini selamanya!”
Berkat suara dari sang adik ipar, Kissky mau ikut dengan suaminya.
Mereka pun pulang ke Vila terlebih dahulu, setelah itu, Seno mengantar mereka menuju pelabuhan dengan helikopter.
Sesampainya di rumah, Kissky dan Zanjiil menemui Pinkan, yang terbaring lemah di kamarnya.
Ketika Pinkan melihat wajah putranya, hatinya sangat gembira, semangatnya tumbuh kembali, sebab sang buah hati, harapan untuk membelanya dalam segala hal, telah pulang dengan keadaan sehat, begitu pula dengan menantunya.
Meski sangat ingin memeluk Zanjiil, namun Pinkan yang biasa tegas mengurungkan niatnya.
“Apa menurut mu yang kau lakukan itu lucu Jiil? Kalau kau ingin main drama, setidaknya yang kau bohongi cukup Kissky saja, bukan semua orang, mama juga enggak masalah kalau kau lebih lama lagi disana, sikap mu yang sekarang membuat mama hampir meledak!” terang Pinkan.
“Maaf ma, aku salah, dan... apa mama baik-baik saja? Ku lihat wajah mama pucat banget,” Zanjiil mengelus wajah Pinkan.
__ADS_1
“Mama baik-baik saja, tak perlu ada yang di khawatirkan! Sekarang, kalian istirahatlah ke kamar masing-masing!” titah Pinkan.
Sebelum pergi, Kissky menggenggam tangan Pinkan.
“Maafkan aku juga ma, karena sudah membuat mama cemas, semoga mama cepat sembuh.”
“Ya, terimakasih banyak nak, sudah, kalian pergilah mandi, karena badan kalian berdua membuat mama ingin muntah.” kejujuran hati Pinkan membuat Kissky dan Zanjiil melihat satu sama lain.
“Baik ma,” jawab keduanya dengan serempak.
Kemudian Kissky dan Zanjiil beranjak menuju kamar mereka untuk membersihkan diri.
Lula yang masih berada di kamar Pinkan, mengambil duduk di pinggir ranjang ibunya.
“Ma, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa pulang dari London, mama malah sakit begini?” tanya Lula penuh selidik.
“Tidak ada apa-apa, mama hanya kurang polesan make up saja.” Pinkan enggan memberitahu putrinya apa yang sebenarnya terjadi, ia juga ragu, kalau dirinya dan anak-anaknya tak sependapat, jika ingin membunuh Basuki.
Untuk itu, Pinkan ingin mengurusnya sendiri. Ia tak ingin, jika ada orang lain yang menghentikan rencananya.
“Aku tahu, mama pasti ada masalah, apa itu soal papa ma? Tolong jujur pada ku.” Lula sangat hapal, jika sang ibu resah dan gelisah, pelaku yang mampu menggoncang sang ibu hanyalah ayahnya.
“Lula, dari pada kau ingin tahu banyak soal mama, lebih baik kau kembali ke asrama. Belajar yang benar, agar jadi orang yang berguna,” terang Pinkan.
Karena sang ibu menolak untuk bercerita padanya, tak ada alasan lagi untuk Lula berada di rumah hari itu.
“Baiklah, tapi kalau sewaktu-waktu mama butuh bantuan ku katakan saja, karena aku akan selalu ada buat mama.” Lula yang sayang Pinkan, rela melakukan apapun demi kebahagiaan sang ibu.
Berbeda dengan Zanjiil, yang masih menyaring setiap apa yang di katakan Pinkan atau Basuki.
“Lula!”
“Iya ma?” sahut Lula.
“Makan teratur dan tepat waktu, kau minggu depan akan latihan Kyokushin bersama Hera, jadi persiapkan dirimu, karena Hera, takkan sungkan-sungkan pada mu,” terang Pinkan.
“Oke ma.” meski tak ingin, namun Lula tak dapat menolak kehendak sang ibu.
Selanjutnya Lula keluar dari kamar Pinkan, “Bisa mati konyol aku di tangan Hera.” kegilaan Hera membuat Lula gentar, apa lagi sebelumnya ia memarahi Hera.
__ADS_1
“Bukan Zanjiil yang ku harapkan jadi pewaris utama.” Pinkan yang telah menaruh kepercayaan pada Lula berencana, setelah Basuki mati, ia akan memberi tanggung jawab pada Lula untuk mengelola bisnis ilegal mereka, sedang yang legal di pegang oleh Zanjiil. Karena menurut pengamatan Pinkan. Lula lebih keras dan tegas dari pada Zanjiil yang masih labil.
...Bersambung......