Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 105 (Patah Hati Nasional)


__ADS_3

Esra menatap tajam Pinkan yang kini duduk di hadapannya.


Tik!


Pinkan membakar rokoknya dengan pemantik klasik kesayangannya.


Wushhhh!! Pinkan menghisap filter rokoknya dengan tenang


“Sudah lama aku tak merokok.” ucap Pinkan pada madunya.


“Hiks... hiks...” Esra tak dapat menahan air matanya karena rasa sakit yang begitu perih di wajahnya.


“Esra, kita ini jarang-jarang bertemu, ku minta kau hentikan tangis mu, karena aku ingin curhat pada mu.” pikiran Pinkan jadi lebih tenang berkat sebatang rokok yang di tambah bumbu penyedap di dalamnya.


“Aku menyesal membiarkan mu hidup, tapi kalau ku pikir lagi, pasti Basuki akan tetap mencari wanita lain, jika kau tak ada, yang membuat ku tambah kesal pada mu, karena kau tak hanya merebut orang yang ku cintai, kau bahkan ingin merebut harta kami juga, pikir yang benar dong Esra, kau itu tidak lebih dari sebuah benalu, kenapa tak cukup dengan apa yang kami beri selama ini? Anak-anak mu sekolah di tempat bagus, dan kau mendapat kompensasi juga tiap bulannya, cih! Tak tahu diri!” Pinkan meludah di lantai.


Esra tak dapat membantah setiap pernyataan yang di paparkan oleh Pinkan.


Brak!


Suara pintu yang terbuka dengan keras menyita fokus Pinkan dan Ersa. Dan ternyata yang datang itu adalah Basuki.


“Ersa!!” Basuki menatap ngeri wajah istri mudanya yang bersimbah darah.


“Sayang...” Esra yang manja bangkit dari duduknya, kemudian memeluk Basuki tanpa merasa bersalah pada Pinkan.


“Pasti kau kesakitan.” Basuki mengelus puncak kepala istri mudanya.


“Iya, sangat sakit, sayang!”


Aku lah yang lebih sakit, keparat! batin Pinkan.


Bagaimana tidak, suami dan madunya bermesraan di depan matanya.


Keadaan seolah terbalik, yang mana Pinkan terlihat seperti perusak di rumah tangga Esra dan Basuki.


“Nanti kita langsung operasi.” Basuki memeluk Esra.


”Iya, dia begitu kejam, datang tiba-tiba dan melukai ku, caranya begitu kotor, mengikuti kita sampai kesini.”

__ADS_1


Penjelasan Ersa yang tak merasa sungkan sedikit pun membuat Pinkan tertawa getir.


Ia pun kembali menyalakan rokoknya, kemudian menonton dua orang yang tak menganggapnya ada disana.


“Xixixi...” suara tawa Pinkan yang terus berlanjut membuat Basuki menaruhnya pandang pandang padanya.


“Apa ada yang lucu?” pertanyaannya Basuki makin membuat tawa Pinkan pecah.


“Lihatlah, wanita itu meledek ku, kenapa kau tak segera menceraikannya sayang? Aku muak sekali tiap kali melihatnya berada di samping mu.” diam-diam ternyata Esra mengikuti acara tv atau surat kabar, yang memberitakan kesuksesan keluarga Rabbani.


“Kau tunggulah di luar, aku mau bicara padanya sayang.” Basuki meminta Esra untuk keluar kamar.


“Mana mungkin aku keluar dengan keadaan begini, aku malu sayang!”


“Ya, pelacurr mu benar, biarkan dia disini, apa salahnya dia mendengar apa yang ingin kau katakan?” Pinkan tak masalah bila harus adu mulut atau otot dengan Basuki di hadapan Esra.


“Baiklah kalau itu mau mu. Jadi... kenapa kau mengikuti ku kesini?” tanya Basuki.


“Untuk memastikan, si ****** mana yang akan kau bawa kemari, aku masih istri sah mu, walau kau mengizinkan ku pergi berzinah dengan orang lain, namun hati ku tetap penasaran, wanita gatal mana yang berhasil menggoyahkan iman ayah dari anak-anak ku.” penjelasan dari Pinkan membuat Basuki memijat pelipisnya.


“Sekarang kau sudah lihat, dan aku akan mengakui, kalau aku masih bersama dengannya. Ku harap kau mencari hati yang lain, aku takkan bisa memberi hati ku pada mu Pinkan, maafkan aku. Aku akan tutup mata pada perbuatan mu kali ini, tapi tidak untuk lain kali. Berhenti, sebelum aku marah pada mu.” kata-kata terakhir dari Basuki membuat Pinkan menutup pintu maaf untuk suaminya.


“Baiklah.” Pinkan mengelus dadanya, ia yang tak punya keperluan lagi di Negera itu memutuskan untuk pulang ke Indonesia.


________________________________________


Pagi harinya, Kissky yang sudah lengkap dengan seragamnya, mencari ayahnya ke ruang kerja.


“Papa, apa aku boleh masuk?” Kissky meminta izin pada ayahnya terlebih dahulu.


Ahmad yang sedang menyalin dokumen dalam laptopnya mempersilahkan putrinya masuk.


“Ya, silahkan nak.”


Setelah mendapat izin, Kissky masuk dan duduk di hadapan meja kerja sang ayah.


“Ada apa, pagi-pagi sudah menemui papa?” Ahmad pura-pura tak tahu akan tujuannya Kissky.


“Pa, aku melihat papa dengan wanita kemarin masuk hotel.” Kissky merasa sedih bila mengingat kejadian itu.

__ADS_1


“Lalu? Apa kau keberatan?” respon di luar dugaan sang ayah membuat Kissky mengernyitkan dahinya.


“Pa, apa yang papa pikirkan? Bukankah sudah ada mama yang baik hati? Mama sangat menyayangi papa selama ini, apa papa tidak kasihan pada mama?” Kissky menahan tangis, sebab sang ayah begitu berubah di matanya.


“Papa memang punya kalian, tapi papa tak punya anak, Ky... papa sangat ingin anak, yang lahir dari rahim istri papa, apa itu salah?” ucap Ahmad.


”Jelas salah pa, kenapa papa tak minta izin dulu pada mama, bicarakan baik-baik. Yang paling membuat ku tak suka, wanita itu ingin menguasai harta papa dan mama, hiks...” Kissky menangis karena merasa sedih.


“Jika dia mampu memberikan papa anak, papa juga akan memenuhi segala kemauannya, jadi tolong mengerti posisi papa, lagi pula, kau tak punya hak bicara dalam hal ini, karena kau bukan anak kandung papa, dan... harusnya kau bersyukur, papa menjodohkan mu, pada orang yang menjadikan mu, salah satu wanita terkaya di negeri ini, tolong jangan lagi mencampurinya urusan papa dan mama.” ucap Ahmad.


Hati Kissky makin hancur atas perkataan sang ayah, sebab Ahmad terlihat tak menyukainya lagi.


“Kissky tahu pa, setidaknya pikirkan perasaan mama, hati mama pasti sakit, kalau tahu papa punya istri lain.”


prang!!


Gelas kaca berisi teh manis yang ada di tangan July jatuh ke lantai.


Sontak Kissky dan Ahmad menoleh ke arah pintu.


“Mama!” mata Kissky membelalak, begitu pula dengan Ahmad.


“July!” Ahmad bangkit dari duduknya.


“Apa aku tak salah dengar? Kau punya istri lain pa di luar sana?” air mata wanita cantik itu berlinang.


“Mama, papa bisa jelaskan!” Ahmad pun mendatangai July ke pintu.


Kissky yang merasa bersalah, tak tahu harus berbuat apa.


Harusnya aku tak gegabah, ya Tuhan, semoga mama dan papa tak Bertengkar, batin Kissky.


“Mama, ini tak seperti yang mama bayangkan, papa hanya...”


”Hanya apa pa? Hanya ingin suasana baru atau apa?”


“Papa...” Ahmad bingung harus berkata apa pada istrinya.


“Apa pa? Kalau hanya suasana baru, haruskah ada akad? Teganya kau pada ku pa, oh! Inikah alasan dari kepulangan mu yang selalu terlambat, dan apa ini sebab kau selalu sering berkata , kalau kau ke luar kota?!” July berteriak histeris karena kecewa.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2