Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 112 (Sialan)


__ADS_3

“Kissky!! Kissky!!” Zanjiil memanggil-manggil nama istrinya.


“Kau dimana sayang?? Jawab aku?!” Zanjiil yang ingin menghubungi Kissky harus terkendala oleh jaringan.


“Sial! Kenapa tak ada sinyal disini?” Zanjiil begitu emosi, ingin rasanya ia membanting handphone apelnya.


Kemudian ia pun melanjutkan langkahnya menyusuri hutan yang memiliki semak belukar tinggi.


“Harusnya aku mendengarkan dia tadi malam, aku yang bodoh malah egois, bahkan Tuhan mengabulkan permintaan konyol ku, ya Allah, engkau maha baik pada ku.” Zanjiil terus melangkah semakin dalam, hingga ia tak menemukan cahaya di langit, akibat daun pepohonan yang menjulang tinggi saling terhubung satu sama lain.


Seketika Zanjiil menjadi kalang kabut, ia yang sudah menyusuri hutan itu selama 3 jam belum menemukan istrinya.


“Kau dimana sayang, jangan tinggalkan aku.” Zanjiil hampir saja menangis, ia yang tak tahu arah, tiba-tiba sudah keluar dari dalam hutan.


Zanjiil pun melihat ke laut lepas, lalu ia berteriak sekencang-kencangnya.


“Kissky!! Kau dimana?!!”


“Disini.” sahut Kissky dengan suar pelan.


Sontak Zanjiil menoleh ke sumber suara. Dan ia pun melihat istrinya sedang duduk di bawah pohon kepala yang ada di belakangnya.


“Kissky!” Zanjiil mendatangi istrinya yang berlindung dari sengatan matahari.


“Kau darimana saja?” Zanjiil mencengkram kedua lengan istrinya.


“Habis keliling dan menunggu mu datang,” ucap Kissky.


“Aku lelah mencari mu, suara ku juga hampir habis memanggil nama mu.” terang Zanjiil dengan perasaan lega.


“Aku dengar kok.” jawab Kissky dengan santai.


“Apa? Kau dengar? Lalu kenapa kau tak menyahut??” Zanjiil jadi naik pitam karena istrinya.


“Aku malas, nanti aku yang haus jadi tambah haus lagi.” Kissky tak merasa bersalah sama sekali, sebab ia tak tahu perjuangan suaminya untuk menemukannya.


“Sialan!” Zanjiil menjitak kepala Kissky.


“Kenapa kau jadi marah??” Kissky memelototi suaminya.


“Jelas aku marah bodoh, ku pikir kau di makan jangkrik atau apalah yang ada disini! Dan karena mu aku menerobos hutan tanpa alas kaki, betul-betul durhaka! Sejak kapan kau mendengar suara ku?” tanya Zanjiil penasaran.


“Ya... kira-kira 2 jam yang lalu.” pengakuan dari Kissky membuat kesabaran Zanjiil habis.


“Hufft...” Zanjiil menghela nafas panjang, setelah itu, ia mengangkat tubuh Kissky ala bridal style menuju laut yang memiliki ombak rendah.


“Mau apa kau?!” Kissky marah pada Zanjiil karena telah mengganggu posisi santainya.


“Menghajar mu!” pekik Zanjiil.


Kissky yang ada di gendongan suaminya, meronta dan meminta turun. Namun Zanjiil tak mengabulkan keinginan istrinya.

__ADS_1


Cbuurr!!


Zanjiil membuang tubuh Kissky ke air laut sedalam lutut.


“Kau sudah gila ya?? Aku enggak mau mandi air asin tahu!” Kissky memarahi suaminya.


“Salah sendiri, kenapa mengerjai ku!” Zanjiil hang berdiri tegap, bersedekap di hadapan Kissky.


“Ya maaf, kalau begitu ayo kita pulang, aku lapar.” Kissky bangkit dari air.


“Nah! Itu dia masalahnya,” Zanjiil menggaruk kepalany.


“Apa? Tadi kau bilang masalah?” Kissky mengernyitkan dahinya.


“Ya, kita... tersesat.”


“Serius?” Kissky menepuk keningnya.


“Hum! Parahnya, tak ada sinyal disini,” terang Zanjiil.


Mendengar kata sinyal, Kissky teringat akan handphone yang berada di saku celananya.


“Zanjiil!!”


Zanjiil yang melihat api amarah di mata Kissky memilih untuk melarikan diri menuju speed boat mereka.


“Jangan lari kau! Kalau sampai handphone ku rusak! Ku makan kau!” Kissky terus mengejar Zanjiil yang telah jauh dari hadapannya.


Sesampainya mereka ke tempat speed boat mereka sandar, keduanya mendadak lemas, sebab alat transportasi mereka pulang, hilang entah kemana.


“Enak saja! Kau juga salah, harusnya dari awal kau menyahut saat ku panggil!” Zanjiil membela dirinya.


“Dari awal kau memang salah! otak mu masih ingat kau mengajak nginap di laut, tanpa memikirkan ombak akan tinggi atau tidak!”


“Maaf.” seketika Zanjiil merasa bersalah.


“Ya sudahlah, apa boleh buat, papa dan mama pasti mengerahkan timsar untuk menemukan kita.” sadar tak akan berguna jika bertengkar, Kissky pun berdamai dengan keadaan.


“Carilah tempat yang teduh, aku akan mengambil kelapa untuk mu.” lalu Kissky melihat ke arah pohon kelapa yang ada di belakang mereka berdiri.


“Baiklah, aku akan menangkap kepiting besar untuk kita makan.” ucap Kissky.


“Oke, hati-hati kena capit, nanti kalau tangan mu terluka, kita pasti repot mencari obat.”


“Ya, baiklah!!!”


Kissky dan Zanjiil pun mengerjakan tugas mereka masing-masing.


Kissky yang melihat banyak kepiting besar di hadapannya menjadi heboh sendiri.


Pasalnya, ia yang awalnya mengejar kepiting malah di kejar kawanan kepiting.

__ADS_1


“Akhh!! Tolong!!” Kissky berteriak, karena takut kena capit kepiting laut berwarna hitam kecoklatan yang dendam kepadanya.


Kissky pun lari hingga ke bawah pohon kenapa yang sedang Zanjiil panjat.


“Awas! Nanti kepala mu pecah!” Zanjiil takut, kelapa yang ia putar jatuh ke kepala istrinya.


“Kepitingnya jahat, aku takut!!” teriak Kissky.


“Ya sudah, menyingkir dari situ, cari tempat aman!”


“Akhh!!” Kissky yang takut karena kepiting itu makin mendekat berlari menjauh, ia yang terpojok pun terpaksa menaiki sebuah pohon kelapa yang condong ke pantai.


Zanjiil yang melihat istrinya berteriak histeris seraya berpelukan ke pohon malas makin santai untuk mengambil kelapa lebih banyak, sebab ia berpikir istrinya telah aman.


Buk buk buk!


Setelah menjatuhkan 10 buah kelapa, Zanjiil pun turun.


“Hum?” ia merasa bersyukur, sebab kelapa yang ia jatuhkan menimpa 5 ekor kepiting.


Setelah itu, Zanjiil mengambil kayu sepanjang 100 senti meter yang tak jauh dari hadapannya.


Kemudian ia menuju Kissky, ”Hus hus!” Zanjiil memukul kerumunan kepiting yang menakuti isterinya.


Para kepiting yang tak ingin berakhir di dalam perut kedua pasangan itu memilih pergi menjauh.


“Sudah aman, turunlah!” ucapnya Zanjiil yang menunggu di hadapan pohon kelapa yang Kissky naiki.


“Aku enggak bisa turun, hiks...” Kissky yang bisa naik berkat dorongan takut, tak bisa turun karena merasa ngilu di kakinya.


Zanjiil yang melihat air mata istrinya malah tertawa.


“Xixixi... ayolah, kau sebenarnya dekat dengan air, tinggal lompat selesai.”


Kissky yang berada di atas pohon merasa jika ia berada di tempat yang tinggi.


“Takut, hiks...” Kissky merengek bagai anak kecil.


Zanjiil yang tak sabar pun, dengan tak menggunakan mode lembut, menarik tangan istrinya yang dapat ia raih.


“Ja-jangan!” teriak Kissky.


Cburrr!!


Untuk yang kedua kalinya, Zanjiil membuat Kissky basah.


Kissky yang marah bangkit dari air, “Zanjiil! Sialan banget kau!” Kissky yang marah tak sengaja melihat ke bawah. Seketika ia diam sebab air laut yang ia takuti hanya selututnya, dan pohon yang ia kira tinggi, hanya 5 senti meter di atas kepalanya.


Ia yang malu karena telah bertingkah berlebihan memilih buang wajah dan meninggalkan Zanjiil.


“Huwl! Tunggu!” Zanjiil merangkul bahu Kissky. “Kenapa masih marah pada ku? Kan yang ku katakan benar, kau saja yang terlalu takut,” ucap Zanjiil.

__ADS_1


“Diamlah, kau ngeselin banget Zanjiil Rabbani! Huh!” pekik Kissky.


Bersambung...


__ADS_2