Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 30 (Salah Faham)


__ADS_3

Sepulang sekolah, Kissky dan Liza beranjak ke rumah Gibran.


“Kita pakai mobil ku saja,” ucap Gibran.


“Tapi aku bawa sepeda.” Kissky yang takut sepedanya hilang, berniat untuk membawanya.


“Itu bukan masalah besar, kita masukkan saja ke bagasi mobil ku,” terang Gibran.


Setelah dapat solusi, Gibran mengangkat sepeda Kissky ke bagasi mobilnya. Selagi lelaki tampan itu sibuk bersama supirnya, Liza yang merasa berhak akan lelaki tampan itu pun berbisik pada sahabatnya.


“Ky, kau duduk di depan ya.” pinta Liza.


“Loh, bukannya Gibran yang harus duduk di depan?” sahut Kissky.


“Ssst... jangan banyak tanya, cepat! Sebelum dia masuk duluan!” Liza mendorong punggung Kissky agar segera bergerak.


Atas desakan sahabatnya, Kissky pun masuk ke dalam mobil, tepatnya di sebelah supir.


Gibran yang telah selesai memasukkan sepeda sedikit heran melihat Kissky yang telah ada dalam mobil.


Ia pun beranjak ke pintu sebelah Kissky duduk. “Kau di belakang saja dengan Liza,” ujar Gibran.


“Aku disini saja, karena aku lebih suka duduk di depan.” demi Liza sang sahabat terkasih, Kissky harus berbohong.


Segitunya, Liza suka pada Gibran, batin Kissky.


“Baiklah kalau begitu.” Gibran yang ingin membuat Kissky nyaman, tak memaksakan kehendaknya, meski sebenarnya, ia ingin duduk bersebelahan, dengan gadis pujaan hatinya itu.


Kemudian Gibran duduk di belakang bersama Liza.

__ADS_1


Liza, si gadis yang tengah berjuang untuk bebas dari status jomblonya, senyum-senyum tak jelas pada Gibran.


“Apa ada yang lucu di wajah ku?” sapa Gibran, sebab ia merasa grogi, karena Liza malah terlihat meledeknya.


“Ah, Gibran!”


Plak! Liza yang gemes pada Gibran, memberi satu pukulan cinta di bahu lelaki tampan itu.


“Au!!” Gibran meringis, meski pukulan itu pelan, tapi begitu menyengat.


“Kau kan memang selalu lucu, udah gitu manis seperti gula pasir!!” Liza mengedipkan matanya pada Gibran.


“Apa iya? Ku rasa aku enggak seperti yang kau katakan.” Gibran tersenyum kecil dengan gombalan Liza.


Plak! Untuk yang kedua kalinya, Gibran mendapatkan pukulan di tempat yang sama.


“Tuh kan, kau berhasil membuat ku meleleh lagi, apa lagi saat kau senyum, terlihat sepertu malaikat!”


Maju terus, sampai dapat Za, batin Kissky.


Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, akhirnya mereka sampai di kediaman Gibran.


Rumah mewah berlantai dua, yang terletak di lahan 10 hektar, di hiasi dengan bunga dimana-mana, di setiap pinggir jalan aspal yang menjadi pijakan kendaraan mesin, tumbuh dengan subur, pohon cemara hingga ke pintu utama.


Liza sangat terpesona akan keindahan rumah Gibran. Sedang Kissky merasa biasa saja, sebab rumah mertuanya, tak kalah mewah dari rumah sahabatnya.


Ternyata aku enggak salah pilih calon, kalau aku berhasil jadi nyonya muda di rumah ini suatu saat nanti, pasti aku akan sangat bahagia!!! batin Liza.


Liza pun mulai membayangkan dirinya dan Gibran 7 tahun yang akan datang.

__ADS_1


“Papa!” Liza memanggil suaminya yang masih berada dalam kamar.


“Ya ma?” sahut Gibran, lelaki tampan itu pun keluar dari dalam kamar dengan setelan baju formal.


“Antar mama ke mall dulu, baru papa ke kantor!” Liza yang telah resmi menjadi nyonya Gibran begitu di sayang dan di beri kuasa.


“Siap ma, apa uang belanja mama masih cukup?” tanya Gibran yang selalu memanjakan istrinya.


“Kurang pa, saldo di atm mama tinggal 5 milyar, kalau sampai tas dan baju mewah yang ada di toko cenel jatuh ke tangan orang lain bagaimana pa? Harga diri mama bisa turun, karena nanti mama dan teman-teman mama mau belanja sama-sama.” terang Liza, yang selalu ingin nomor satu dan pusat perhatian di mata orang lain.


“Bukannya papa sudah kasih mama black cart satu bulan yang lalu?” ucap Gibran.


“Oh, itu... mama lupa taruh dimana pa, hehehe...” Liza tertawa manja pada suaminya.


“Ya sudah ma, nanti papa transfer 50 milyar, buat mama belanja, pokonya mama harus jadi yang paling top di antara semuanya, papa enggak mau, istri cantik papa, kalah saing dari orang lain.” Gibran yang sangat mencintai istrinya, memberi ciuman hangat di pipi hitam manis Liza.


“Liza! Hei, Liza!!” plak!! Kissky memukul kepala besar Liza.


“Auh!! Sakit!” seketika, hayalan masa depan gadis hitam manis itu sirna, karena Kissky menyadarkannya.


“Kau ini kenapa sih? Dari tadi di panggil Malah senyum-senyum enggak jelas, khayalan mu sudah sampai mana?! Ayo, cepat turun!” Kissky menarik tangan Liza untuk keluar dari dalam mobil.


Gibran yang menyaksikan keanehan Liza pun beranggapan, kalau gadis itu memiliki penyakit mental.


Kasihan, pada hal dia lumayan cantik, tapi otaknya agak miring, aku harus memperlakukan dia dengan baik, batin Gibran.


Gibran yang memiliki adik kandung perempuan abnormal di masa lalu, merasa iba pada Liza, sebab keduanya memiliki nasib yang sama di matanya.


Miska, apa kabar mu dan ibu? ia yang terpisah dengan sang adik, karena perceraian kedua orang tua, tak pernah bertemu dengan adiknya lagi.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2