
Saat Arsy ingin menelepon sahabatnya tiba-tiba ia berubah pikiran.
“Um... Enggak deh, Liza mana mau pisah dengan Gibran, dia pasti memperjuangkan rumah tangganya.” Arsy tahu betul bagaimana sikap Liza.
“Ya sudah, kalau ada apa-apa, kau yang harus tanggung jawab.” setelah itu Eric melanjutkan pekerjaannya.
🏵️
Lula yang telah sampai di kafe @saya_muchu bertemu dengan Faiq, sang dosen Fisika yang selalu membuatnya kesal.
“Kau sudah datang?” ucap Faiq.
“Iya!” sahut Lula dengan wajah judes.
“Mana skripsi mu, bapak mau lihat.” Faiq menjadi sok sibuk agar tak ketahuan jika maksudnya hanya ingin bertemu semata.
“Saya enggak bawa pak.” Lula merasa percuma jika membawa skripsinya, karena ia sudah dapat menebak, Faiq pasti menyuruhnya merevisi kembali.
“Lalu untuk apa kau bertemu dengan ku kalau begitu?” pertanyaan Faiq membuat Lula memutar mata malas.
“Harusnya aku yang tanya pak. Baru bapak loh, dosen yang mengejar-ngejar mahasiswinya, kalau tak ada skripsi berarti aku boleh pulang sekarangkan?!” ucapan Lula membuat Faiq resah.
Pasalnya ia masih ingin bercengkrama dengan gadis cantik berdarah dingin tersebut.
“Jangan buru-buru pergi, kau punya filenya kan di handphone mu?” ujar Faiq.
“Enggak punya, lagian bapak mau apa sih sebenarnya? Selalu saja meminta ku bertemu dengan alasan skripsi dan skripsi, pada hal aku sudah turuti mau bapak loh! Bapak juga sering banget buat aku jadi bingung, tema skripsi, tapi nanti bicara yang tak penting, mau bapak apa sebenarnya? Apa bapak menyukai ku?” pertanyaan Lula membuat Faiq tersentak.
“Apa kau mau menikah dengan ku?” Faiq yang memiliki lampu hijau langsung melamar Lula saat itu juga.
“A-apa?” mata Lula membelalak sempurna. Pasalnya ia hanya iseng menanyakan perasaan dosennya.
“Aku ingin menikah dengan mu, dan kau juga sudah cukup umur,” ucap Faiq.
Ya Tuhan, si Faiq makin gila ya lama-lama, batin Lula.
“Aku enggak mau, lagi pula untuk apa aku menikah dengan orang tua seperti mu!” Lula menolak, karena Faiq bukanlah tipenya.
“Tapi aku mau.” Faiq yang sudah terlanjur mengatakan perasaannya tak mau maju setengah-setengah.
“Terserah, lagi pula saya sudah punya pacar pak.” kemudian Lula bangkit dari duduknya.
“Mau kemana?” tanya Faiq kembali.
“Pulang, terimakasih untuk bimbingan hari ini.” selanjutnya Lula pergi meninggalkan dosennya.
__ADS_1
“Astaga, harusnya tamat sekolah aku langsung kuliah, nyesel banget nganggur hanya untuk bertemu dia lagi.” Lula tak tahu jika Faiq memantau dirinya.
Saat Lula memilih untuk menunda pendidikan sarjananya, Faiq menyempatkan kuliah mengambil jurusan Fisika. Ia yang jenius dengan mudah lulus dari perguruan tinggi tempat ia menuntut ilmu dulu.
Akan ku dekati bu Pinkan, aku harus mendapatkan Lula, batin Faiq.
Setelah itu ia langsung mendial nomor Pinkan yang ia simpan handphonenya.
Halo bu. 📲 Faiq.
Halo pak Faiq, ada masalah apa? Tumben bapak menelepon? 📲 Pinkan.
Apa saya bisa datang ke rumah ibu untuk bertamu? Ada hal yang ingin saya bicarakan. 📲 Faiq.
Oh, begitu ya? Ya sudah, silahkan datang saja pak, kebetulan saya lagi tak kemana-mana hari ini. 📲 Pinkan.
Baiklah, saya akan segera kesan, terimakasih banyak bu Pinkan. 📲 Faiq.
Sama-sama pak. 📲 Pinkan.
🏵️
Liza yang sedang memberi menggendong anak ketiganya termenung, ia memikirkan wanita yang baru saja meneleponnya.
Kemudian ia pun mengingat-ingat suara wanita yang membuatnya patah hati itu.
“Seperti ku kenal, tapi... siapa ya??” Liza tak menyadari kalau itu adalah Arsy.
5 menit kemudian, Gibran pun pulang kerja. Ia yang tahu kalau istrinya pasti ada dalam kamar langsung menyusul kesana.
Ceklek!
Perlahan Gibran membuka pintu kamar mereka, ia pun melihat istrinya sedang berlinang air mata.
”Sayang, kau kenapa?” Sapa Gibran seraya masuk ke dalam kamar.
“Kenapa? Kau masih bisa bertanya?!” Liza yang menangis hebat membuat hidungnya tersumbat.
“Ada apa sih sayang? Katakan pada ku??” Gibran mencium kening Liza.
“Siapa wanita ini?” Liza memperlihatkan pesan yang di kirim Arsy padanya.
“Mana ku tahu, kenapa kau tak tanya siapa dia?” ucap Gibran.
“Dia mengaku kau adalah suaminya, jahat banget sih sayang! Pada hal aku di rumah mengurus anak-anak mu, tapi kau! Malam main gila di luar sana! Hiks...” meski Liza marah, namun panggilan sayang tatap tak boleh hilang.
__ADS_1
“Sstt... pelan-pelan sayang, nanti Aji bangun...” Gibran mengelus punggung Liza yang emosi.
“Katakan pada ku sayang!” Liza menuntut kejujuran suaminya.
“Aku benar-benar tak tahu siapa wanita itu sayang, sungguh!” Gibran yang tak bersalah membela dirinya.
“Bohong! Kalau memang benar, ayo ke Bandung!” ujar Liza.
“Kau gila ya?! Anak-anak bagaimana?” tanya Gibran, sebab ia merasa tak sanggup bila membawa semua keluarganya ke tempat orang yang tak 1st jelas siapa.
“Kita titip ke mama ku, lagi pula besokkan Sabtu, mereka tidak akan bekerja.” terang Liza.
“Astaga sayang, aku tak mau mereka tahu alasan kita kesana hanya karena perempuan yang bukan selingkuhan ku, lagi pula aku tak pernah berbuat macam-macam loh sayang! Hati ku hanya untuk mu! Sungguh darling.” Gibran mejelaskan kesungguhan hatinya pada Liza.
“Enggak mau tahu! Pokoknya kita kesana!” Liza tak mau mendengarkan apa kata suaminya, ngotot minta ke Bandung.
Ia yang telah cemburu buta tak percaya sedikitpun pada suaminya.
“Astaga sayang, pada hal kau tahu sendiri, aku selalu tepat waktu kalau pulang kerja. Andai kata aku lembur, kita selalu video call, percayalah pada ku sayang.” Gibran merasa sedih dengan sikap istrinya.
“Pokoknya pergi.” Liza tetap memaksa, karena ia ingin menuntaskan rasa penasarannya.
“Baiklah, terserah kau saja.” Gibran yang sayang istri hanya menuruti apa yang di inginkan Liza.
🏵️
Di dalam rumah, Eric dan Arsy merebahkan tubuh di atas ranjang.
“Hei, aku tadi beli ini.” Eric menunjukkan tespek yang baru ia beli pada istrinya.
“Untuk apa ini?” Arsy menerima pemberian Eric.
“Sana, cek dulu, mana tahu isi.” Eric yang ingin punya anak meminta Arsy untuk mencoba alat pendeteksi hamil itu.
“Enggak mungkin kelihatan Eric! Lagi pula kitakan baru begituan, kalau isi pun harus nunggu 2 minggu,” ujar Arsy.
“Astaga... siapa tahu sudah kelihatan, sana coba dulu, aku penasaran banget Arsy!” Eric menarik tangan istrinya untuk bangkit dari ranjang.
“Aneh banget ya kau! Baru sehari juga!” Arsy dengan perasaan malas bangkit dari ranjang, setelah itu menuju kamar mandi.
Eric yang menunggu begitu bersemangat, ia ingin cepat-cepat mengetahui hasilnya.
“Semoga saja hamil, kalau kami punya anak, akan ku beri nama Ameena perempuan, Aamiin laki-laki.” hati Eric begitu bergejolak, ia tak sabar menunggu kabar baik dari istrinya.
...Bersambung......
__ADS_1