
Joe yang sedang berada di mini market tak mengerti harus mengambil tespek merek apa, lalu ia dengan datar tanpa ada rasa malu bertanya pada karyawati toko yang sedang menyusun barang di sebelahnya.
“Tespek yang bagus, yang pasti akurat, yang mana?” tanya Joe.
“Semuanya sama saja sih bang, tapi kalau mau yang terbaru, ada yang ini.” sang karyawati mengambil tespek dengan harga yang paling mahal.
“Ini namanya tespek digital, kalau si ibu sedang hamil, maka akan keluar gambar hati.” terang sang karyawati.
“Oh, aku ambil itu. Ah, tidak, aku ambil satu satu dari setiap merek tespek yang ada disini,” ucap Joe.
“Oke bang, ngomong-ngomong ibunya sudah telat berapa hari bang?” tanya sang karyawati yang ingin tahu urusan orang lain.
“Ini untuk nenek ku.” Joe menyampaikan, sesuai yang Liza katakan, sontak sang karyawati menahan tawanya.
Oh... ternyata ini untuk pacarnya? Dasar cowok nakal! batin sang karyawati.
Setelah melakukan pembayaran, Joe kembali ke kamar kos Liza.
“Ini tespeknya.” Joe menyerahkan sekantong kresek penuh pada Liza.
“Banyak banget yang!” mata Liza membelalak sempurna.
“Biar lebih akurat, coba berbagai merek sekaligus.” usul Joe.
“Benar juga sih, baiklah, kalau begitu, aku kembali lagi ke kamar mandi.”
“Semua harus kau pakai,” titah Joe.
“Tapi sayang, bagaimana kalau aku hamil?” tanya Liza dengan wajah khawatir.
“Terserah kau saja, mau punya anak sekarang, atau kita gugurkan.” saran dari Joe membuat Liza marah.
“Dasar jahat, mana boleh di gugurkan! Itu sama dengan membunuh! Dan orang yang membunuh dosanya besar, nanti kalau kau dan aku masuk neraka bagaimana? Pikirkan sedikit, aku lebih baik berhenti sekolah dan urus anak, dari pada membuangnya, hiks... bayangkan jika itu kau, di buang saat masih dalam kandungan. Apa kau akan tega membunuh darah daging mu sendiri?” pernyataan Liza membuat Joe bimbang akan apa yang ia lakukan selama ini.
Esra yang mendidiknya dalam kebencian sedari kecil, membuat Joe tak mengetahui apa yang benar dan salah.
Namun saat ia bersama Liza, perlahan hati Joe jauh lebih berwarna.
“Liza.”
”Ya??” sahut Liza. Lalu Joe menggenggam kedua tangan kekasih barunya.
“Kalau kau memang hamil, tak apa, aku akan tanggung jawab, kau juga tak perlu putus sekolah, kalau kau merasa percaya diri, dan aku... akan memberi nafkah lahir dan batin mu.” bukan hal sulit bagi Joe untuk mencari uang, sebab ia telah bekerja sebagai salah satu kaki tangan Basuki.
__ADS_1
“Benarkah?” mata Liza berkaca-kaca karena terharu.
“Ya, masuklah, apapun hasilnya akan aku terima.” Joe perlahan-lahan berubah, ia pun membuka lebar hatinya untuk Liza dan calon buah hati mereka yang belum jelas ada atau tidak.
Setelah mendapat dukungan dari sang kekasih satu malamnya, Liza masuk kembali ke kamar mandi, untuk mencoba tespek yang totalnya ada 20 biji.
_________________________________________
Faiq yang sedang di ruang guru mendapat paket dari seorang satpam penjaga sekolah.
“Ini untuk bapak, tadi ada kurir yang mengantar,” ucap sang satpam.
“Terimakasih banyak pak.” Faiq menerima paket tersebut. Setelah itu, sang satpam pun pergi.
Faiq menghela nafas panjang, sebelum membuka isi surat yang ada di tangannya.
“Ku harap, bukan kau Lula.” setelah itu, Faiq menyobek ujung amplop surat berwarna putih yang ada di tangannya.
Sreekkk...
Kemudian ia membaca hasil sidik jari yang ia serahkan.
“Ck! Ya Tuhan.” Faiq menutup wajahnya dengan tangannya.
Faiq tak dapat menutupi rasa kecewanya, sebab ia sangat menyukai Lula.
Dan ia pun memutuskan untuk membuka situs Angel's Hand di Dark Web, situs tersebut menerima jasa untuk menghabisi nyawa orang lain sesuai harga, dan customer bisa memilih, siapa pembunuh yang akan ia utus, dengan mengklik id si pembunuh bayaran.
“Nyawa, di bayar nyawa.” Kemudian Faiq memilih id pembunuh dengan bayaran paling tinggi. Setelah itu, aplikasi menuntun Faiq untuk mengisi data diri korbannya beserta photonya.
Setelah selesai, Faiq merasa lega. Namun yang tak ia ketahui, situs yang ia kunjungi tersebut, milik keluarga Rabbani.
“Akan ku beli, bunga terindah untuk pemakaman mu, Alula Rabbani.” Faiq tersenyum bahagia.
___________________________________________
Lula hari itu pulang ke rumah menggunakan motor gede berwarna hitam.
Bremm... bremm...
Ia pun memarkirkan motornya di dalam garasi, setelah itu Lula masuk ke dalam rumah.
Lula yang baru sampai ke ruang tamu melihat ibunya yang sedang termenung.
__ADS_1
“Mama sudah pulang?” tanya Lula.
Pinkan yang mendengar suara Lula menoleh pada putrinya.
“Iya, kenapa kau pulang? Besok bukan minggukan?” ucap Pinkan tak bersemangat.
“Betul, tapi besok tanggal merah ma.” kemudian Lula duduk di sebelah ibunya.
“Ada apa ma? Kok wajah mama murung begitu? Pada hal baru dari London nonton konser artis idola mama.” Lula memijat bahu ibunya yang nampak lelah.
“Lula, abang dan kakak mu, hilang entah kemana.” Pinkan memberitahu putrinya tentang anak dan menantunya.
“Apa?!” mata Lula membelalak sempurna, ia tak percaya dengan apa yang di katakan ibunya.
“Ya, mereka pergi ke pulau Bintang kemarin, lalu kata Sora Zanjiil dan Kissky mengacing di laut, tapi sampai sekarang mereka belum kembali, handphone mereka berdua juga tak ada yang aktif. Lula, mama benar-benat pusing.” Pinkan tak dapat memikirkan segalanya
“Kok bisa sih ma? Ya ampun, bikin repot saja mereka!” Lula menjadi khawatir dengan keselamatan Zanjiil dan Kissky.
“Untuk itu, tolong bantu mama mencarinya, sekarang berangkatlah ke pulau, maaf mama tak bisa ikut, karena mama harus mengurus pengiriman barang.” Pinkan sangat berharap, jika Lula dapat di andalkan saat itu.
“Oke ma.” setelah percakapan selesai, Lula bangkit dari sofa menuju kamarnya untuk mengambil rompi, teropong, pistol beserta peluru cadangan.
Di rasa semua perlengkapan yang ia bawa tak ada yang tinggal, Lula langsung berpamitan pada ibunya yang masih terduduk di atas sofa.
“Ma, Lula pergi dulu, mama jaga kesehatan, pasti abang dan kakak baik-baik saja, aku yakin.” Lula memberi harapan positif pada ibunya.
“Aamiin, mudah-mudahan nak, tolong temukan, jangan kembali tanpa mereka, dan habisi siapa saja yang mencurigakan, kalau sampai kakak atau abang mu terluka, usut tuntas, siapa pelakunya!” Pinkan yang curiga itu perbuatan madunya, dengan sengaja menyalakan bara api di hati putrinya, agar sewaktu-waktu jika dugaannya terbukti, Lula tak ragu untuk membunuh wanita yang telah menghancurkan keutuhan keluarganya.
“Oke ma.” Lula pun berangkat setelah menjabat tangan ibunya.
Selanjutnya Lula kembali menggunakan motor gedenya menuju pelabuhan.
Breemmmm!!!!
Lula si gadis belia kali itu menjalankan misi untuk menemukan abang dan kakaknya.
Ia pun melajukan motornya dengan kecepatan maksimal.
Setelah 20 menit dalam perjalanan, Lula sampai juga di pelabuhan.
Dan disana helikopter telah menunggu kedatangannya.
Sebelum berangkat, Lula menitipkan motornya di tempat yang aman terlebih dahulu.
__ADS_1
...Bersambung......