Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 98 (Colt 1911 dan G2 Combat Kal. 9 mm)


__ADS_3

Setelah urusan mereka selesai, Zanjiil kembali ke rumah, sedang Lula ke kabin yang telah Zanjiil beri alamat kepadanya.


Lula berangkat dengan menaiki motor, tubuhnya yang jangkung sering kali mengecoh fokus polisi yang bertugas di jalan. Orang-orang selalu berpikir kalau dia sudah dewasa dan memiliki sim.


Setelah 1 jam dalam perjalanan, Lula tiba di sebuah hutan yang terletak di sisi timur pinggir kota.


Ia memarkirkan motornya di dalam semak rimbun beberapa ratus meter dari kabin.


Di rasa cukup aman, Lula si pembunuh profesional melangkahkan kakinya tanpa terdengar bunyi sedikit pun.


Kemudian ia menyusup di balik buah sawit untuk memantau kabin yang pintunya terbuka lebar.


Tak lama sepasang kakek dan nenek keluar dari dalam kabin, lalu keduanya duduk di sofa yang ada di teras.


“Yang di bunuh si kakek kan? Apa sekalian ku bunuh neneknya juga?” Lula pun mengeluarkan pistol berjenis Colt 1911 dan G2 Combat Kal. 9 mm dari saku bagian dalam jaket kulitnya.


“Keduanya harus di pisahkan.” Lula yang banyak akal, akan memancing perhatian salah satunya agar terpisah, dengan melempar atap dapur kabin tersebut.


Ia pun memutar, mencari jalan agar tak terlihat oleh kedua orang tua itu, untuk menuju bagian belakang kabin.


Setelah berhasil ke tujuan, Lula melempar kaca dapur kabin dengan batu.


Prang!!!


“Apa itu?” suara si kakek terdengar hingga ke tempat persembunyian Lula.


“Ha? Papa bicara apa? Makan? Bukannya tadi baru makan?” ucap si nenek yang menderita tuna rungu.


“Mama tunggu disini, papa mau periksa ke belakang dulu.” si kakek pun bangkit dari duduknya dan menuju dapur.


Setelah si kakek sampai ke dapur, ia di buat tersentak “Ya Allah, siapa yang melakukan ini?” ucapnya terheran-heran, karena biasanya tak ada orang lain yang datang ke area kabin milik mereka.


Si kakek yang penasaran pun membuka pintu yang mengarah ke hutan lepas.


Netranya celingak-celinguk untuk mencari siapa pelakunya.


Lula yang telah sedia dengan pistolnya, menghitung maju seraya menekan pelatuk pistol warisan dari kakeknya. “1,2,3!”


Duar!!


Dengan peluru berkaliber 5,7 mm dan berkecepatan 1.225 kaki per detik, tubuh si kakek rubuh ke tanah.


Bruk!


Si nenek yang duduk santai di teras, tak dapat mendengar suara tembakan yang melenyapkan nyawa suaminya.

__ADS_1


Lula yang kini di hadapan si kakek yang telah terkapar di tanah menatap dengan biasa.


“Tugas selesai!” atas permintaan cucu sang kakek. Yang menginginkan kakeknya di buat menghilangkan tanpa jejak, Lula harus kerja ekstra yaitu menyeret tubuh pria tua itu menuju liang yang telah di sediakan si cucu di atas bukit yang ada dekat kabin.


“Bukankah cara ini akan membuatnya repot? Harusnya kasih racun, atau dorong ke sungai berarus deras kan beres.” Lula geleng-geleng kepala.


Setelah menyimpan senjatanya kembali, Lula menggotong tubuh si kakek di bahunya.


Lula yang telah terlatih fisik dan mentalnya, tak merasa berat akan beban di pundaknya. Untuk mencapai tujuan, Lula banyak menempuh jalanan menanjak, dan jarak dari kabin ke tujuan memakan waktu 2 jam.


Sesampainya Lula, ia yang lelah langsung melempar begitu saja tubuh si kakek ke dalam liang lahat berukuran 2,5 x 1,5 meter persegi.


Saat ia akan balik kanan, tiba-tiba sebilah samurai mendarat di lehernya.


“Apa yang kau lakukan disini?” suara maskulin dari pria yang belum ia lihat wajahnya begitu tak asing di telinganya.


Lula dengan perlahan menutup kaca helm SHOEI miliknya.


“Angkat tangan, atau samurai ini akan menebas leher mu!” ancaman yang Lula dapatkan membuatnya terpaksa mengikuti keinginan si pria. Ia pun mengangkat tangannya dengan perlahan.


“Balik kanan!”


Lula dengan hati-hati membalik tubuhnya. ia pun kaget bukan main, saat pria yang ada di hadapannya adalah Faiq, sang guru bahasa Indonesia di sekolahnhya.


Apa dia cucu si kakek? Atau si bodoh ini hanya kebetulan lewat? batin Lula.


Bisa jadi masalah, kalau aku sampai ketahuan, aku tak mungkin membiarkannya hidup kalau sampai melihat wajah ku, batin Lula.


Lula dengan perlahan menundukkan kepalanya, seolah ingin membuka helm.


Faiq yang mengawasi pergerakan Lula tanpa sadar menurunkan samurainya.


Kesempatan itu pun tak di sia-siakan oleh Lula yang cerdas.


Dug! Lula menyeruduk perut bidang Faiq dengan helmnya. Hingga guru bahasa Indonesia itu terjungkal kebelakang, yang memiliki kemiringan tanah 20 derajat.


Alhasil Faiq pun terpisah dengan samurai yang menjadi alat bantunya.


Lula yang kesal pada sang guru, memberi pelajaran dengan memukul wajah pria tampan itu dengan tangannya yang di balut sarung tangan hitam.


Buk! Buk! Buk! Lula pun naik ke atas perut Faiq untuk memuaskan hasrat kekesalannya selama ini pada gurunya tersebut.


Faiq yang tak sempat bangkit dari tanah menjadi sasaran empuk Lula.


Tanpa mengeluarkan suara dari mulutnya, Lula terus memukul sang guru hingga babak belur.

__ADS_1


Lula yang asik pada satu titik, tanpa sadar memberi Faiq celah, tangan Faiq yang sigap pun memberi pukulan beruntun ke perut Lula.


Buk buk!


”Akh!” Lula cukup kesakitan dengan serangan dadakan yang ia dapatkan.


Lula yang ingin mengakhiri perkelahian mereka berniat untuk membunuh Faiq saat itu juga. Namun ketika ia akan mengeluarkan pistolnya, terdengar suara beberapa orang dari dalam rimbunnya hutan.


Sial! batin Lula.


Lula pun terrpaksa memasukkan kembali pistolnya. Kemudian ia dengan cepat bangkit dari tubuh Faiq dan segera melarikan diri.


“Kenapa aku harus bertemu dengannya sih?! Bikin repot.” setelah Lula sampai lagi ke motornya. Ia dengan cepatnya menyalakan mesin motornya. Selanjutnya tancap gas meninggalkan tempat itu.


Si nenek yang masih berada di teras tertawa cekikikan.


“Akhirnya, kau mati juga! Takkan ada yang menghalangi ku untuk menguasai harta peninggalan mu laki-laki jahanam, hahaha!”


_________________________________________


Zanjiil yang telah sampai ke rumah mendatangi istrinya.


Tok tok tok!! Zanjiil mengetuk pintu kamar kekasih halalnya.


Krieett!! Dengan mata sepat, Kissky membuka pintu.


“Zanjiil!!” tak biasanya, Kissky yang galak memeluk tubuh Zanjiil terlebih dahulu.


“Ada apa dengan mu?” Zanjiil mengusap puncak kepala Kissky.


“Aku mimpi buruk.” ucap Kissky dengan raut wajah sedih.


“Seburuk apa?” tanya Zanjiil meski ia tak penasaran.


“Kau nikah lagi, hiks...” perkataan Kissky membuat Zanjiil tertawa.


“Hahaha, bukannya bagus kalau aku punya istri 2? Itu bisa meringankan tugas mu, kalau kau punya anak terlebih dahulu, maka dia akan membantu mu untuk menjaganya, kalau dia yang memasak, kau yang menyapu rumah, dan...”


“Tutup mulut mu!” Kissky memotong perkataan Zanjiil.


“Ya, baiklah, aku hanya bercanda, mana mungkin aku punya yang lain. Satu saja belum habis, nambah lagi bisa bikin muntah,” terang Zanjiil.


“Nih, aku bawa oleh-oleh untuk mu, ayo kita makan di dapur.” Zanjiil pun menggenggam tangan mungil istrinya, lalu turun bersama menggunakan lift.


Ting! Ketika pintu lift terbuka, Zanjiil dan Kissky bertemu Hera yang sedang mengepel lantai.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2