
“Kau tak dengar apa yang ku tanyakan? darimana kau dapatkan itu semua?!”Pekik Zanjiil.
”Aku di beri oleh mamanya Gibran!” ucap Kissky.
“Alah!! Jangan bohong! mana ada orang yang mau kasih secara cuma-cuma barang dengan harga milyaran, jujur Huwl!” suara melengking Zanjiil membuat Kissky naik pitam juga.
“Tentu saja ada!”
“Siapa?!”
“Kan sudah ku bilang, tante Jenny! Mamanya Gibran!” keduanya saling membentak satu sama lain.
“Jujur saja pada ku, kau pasti jalan dengan om-om!”
“Idih, Suuzon! Memangnya Gibran itu dirimu? Orang pelit yang tak perduli pada istri? Gibran itu royal dan perhatian tahu!” Kissky membanggakan kebaikan sahabatnya pada suaminya.
“Oh... Apa kau sudah tidur dengannya? Makanya kau bandingkan aku dengannya?” tanya Zanjiil.
Puk!
Kissky melempar wajah Zanjiil dengan tiga tas belanjaannya sekaligus.
“Dasar kotor! Jangan samakan aku dengan pacar mu itu ya! Aku enggak seperti yang kau bayangkan! Aku enggak seperti dirimu yang penuh dengan najis!” pekik Kissky.
“Apa?” Zanjiil mengernyitkan dahinya.
“Ya, aku enggak seperti mu, main gila di rumah sendiri! Kalau mau zina, sana! Di luar, jangan disini bangsat!” Kissky yang ingin beranjak, tak lupa memungut kembali barang-barangnya yang berserakan di lantai.
Sontak Zanjiil tertawa getir melihat kemarahan istrinya.
“Apa kau keberatan dengan hubungan ku dan Luna?” tanya Zanjiil, yang berpikir istrinya cemburu.
“Bodoh amat dengan kalian, yang jelas, jangan urus, urusan ku, kau juga bebas melakukan apa yang kau maukan?!” suara Kissky yang menggelegar bak petir, hampir membuat gendang telinga Zanjiil pecah.
“Ky, kau benar-benar tak perduli?” tanya Zanjiil.
__ADS_1
“Iya, untuk apa aku perduli pada orang yang tak menganggap ku ada, lebih baik aku fokus pada diriku, dan orang-orang yang menghargai ku! Sudah jelaskan? Apa masih ada yang ingin kau katakan, biawak buaya rawa busuk tukang selingkuh?”
“Apa?” netra Zanjiil membelalak, saat Kissky mengatakannya tukang selingkuh.
“Kalau sudah tak ada, aku mau ke kamar ku, masih banyak pekerjaan yang harus ku lakukan, termasuk mencoba semua pakaian yang di berikan oleh tante Jenny, hahaha!” Kissky tertawa getir, setelah itu, ia pun meninggalkan Zanjiil.
“Perempuan gila, kalau memang tak perduli, kenapa harus marah-marah? Dasar, cewek enggak jelas!” ucap Zanjiil.
Kissky yang baru sampai ke kamarnya, mengelus dadanya yang terasa sesak.
“Hufff! Benar-benar biawak! Bisanya bikin kesal aku terus! Tapi ya sudahlah, itu artinya dia iri dengan apa yang ku dapatkan.” setelah hatinya tenang, Kissky mulai mencoba baju pemberian Jenny satu persatu.
Keesokan harinya, saat di meja makan, keluarga Rabbani sarapan bersama.
“Jiil, besok papa dan mama mau ke Singapura,” ucap Basuki.
“Kok dadakan pa?” sahut Zanjiil.
“Bukan dadakan, tapi papa yang lupa memberi tahu mu, kalau sepupu mu Sena akan tunangan,” terang Basuki.
“Kita berangkat bersama atau bagaimana pa, ma?” tanya Zanjiil yang berpikir mereka semua akan berangkat bersama.
“Kali ini, kau dan Kissky jaga rumah, mama dan papa mau menginap 2 malam disana, karena selain lamaran, ada urusan juga dengan om Tino,” terang Pinkan.
Rumah yang di penuhi penjaga dan Art masih harus di jaga? batin Kissky.
“Tapi aku sudah lama enggak kesana, bolehlah ma kalau ikut.” Zanjiil yang rindu dengan Tino, meminta ikut pada ibunya, sebab ia sudah lama tak bersua sang om, adik dari Basuki, yang sangat menyayangi Zanjiil sedari kecil.
“Masalahnya, kau harus ke kantor juga, karena besok ada dokumen yang harus papa tanda tangani, periksa dulu dokumen itu, kalau menurut mu oke, segera tanda tangan, karena proyek itu sudah tertunda.”
Meski Zanjiil masih muda, namun ia telah di percaya oleh Basuki untuk ikut andil dalam memutuskan suatu hal dalam perusahaan, bila Basuki berhalangan hadir.
“Baik pa,” jawab Zanjiil.
Wah, pada hal Zanjiil masih anak-anak, tapi sudah di percaya oleh papa untuk mengurus perusahaan? batin Kissky.
__ADS_1
“Kissky.”
“Iya ma?” sahut Kissky.
“Mau oleh-oleh apa nak?” tanya Pinkan, yang ingin membeli sesuatu untuk menantunya.
“Aku...”
“Beli dia tas cenel model terbaru, yang di pakai idol Jenny Black Pink ma!” ujar Zanjiil, memotong perkataan istrinya yang akan bicara. Sontak Kissky memelototi suaminya.
“Oh, kau mau itu Ky?” Pinkan menganggukkan kepalanya.
“Enggak usah ma, aku enggak butuh itu semua, cukup beli makanan khas sana saja,” ucap Kissky.
“Sekalian sepatu Roid dan juga baju-baju bermerek lainnya, pokoknya, yang harganya paling mahal ma,” terang Zanjiil.
Anak ini kenapa sih? Kok ngegas! batin Kissky.
“Enggak usaha ma, Zanjiil tadi cuma bercanda kok.” Kissky yang takut di pandang mata duitan dan barang bermerek oleh mertuanya, mencoba membatalkan pesanan suaminya.
“Kalau hanya itu, enggak masalah buat mama nak, nanti akan mama beli yang banyak untuk mu, kebetulan mama sudah sebulan enggak belanja, dan sejak kau masuk ke rumah ini, belum pernah mama ajak kemana pun,” ujar Pinkan.
“Tapi ma...” Kissky benar-benar tak enak akan kebaikan mertuanya.
Aku belum tahu betul bagaimana sifat mertua ku ini, jangan-jangan setelah dia beli, malah aku di jadikan bahan gosip lagi, pada teman-temannya, batin Kissky.
Setelah selesai sarapan, mereka semua pun berangakat ke tempat tujuan masig-masing.
Hari itu, Kissky kembali menaiki sepeda BMX nya ke sekolah, tak lupa ia membawa hasil lukisan yang telah ia kerjakan.
Sesampainya Kissky ke kelasnya, ia melihat Liza tersenyum lebar padanya.
“Ada apa ini? Pagi-pagi bahagia banget, apa ada hal bagus?” tanya Kissky, karena ia juga ingin merasakan Kebahagiaan yang sama.
...Bersambung......
__ADS_1