Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 36 (Vending Mesin)


__ADS_3

“Kenapa kau ada disini?” ucap Zanjiil.


“Aku?” Kissky menunjuk dirinya sendiri.


“Bukan kau!” Lalu Zanjiil melirik Joe dengan sorot matanya.


“Aku baru selesai merakit motor, hehehe.” Joe tertawa kaku pada Zanjiil.


“Kalian saling kenal?" Kissky menatap Zanjiil dan Joe secara bergantian.


“Apa urusan mu sudah selesai?” Zanjiil memotong perkataan Kissky.


“Sudah sih...”


“Kembalilah ke ruang praktik! Sekarang giliran mu untuk melukis!” titah Zanjiil.


“Tapi...” Kissky yang masih ingin mengobrol dengan Joe, di desak oleh Zanjiil agar segera pergi.


“Cepatlah! Orang-orang sudah hampir selesai!”


“Ba-baik! Oh ya Joe, sampai ketemu nanti!” Kissky melambaikan tangannya pada Joe.


“Oke!” Joe pun melambaikan tangannya pada Kissky.


Setelah gadis cantik itu pergi jauh, Zanjiil berkacak pinggang.


“Untuk apa kau mendekati dia?” tanya lelaki tampan dan maskulin tersebut.


“Aku hanya ingin berteman dengannya,” ucap Joe.


“Ck! Jangan dekati dia, kabar pernikahan ku pasti sudah sampai ke telinga mu kan?” ucap Zanjiil dengan wajah serius.


“Iya, tentu saja,” Joe menganggukkan kepalanya.


“Lalu, kenapa kau malah mendekati Kissky! Hei! Kendalikan dirimu! Jangan seperti ibu mu, yang tak tahu diri itu!” Zanjiil berucap, seraya menekan-nekan telunjuknya ke dada Joe.


“Apa salahnya kalau aku berteman dengannya?” Joe tertawa getir pada Zanjiil.

__ADS_1


“Karena, buah jatuh tak jauh dari pohonnya! Dengar ya Joe, kalau sampai kau berani lebih dari ini, ku cabut gigi mu satu persatu! Kemarin aku diam, bukan karena tak perduli padanya, atau aku takut pada mu! Ingat itu!” setelah memberi ancaman pada Joe, Zanjiil pun kembali ke ruang praktik.


Joe memutar mata malas, ia tak memasukkan ke dalam hatinya, semua perkataan Zanjiil yang baru saja ia dengar.


“Memangnya kau siapa? Beraninya mengatur ku,” gumam Joe.


Ia yang dendam dari dulu sampai sekarang pada keluarga Rabbani, selalu bercita-cita untuk menghancurkan keutuhan keluarga itu.


“Kalian tak boleh bahagia, dulu aku masih kecil, tak bisa berbuat apapun, saat ibu ku di cerai oleh papa Basuki.”


Joe masih tak terima, saat ibunya di tinggal dalam keadaan mengandung adiknya. Basuki sendiri pernah menikah diam-diam, pada saat Zanjiil berusia 5 tahun.


Pinkan yang mengetahui hubungan gelap antara Basuki dan Esra tak terima begitu saja.


Ibu dua anak itu mendatangi kediaman Ersa yang di berikan oleh Basuki. Dan dengan ganasnya, Pinkan menghajar Esra habis-habisan dalam keadaan berbadan dua, hal itu, di saksikan langsung oleh Joe kecil.


Meski Esra meregang nyawa di rumah sakit, namun sang ayah tiri Basuki, tetap memilih Pinkan. Esra yang di tinggal sempat prustasi, dan hampir kehilangan bayi yang ia kandung.


Joe yang selalu menemani ibunya merasa sakit hati berat, ia yang tak berdaya saat itu, hanya bisa menemani sang ibunda untuk bangkit dari keterpurukannya.


“Katanya orang-orang sudah mau selesai, mana? Seperempat saja belum ada.” Kissky geleng-geleng kepala, karena Zanjiil membohonginya.


Ia pun duduk di bangkunya, dan mulai menggores kuasnya ke kanvas.


Saat Kissky sedang fokus, Zanjiil meletakkan air mineral dingin di pipi manisnya.


“Hiih!!” ia tersentak karena mendapat sensasi dingin secara tiba-tiba di wajahnya. Sontak ia pun mendongak ke arah Zanjiil.


“Kau ngapain sih?!” setelah itu, Kissky kembali mengalihkan pandangannya ke kanvas.


“Minumlah!” ucap Zanjiil, seraya menyerahkan air mineral yang ada di tangannya pada Kissky.


“Aku sudah punya tuh!” Kissky menunjuk ke arah kolong easel, yang bisa menaruh sedikit barang-barang kecil.


“Enggak apa-apa, kalau kau haus lagi, kau kan enggak perlu pergi ke luar untuk membeli minum,” ujar Zanjiil.


“Enggak ah! Yang itu saja belum habis.” ucap Kissky, tanpa melihat wajah Zanjiil.

__ADS_1


“Kau bisa enggak sih, menerimanya saja? Meski pun hati mu tak ikhlas?” Zanjiil amat terluka karena Kissky menolak pemberiannya.


“Enggak mau!” Kissky yang cuek, tetap menolak pemberian suaminya.


Apa karena aku kasih hal yang murahan, makanya dia enggak mau? Iya juga sih, jangan-jangan Gibran sudah kasih barang mahal baru lagi padanya, batin Zanjiil.


Luna yang duduk di kursi bagian belakang paling pojok pun berniat ke vending mesin untuk membeli air minum.


“Sayang...” gumamnya. Ia pun melihat Zanjiil yang berdiri di sebelah Kissky dengan 2 botol air mineral di tangannya.


“Apa dia membelinya untuk ku?” Luna yang merasa, bahwa air minum yang ada di tangan Zanjiil itu untuknya, buru-buru menuju kekasihnya.


“Heh! Kau mau kemana?” Liza menggenggam tangan Luna.


“Mau kesana sebentar!” Luna menunjuk ke arah Zanjiil.


“Enak saja! Aku dulu, baru kau!” ucap Liza.


“Ya ampun, aku hanya ke tempat pacar ku, bukan keluar ruangan!” Luna menghempaskan genggaman Liza di tangannya.


“Aku juga ada keperluan di luar! Lanjutkan ular bagian mu!” pekik Liza.


“Tapi kan...”


“Bukannya tadi sudah giliran mu mengambil kertas di toples? Sekarang giliran ku dulu yang beranjak dari sini! Enak saja, apa-apa serba kau duluan!” karena Liza tak mau mengalah, terpaksa Luna mengikuti keinginan rekan timnya.


Sebelum Liza keluar ruangan, ia pun melirik Gibran yang sedang fokus melukis bersama Rizal.


Kekasih hatiku pasti haus dan lapar, aku akan beli makanan dan minuman segar, lagi pula aku harus balas budi padanya, karena sudah memberikan ku barang-barang bermerek! batin Liza.


Ia pun buru-buru menuju vending mesin, ketika ia baru sampai, Liza melihat Joe sedang duduk seraya bermain handphone di kursi yang ada di samping mesin minuman.


“Astaga! Bukankah itu Joe?” Liza pun segera merapikan rambutnya, yang telah rapi sebelumnya.


Aku harus bilang apa padanya, kalau dia masih berusaha mendekati ku? batin Liza.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2