
“Tak usah, tunggu saja disini!” Kissky pun keluar dari kelasnya menuju ruang kosong di ujung kelas.
Ceklek!
Kissky membuka ruangan tersebut dan masuk ke dalamnya. Tak seberapa lama Zanjiil datang menyusul.
“Kau mau bicara apa Ky? Kenapa harus di ruang berdebu begini?”
“Jiil, aku mau izin, hari ini saja, alu boleh ya, main ke kos Liza.” Kissky berharap Zanjiil mau mengizinkannya untuk bermain dengan Liza.
“Enggak boleh, bisa-bisa kau bertemu dengan si Joe lagi!” Zanjiil enggan memberi izin karena takut kecolongan.
“Enggak mungkin Jiil, mana mungkin dia disana, ayolah... aku sudah janji pada Liza akan ikut ke kosnya sekarang.” Kissky mengayun-ayun tangan Zanjiil.
Zanjiil mengerti perasaan istrinya, terlebih ia lihat, hanya Liza teman istrinya kemana-mana.
“Baiklah, tapi ada syaratnya!”
“Syarat?” Kissky mengernyitkan dahinya.
“Ya, kalau mau kesana, peluk dan cium dulu,” Zanjiil menunjuk bibirnya.
Karena terdesak, Kissky memenuhi permintaan Zanjiil.
“Kemarilah.” Kissky melebarkan kedua tangannya.
Lalu Zanjiil membungkukkan tubuh jangkungnya, kemudian Kissky melingkarkan kedua tangannya ke leher jenjang Zanjiil.
Wangi, batin Kissky.
Aroma tubuh Zanjiil berhasil membuat Kissky merasa nyaman. Setelah itu Kissky memegang kedua pipi Zanjiil.
Tanpa ragu seolah sudah terbiasa, Kissky mengecup bibir Zanjiil seraya menutup matanya.
Zanjiil pun membalas ciuman Kissky, ia yang lelah membungkuk, memegang bokong Kissky dengan kedua tangannya. Setelah itu Zanjiil kembali meluruskan tubuhnya.
Posisi yang tepat membuat Zanjiil semakin leluasa mempermainkan lidah merah muda istrinya.
Kissky yang merasa indahnya ciuman saat itu jadi lupa waktu. Ia tak sadar ada seseorang yang menunggunya di kelas dengan perasaan gerah dan kelaparan.
“Hum... apa dia mencret?” gumam Liza. Ia pun berulang kali melihat jam tangannya.
Saat Kissky dan Zanjiil masih asyik dengan penyesapan bergairah dengan yang mereka lakukan
Drrrtt...
Tiba-tiba handphone Kissky yang berada di sakunya bergetar.
__ADS_1
Hal itu menghentikan aktivitas indahnya bersama sang suami tercinta.
Perlahan Kissky melepas ciumannya, namun Zanjiil menyambar bibirnya kembali berulang kali.
Zanjiil yang ingin memberi serangan lanjutan di tahan oleh Kissky.
“Ada telepon.” ucap Kissky dengan suara lembut.
“Baiklah.” Zanjiil pun menurunkan kaki Kissky ke lantai.
Kemudian Kissky mengambil handphonenya yang berada dalam sakunya.
“Liza?” Kissky pun segera menerima panggilan dari sahabatnya.
Halo... 📲 Kissky.
Kau dimana? Aku sudah 20 menit menunggu, apa jangan-jangan kau sudah pulang?! 📲 Liza.
Maaf aku baru selesai. 📲 Kissky.
Kalau dalam 5 menit kau tak datang, awas ya! 📲 Liza.
Oke-oke. 📲
Setelah panggilan telepon selesai, Kissky kembali merapikan rambutnya.
“Aku pergi dulu, Liza sudah marah-marah.”
“Hati-hati di jalan.” setelah itu, Kissky dengan langkah terburu-buru menuju ruang kelasnya.
Sesampainya Kissky ke kelas, ia melihat wajah bosan dari Liza.
“Maaf aku kelamaan ya?” Kissky tertawa canggung.
“Sudahlah, jangan banyak bicara, ayo kita pergi.” kedua sahabat itu pun segera berangkat menuju kosan Liza.
Sementara Zanjiil yang telah berada di parkiran mendengar para guru yang ingin pulang bergosip.
“Asataga, aku kasihan sekali, pada hal bu Riza nampak tenang, tapi siapa yang tahu dia punya masalah berat,” ucap guru A.
Zanjiil pun mencoba menguping sejenak pembicaraan para gurunya.
“Iya benar, tragis sekali, pada hal dia terlihat religius, tapi siapa sangka kalau dia akan bunuh diri hanya karena kekasihnya menikah dengan orang lain,” terang guru B.
”Oh... jadi karena itu masalahnya. Tapi tahu dari mana?” tanya guru A.
“Dia menulis surat wasiat.” lanjut guru B.
__ADS_1
“Astaga, pada hal masih banyak pria lain di muka bumi ini,” ucap guru A.
Buhun diri? Apa di bunuh? batin Zanjiil.
Dengan perasaan ragu Zanjiil masuk ke dalam mobilnya.
“Apa ada masalah tuan muda?” tanya Dimas, sebab ia melihat wajah majikannya penuh beban.
“Guru ku yang ku ancam kemarin, bunuh diri, tapi aku ragu akan kebenarannya, mana mungkin setelah ku kerjai dia bunuh diri dengan alasan di tinggal nikah, enggak masuk akal banget,” terang Zanjiil.
“Mungkin tuan Joe yang melakukannya.” Dimas mengutarakan pendapatnya.
“Kenapa dia harus turun tangab?” Zanjiil masih memikirkan alasan yang tepat.
“Mungkin karena iseng, atau dia ingin menjebak tuan, sebab yang terakhir bermasalah dengan bu Riza, tuan kan?” ujar Dimas.
“Kau benar juga pak. Ternyata dia ingin sekali menjadi pewaris utama perusahaan.” Zanjiil tertawa getir, pasalnya seorang anak sambung mantan istri ayahnya ingin menguasai harta keluarga besarnya.
“Tuan harus hati-hati, karena dendam masa lalu takkan begitu saja terlupakan di hati tuan Joe, tuan tahu sendiri, pasti ibunya akan terus menghasutnya untuk mengambil alih perusahaan, jadi kalau tuan muda tak mau tersingkir oleh orang yang bukan keturunan Rabbani, patuhlah pada tuan besar, dan...” Dimas yang sudah setia pada Zanjiil sejak kecil, ragu untuk mengatakannya.
”Apa pak? Katakanlah...” Zanjiil di buat penasaran.
“Tuan dan nyonya Esra, masih suka bertemu.”
“Apa? Kau serius pak?” Zanjiil tak percaya, jika sang ayah belum sepenuhnya melupakan mantan istrinya.
“Betul, tak dapat di pungkiri, nyonya Pinkan adalah wanita pilihan keluarga, sementara nyonya Esra pilihan hati tuan besar, jadi... tuan muda harus pandai dalam melihat situasi kalau ingin semua berjalan lancar, saya mengatakan ini bukan karena ingin tuan muda membenci tuan besar, tujuan saya agar tuan muda dapat bertindak dengan benar di lain waktu,” terang Dimas.
“Aku mengerti pak.” Zanjiil mengangguk paham. Ia juga makin iba pada sang ibu yang telah berjuang demi keluarga.
Biadab! Pantas Joe tak gentar sedikit pun, ternyata karena papa dan pelakor itu masih bersama, batin Zanjiil.
Sesampainya Zanjiil di rumah, ia bertemu sang ayah yang sedang duduk di ruang tamu seraya memainkan handphonenya.
Ini adalah orang yang selalu menasehati ku, tapi dia sendiri tak bisa jadi panutan. Zanjiil yang sakit hati atas pengkhianatan ayahnya pun memilih tak menyapa ayahnya.
Ia dengan santai berjalan melintasi di hadapan Basuki.
“Kau sudah pulang, Jiil? Bagaiman pelajaran hari ini?” sapa Basuki.
“Biasa saja.” jawab Zanjiil seadanya, ia pun terus berjalan tanpa melihat wajah ayahnya.
“Zanjiil kemarilah, papa ingin berdiskusi dengan mu.” ucap Basuki.
Zanjiil sungguh berat hati untuk berbincang dengan Basuki. Namun apa boleh buat, meski ia tak ingin, ia tetap harus berbicara dengan ayahnya.
“Ada apa pa?” tanya Zanjiil seraya duduk di hadapan ayahnya.
__ADS_1
“Besok papa mau ke London, tolong kau hadiri meeting dengan klien dari Irlandia, jangan lupa untuk cek sisa organ-organ dalam komputer ayah, dan... akan datang 3 orang ke pabrik untuk menjual semua organ mereka, awasi si Emir (Dokter bedah), bawa Lula untuk mencek kondisi jantung mereka, layak jual atau tidak, jangan lupa untuk ajari Lula cara mengelola ketiga jasad itu,” terang Basuki.
...Bersambung......