
Ersa tersenyum puas, sebab putranya mau menuruti keinginannya.
“Mama bersyukur, memiliki anak baik hati seperti mu.” setelah mendapat apa yang ia inginkan, Esra pergi menuju kamarnya.
Lihat saja Pinkan, aku akan menghancurkan mu, kematian Lula, akan membuat mu di rundung nestapa. batin Esra.
Sementara Joe masih tetap ragu, untuk melakukan apa yang di inginkan ibunya.
Saat ia masih dilema, tiba-tiba Joe mendapat pesan singkat dari aplikasi si hijaunya.
Ketika ia telah membuka pola handphonenya, ia pun melihat, pesan terbaru Liza.
Joe, apa kau sibuk malam ini? ✉️ Liza.
“Kenapa dia selalu mendekati ku? Apa dia mengincar suatu dari ku?” Joe yang mulai risih tak mau membalas pesan Liza.
Namun Liza yang masih bersikeras melepas masa jomblonya terus mengejar Joe.
Joe, apa kau mau datang ke kos ku? Malam ini aku buat kopi lebih dari satu gelas, karena angin membisikkan ke telinga ku, kalau kau akan datang menemui ku. ✉️ Lula.
“Dasar perempuan gila, eh... dia memang gila sih.” Joe menggaruk kepalanya.
Joe yang teringat akan rencana pembunuhannya pada Lula, berniat memperaktekkanya pada Liza.
Sedang Liza yang tak tahu kalau nyawanya dalam bahaya terus menunggu balasan pesan dari Joe.
Baiklah, aku akan datang, kalau kau hanya sendiri di kos mu. ✉️ Joe.
Iya, aku sendiri, dan merasa sepi. ✉️ Liza.
Oke, aku berangkat! ✉️ Joe.
_________________________________________
“Yes! Akhirnya, ada juga yang mau mengunjungi ku malam hari, semoga kali ini, Joe menyatakan cintanya pada ku.” Liza begitu bahagia. Ia pun mengikuti tips kaulah muda yang ia ikuti di aplikasi pesbuk, yang menyarankan dirinya untuk memakai pakaian menarik di hadapan lawan jenisnya.
Liza yang salah pengertian, ternyata telah membeli baju super kurang bahan dari aplikasi online.
_________________________________________
Faiq yang telah menyimpan sidik jari Lula tak membuang waktunya lagi.
Guru dengan IQ 200 tersebut mengirim bukti sidik jari Lula ke rumah sakit kenalannya.
“Semoga itu bukan kau Lula, karena jika terbukti, aku akan membalas kematian kakek ku.” Faiq mengepal kuat tangan kanannya.
Ia tak dapat memaafkan pelaku yang telah menghabisi nyawa kakek yang begitu menyayanginya.
________________________________________
Joe yang telah sampai di tujuan mengirim pesan pada Liza.
Aku sudah di depan kos mu. ✉️ Joe.
__ADS_1
Naiklah ke lantai 4, kamar ku ada di nomor 40, paling ujung. ✉️ Liza.
Oke. ✉️ Joe.
Kemudian Joe masuk ke dalam kosan yang terlihat seperti apartemen.
Di lantai satu ada lift untuk mencapai lantai 2 sampai 5.
Joe pun menggunakan lift tersebut untuk menyingkat waktunya.
Ting!
Setelah pintu lift terbuka, Joe keluar dan mencari nomor kamar Liza.
Model kosan yang berbentuk lurus memudahkan Joe untuk mencari kamar Liza.
“Ini dia.” sebelum masuk, Joe mengamankan pisau tajam yang di saku dalam jaket kulitnya. Setelah itu, Joe baru mengetuk pintu kamar Liza.
Tok! tok tok!
Ceklek!
Liza yang ternyata dari tadi duduk di depan pintu langsung membuka pintu dengan cepat.
“Selamat malam Joe.” ucap Liza penuh senyuman.
Sontak mata Joe membelalak, sebab ia melihat Liza memakai gaun tipis sepanjang lutut berwarna cream dengan atasan menampilkan bongkahan dada padat Liza.
Liza berpikir diamnya Joe menandakan lelaki berdarah dingin itu kagum akan dirinya.
“Ayo masuk, jangan berdiri di pintu.” Liza menuntun tangan Joe untuk masuk ke dalam kamarnya. Setelah itu, Liza menutup rapat pintu kamarnya.
Retek!
Joe pun melihat, 2 gelas kopi di atas meja. “Apa kopinya sudah dingin?” tanya Joe.
“Sudah, tapi akan lebih nikmat di bandingkan kopi panas.” Liza dan Joe pun duduk di atas sofa bersama-sama.
“Minumlah.” Liza mempersilahkan Joe untuk mencicipi kopi dengan takaran pas sesuai pabrik.
“Terimakasih banyak.”
Sruuuppp...
Joe menyeruput hidangan yang telah di sediakan oleh Liza.
“Enakkan?” ujar Liza.
”Iya, kau sangat pintar membuat kopi.” Joe memuji Liza.
“Benarkah?” Liza merasa tersanjung atas sikap manis Joe.
“Tapi Joe, apa kau baik-baik saja?” wajah Liza mendadak datar.
__ADS_1
“Memangnya kenapa?” Joe tak mengerti maksud Liza.
“Tadi aku menaruh racun di dalamnya.”
Uhuk uhuk uhuk!!
“A-apa tujuan mu sebenarnya? Siapa pesuruh mu?!” Joe yang biasa serius, mengira bahwa Liza sungguh meracuninya.
“Tujuan ku untuk menarik perhatian mu, dan yang menyuruh ku adalah lubuk hatiku yang paling dalam.” terang Liza, kemudian gadis pemberani itu tertawa terbahak-bahak, sebab wajah Joe nampak lucu di matanya.
“Apa?!” Joe mengernyitkan dahinya. Ia yang seorang pembunuh bayaran malah tertipu telak oleh gadis oleng seperti Liza.
Ku bunuh kau! batin Joe. Harga dirinya sungguh terluka saat itu.
“Ya ampun, jangan terlalu serius, hahaha... mana mungkin aku membunuh orang yang aku sayangi.” tanpa sadar Liza mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu pada Joe.
Joe yang mendengar hal tersebut hampir mati terkejut. Sebab tak ada seorang wanita yang mendekatinya selama ini terlebih dahulu kecuali Liza.
Liza yang belum menghidangkan cemilan untuk tamunya, bangkit dari duduknya.
“Tunggu disini sebentar, aku ingin mengambil lalapan istimewa untuk kita.” tawa Liza tak lepas dari bibirnya. Membuat Joe yang hidup dalam ketegangan dan tekanan merasa nyaman.
Liza yang berada di dapur mengambil buah apel envy dari dalam kulkas. Lalu menaruhnya ke atas piring polos berwarna putih.
Selanjutnya ia yang ingin memotong kulit apel tersebut tak menemukan pisau dapur atau buahnya dimana-mana.
Liza pun menuju ruang tamu dengan membawa apel yang akan ia berikan pada Joe.
“Huufftt, dimana ya?” wajah bingung Liza nampak jelas di mata Joe.
“Ada apa?” tanya Joe.
“Aku tak punya pisau untuk memotong buah ini, apa kau membawa pisau?”
“Ini?” Joe tak sadar kalau dirinya kelepasan bicara.
“Mana?” Liza menadahkan tangannya.
“Apanya?” Joe yang asal dengar tanpa menyimak yang perkataan Liza, tak tahu akan apa yang Liza minta.
“Itu, pisau yang ada di tangan mu.” Liza menunjuk ke tangan Joe, yang menggenggam pisau lipat klasik, yang ketajaman mata pisaunya lebih berbahaya dari pada silet harimau.
Joe pun melihat tangan kanannya. “Astaga.” ia yang banyak pikiran, di tambah dada Liza yang berhasil mengotori otaknya, membuat Joe tak sadar, dirinya serba refleks.
“Sini, aku pinjam.” tanpa menunggu persetujuan dari Joe. Liza mengambilnya pisau tersebut dari tangan Joe.
“Untuk apa kau membawa pisau kemana-mana?” Liza bertanya karena iseng, bukan karena curiga.
“Untuk meraut pensil.” jawab Joe sembarang, sebab ia tak tahu harus bilang apa.
“Wah, rautan mu benar-benar unik.” Liza yang memiliki pikiran positif tak merasa aneh, sebab Joe yang jurusan otomotif tak mungkin memakai pensil. “Aku suka bentuknya, Auh!!” Liza yang tak hati-hati melukai tangannya yang sedang mengupas kulit apel.
...Bersambung......
__ADS_1