
Derai air mata Arsy bercucuran, ia yang memiliki kuku panjang mencakar bahu Eric.
Namun Eric yang kesal duluan tak merasakan itu semua.
2 jam kemudian, Arsy tergeletak tak berdaya. Tubuhnya seakan tak punya tenaga lagi untuk berdiri.
Eric yang telah selesai memakai baju tersenyum nakal pada istrinya.
“Hum! Sudah tua, tapi bertingkah seperti anak-anak, kalau kau relaks, pasti rasanya enak. Ini malah menggeliat ke kiri dan ke kanan, pada hal kau kan tak di perkosa!” Eric tertawa, kemudian ia membersihkan tubuh Arsy dengan tisu basah anti septik.
Setelah itu, ia membantu Arsy yang lemah memakai baju.
“Ini, minum dulu!” Eric memberi Arsy air minum mineral. “Pasti tenggorokan mu kering karena teriak-teriak, beruntung ini minggu, jalanan sepi.” Eric yang terus mengoceh tak di perdulikan oleh Arsy. Arsy juga tak meminum air pemberian Eric.
Sialan! Bisa-bisanya dia bersikap biasa saja setelah membuat aku kesakitan, batin Arsy.
Kemudian Eric mengecup pipi Arsy. “Sudahlah, berdamai saja dengan keadaan, ayo kita pulang.” kemudian Eric pindah ke kursi depan.
“Aku sudah dapat bagian ku, kalau mau lompat, silahkan!” Eric menggoda istrinya.
Arsy yang mendapat perkataan demikian tersentak. Ia pun bersedekap dan buang wajahnya.
Kemudian Eric menyalakan mesin mobilnya, dan mulai membelah jalan raya yang sepi akan kendaraan.
“Kau akan bawa aku kemana?” tanya Arsy.
“Ke Bandung, aku tinggal disana sekarang.” jawab Eric.
“Benarkah?” Arsy menghela napas panjang.
“Sudahlah Sy, lupakan masa lalu, ayo kita buka lembaran baru, benih ku sangat sehat loh! Nanti kalau tiba-tiba kau mengandung, bukannya itu akan membuat calon mu ngamuk?” Eric mengajak Arsy bercanda.
“Terserah.” ucap Arsy yang telah pasrah dengan takdir hidupnya.
Selama perjalanan Eric terus saja tersenyum tiada henti, ia juga sering melihat ke arah kaca spion mobilnya.
Ia pun melihat wajah istrinya yang tak berdaya.
Ia yang larut memandang kecantikan Arsy tak sadar, jika ia mengemudi keluar jalur.
Arsy yang kebetulan melihat ke arah depan langsung histeris.
“Akh!!! Awas! Lihat jalan!” Sontak Eric melihat ke arah depan.
“Akh!! Kenapa kau baru bilang??!!” mobil yang di kemudinya ternyata melaju menuju danau yang jaraknya 30 meter dari jalan raya.
Cbur!!!
Alhasil mobil yang mereka kendarai terjun ke dalam air.
“Aduh! Bagaimana ini?” seketika Arsy menjadi panik.
__ADS_1
“Ya tinggal buka kaca mobil!” Eric yang memiliki segudang pengalaman bertahan hidup tak kesulitan menghadapi hal itu.
“Tapi nanti airnya makin masuk!” Arsy jadi gugup, tak bisa melakukan apapun.
“Lamban!” kemudian Eric menuju kursi belakang. “Kalau mau buka pintu ini akan sulit. Kau siap ya!” kemudian Eric membuka kaca mobil, perlahan air pun masuk mengikuti besarnya mulut mobil yang mereka buka.
“Ayo cepat.” Eric pun membantu Arsy untuk keluar.
Beruntung, tubuh Arsy yang mungil dapat lolos dengan mudah.
Ia yang hanya bisa sekedar berenang berusaha untuk sampai ke tepian dengan menelan banyak air.
Usai Arsy sampai ke tempat yang paling dangkal, ia pun batuk-batuk.
Setelah agak mendingan, Arsy melihat kesana kemari.
“Eric! Eric!!” Arsy memanggil-manggil nama suaminya.
Namun orang yang baru saja bercinta dengannya tak kunjung muncul kepermukaan.
“Eric!! Kau dimana?! Eric! Hiks... Eric... goblok!” Arsy kesal karena hanya dia yang selamat.
“Pada hal aku baru bertemu kau! Eric!! Hiks...” Arsy yang merasa bersalah dan berhutang budi berenang untuk mencari suaminya.
Uhuk uhuk uhuk!
Arsy yang terus menelan air danau berulang kali muntah dan batuk.
Tab!
Tiba-tiba Eric melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Arsy.
Sontak wajah Arsy menoleh ke Eric yang ada di belakangnya.
“Biawak!!!” Arsy memeluk Eric dengan erat.
Eric pun membalas pelukan Arsy. “Aku enggak akan mati hanya karena nyungsep ke danau! Hahaha...” Eric menertawai istrinya yang cengeng.
Lalu Arsy melepas pelukannya. “Tetap saja! Aku khawatir! Ini semua gara-gara mu, coba kita tak begituan di mobil! Pasti enggak akan kena apes!” Arsy menyalahkan suaminya atas musibah yang mereka alami.
“Kalau dengan cara baik-baikkan kau pasti enggak mau kan!” keduanya pun kembali adu mulut di tengah air danau yang dingin.
“Heh! Kita mau sampai kapan disini?” ucap Eric yang telah menggigil.
“Ya enggak besok juga kali, ayo!” ujar Arsy.
“Kencangkan pelukan mu, karena kita mau berenang!” Eric meletakan tangan Arsy ke pinggangnya. “Siap ya sayang.”
Arsy pun mengangguk. Kemudian Eric yang jago berenang menyelam ke dalam danau menuju ke tepian.
Arsy yang tak mau kehilangan momen itu pun membuka matanya dan melihat jakun dan leher Eric yang jenjang.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, keduanya pun sudah di tepi danau. Lalu Eric membantu Arsy untuk berjalan menuju daratan.
“Akh! Cape!” Arsy merebahkan tubuhnya di atas tanah liat merah. Begitu pula dengan Eric.
“Kau cengeng banget sih, dikit-dikit nangis!” Eric meledek istrinya.
“Memangnya kau! Orang mati di tangan mu saja, kau sama sekali tak bergeming!” Arsy mengungkit masa lalu mereka.
“Oh, iya juga sih.” Eric menundukkan kepalanya.
“Terus bagaimana sekarang? Mau panggil bantuan juga enggak bisa, handphone dan tas ku ketinggalan di mobil mu.” Arsy merasa sayang dengan ponselnya yang tenggelam dengan mobil Eric.
“Biarkan saja, nanti ku ganti,” ucap Eric.
“Lalu, mobilnya gimana?” tanya Arsy.
“Enggak apa-apa, itu murah kok. Yang penting kita selamat.” Eric ikhlas kehilangan mobil carterannya.
“Baiklah, ayo kita cari tumpangan.” Arsy pun bangun dari tidurnya.
Lalu Eric melihat istrinya yang telanjang kaki. Oh iya, heelsnya tinggal di mobil tadi, batin Eric.
Ia pun berinisiatif untuk membuka sepatu snekersnya.
“Ini, pakailah.” Eric membuka sepatunya.
“Enggak ah, nanti untuk mu apa?” Arsy tak mau menerima pemberian Eric.
“Ayolah! Mana mungkin kau jalan dengan telanjang kaki, panas-panasan lagi, nanti telapak kaki mu melebur Arsu.” kemudian Eric memakaikan sepatunya di kaki Arsy.
Arsy terus menatap pria yang membuatnya sengsara batin selama 10 tahun terakhir ini.
Eric yang telah selesai mengikat sepatu pun mendongak.
“Kalau beginikan lebih oke.” setelah itu Eric berdiri, dan menggenggam tangan Arsy.
Keduanya pun berjalan menuju jalan raya dengan baju yang basah.
”Kita mau jalan kaki sampai bandara?” tanya Arsy, sebab kakinya yang memakai sepatu kebesaran sangat sulit untuk melangkah.
“Tidak, kalau ada yang mau kasih tumpangan.” terang Eric yang berjalan di depan Arsy.
“Oh... hei, apa kau ingat waktu kita tersesat bohongan di pulau?” seketika Arsy tertawa, mengingat kenangan indah mereka.
Sekarang jugakan kita lagi main musafir-musafiran, batin Eric.
“Iya, aku ingat, dan aku rindu masa-masa itu, apa kau tak menyesal membuang waktu mu selama 10 tahun? Kalau kita tak berpisah, mungkin kita sudah punya 4 anak,” terang Eric dengan tersenyum tipis.
“Iya kali anak 4, kau pikir aku kucing, bentar-bentar lahiran?!” Kissky protes dengan perkataan suaminya.
...Bersambung......
__ADS_1