
Netra Kissky berputar kesana kemari tak menentu, terlebih bau harum nafas Zanjiil begitu menusuk ke indera penciumannya.
Deg!
“Bagaimana? Kita masuk sekarang? Kalau kau enggak bersedia, maka kembalilah ke kamar mu.” Zanjiil pun kembali menegakkan tubuhnya yang bidang.
“Dasar gila! Awas kau ya, kalau kau ulang lagi!” Kissky yang grogi, tak sanggup untuk lama-lama berdiri di hadapan Zanjiil.
Ia pun memutuskan untuk beranjak ke kamarnya.
Baam! Dengan kasar, ia menutup pintu kamarnya.
“Gila, sudah berapa kali aku deg degan karena nya? Jangan bilang ini cinta.” Kissky memegang dadanya yang masih berdetak kencang.
Seketika, ia teringat akan perkataan Zanjiil, takkan memberikan hatinya pada Kissky, jika suatu saat Kissky jatuh cinta padanya.
“Enggak mungkin aku suka sama si biawak itu!” Kissky yang mulai jatuh cinta pada Zanjiil mencoba membohongi hatinya.
Untuk melupakan Zanjiil, ia pun menyibukkan diri dengan belajar.
Keesokan harinya, Kissky yang bangun tepat waktu, telah rapi dengan seragam sekolahnya. Ia pun turun ke lantai satu, menuju ruang makan.
Beruntungnya, ia masih bertemu dengan sang kedua mertua dan adik iparnya yang sedang sarapan.
“Kau sudah bangun?” sapa Pinkan pada menantunya.
“Maaf ma, kemarin enggak bisa ikut sarapan bersama.” ucap Kissky dengan perasaan sungkan.
“Tak apa, mama juga minta maaf, karena enggak bisa membangunkan mu,” ucap Pinkan dengan penuh senyum.
“Lula, pulang jam berapa kemarin?” tanya Kissky pada adik iparnya.
“Jam 20:00 malam kak, di jemput mama, mau naik ke kamar kakak, tapi enggak enak, takut kakak sudah tidur,” ucap Lula.
“Oh ya? Maaf, karena lelah di sekolah, aku jadi tidur cepat.”
“Iya kak, sekolah disana memang melelahkan, makanya aku minta pindah sama mama dan papa.” terang Lula yang pernah sekolah SMP Tunas Bangsa.
“Oh ya??” Kissky tertawa kecil, karena sejujurnya, jika ia bisa meminta, ia juga ingin sekolah di tempat yang biasa saja.
“Pada hal Lula rugi besar Ky, karena lulus dari sana, mau lanjut ke sekolah atau universitas mana pun akan di terima, apa lagi melamar kerja, HRD takkan pikir dua kali untuk menerimanya,” ucap Basuki.
“Masa sih pa?” Kissky yang baru tahu merasa tercengang.
__ADS_1
“Iya, makanya, orang yang tahu benefit dari sekolah itu, akan berlomba-lomba menyekolahkan anaknya kesana, memang sedikit mahal, tapi sesuai juga dengan feed back yang akan kita dapatkan,” terang Basuki.
“Tapi, kalau Zanjiil sih, murni karena keinginannya sendiri kesana, kalau mama dan papa, mendukung kemana pun ia ingin melanjutkan pendidikannya.” ujar Pinkan.
Ya, walau pun dia suka, bukan berarti aku suka kan? batin Kissky.
“Tapi, sepertinya Kissky enggak nyaman sekolah disana ma, pa.” Zanjiil mengatakan apa yang ia lihat.
“Benarkah?” Pinkan menoleh ke arah menantunya.
“Enggak ma, Kissky suka kok sekolah disana.” Kissky membantah pernyataan Zanjiil.
“Aku yakin dengan yang di katakan bang Zanjiil ma, apa lagi guru-guru disana galak dan kaku, hahaha!” Lula yang mantan siswi sekolah itu pun menertawai kakak iparnya.
“Pindahkan saja ma, kasihan Kissky, dia benar-benar tidak bisa menyesuaikan diri.” pinta Zanjiil, yang ingin jauh-jauh dari istrinya.
“Kalau itu enggak boleh! Aku tahu, tujuan abang biar bisa dekat sama cewek-cewek kan? Ketahuan banget niat bulusnya!” Lula yang indera penciumannya tajam, langsung dapat menebak isi hati Zanjiil.
“Benar Jiil?” tanya Basuki.
“Enggaklah yah, satu saja enggak habis, masa mau nambah lagi?” ucapnya sebagai alasan.
Kissky yang tak ingin ikut andil dalam perdebatan keluarga itu pun memilih diam.
“Alah, jangan-jangan kau belum putus lagi dengan cabe rawon itu, eh! Siapa namanya? Aku lupa.” ucap Lula, yang tahu Zanjiil memiliki kekasih sebelum menikah.
“Apa sih kau, sok tahu banget!” Zanjiil memelototi adiknya.
“Mama... lihat bang Zanjiil!” Lula meminta pembelaan pada Pinkan.
“Zanjiil, kondisikan mata mu itu!” Pinkan yang sangat menyayangi anak bungsunya, menegur anak sulungnya.
“Intinya, benar atau tidak yang di katakan Lula, kau harus membersihkan dirimu, memiliki hubungan dengan orang lain setelah menikah, itu namanya selingkuh, dan orang yang selingkuh, bisa di laporkan ke kantor polisi, selain itu, dosa mu juga besar, pokoknya, jangan macam-macam Jill!” pekik Basuki.
“Iya yah.” ucapnya, lalu ia melirik adiknya yang menjulurkan lidah padanya. Karena kesal Zanjiil menggertakkan giginya pada Lula.
Setelah selesai sarapan pagi, anggota keluarga itu pun menuju garasi bersama, untuk berangkat ke tujuan mereka amsing-masing.
“Lula, apa hari ini kau masih nginap di rumah?” tanya Kissky, yang ingin memiliki teman bicara, sebab di rumah besar itu taknada yang bisa di jadikan kawan curhat, terlebih keluarga Rabbani begitu sibuk dengan urusan pekerjaan, sehingga sangat jarang bagi mereka untuk bertatap muka.
“Aku belum tahu kak, memangnya kenapa?” tanya Lula.
“Pengen ngobrol saja, karena sejak aku masuk ke dalam rumah ini, aku belum pernah bicara banyak dengan mu, hari itu kau langsung masuk asramakan?” terang Kissky.
__ADS_1
“Paling libur panjang dulu kak,” ujar Lula.
“Benar Ky, nanti kalian bisa main dan ngobrol sepuasnya, kalau dia sudah libur,” ucap Pinkan.
“Iya ma.” sahut Kissky.
Ketika Kissky mengambil sepeda yang biasa ia pakai untuk ke sekolah, Lula mengernyitkan dahinya, terlebih ia melihat, Zanjiil malah menaiki mobil.
“Loh, kok enggak berangkat bareng bang Zanjiil kak?” semua orang menoleh ke Lula.
“Karena aku suka naik sepeda La,” sahut Kissky.
“Dan dia memang cocok naik sepeda,” sahut Zanjiil.
“Jangan gitu dong, kalau berangkatnya sendiri-sendiri, yang ada orang pikir bang Zanjiil masih lajang lagi, pokoknya jangan naik sepeda, turun!”
“Sudahlah La, biarkan Kissky naik sepeda, toh itu maunya,” ujar Pinkan.
“Betul, ayo! Kita harus segera berangkat, sudah terlambat banget nih, dari sini ke stasiun maka waktu 3 jam, papa masih punya urusan lain.” ucap Basuki.
“Pa, mama duluan ya, karena mama juga ada meeting nih dengan klien.” Pinkan yang telah izin pada suaminya, menaiki mobil yang di kemudikan oleh supirnya menuju perusahaan yang ia kelola sendiri.
“Ayo kak Kissky, naik ke mobil bang Zanjiil, perginya harus sama-sama, kalau kau begitu terus, yang ada bang Zanjiil ke enakan!” Lula yang tak ingin abangnya banyak ulah, menarik tangan kakak iparnya, dan memaksa masuk ke mobil yang di naiki Zanjiil.
“Awas! Geser!” pekik Lula.
Setelah Kissky duduk di sebelah Zanjiil, Lula pun membuka pintu mobil bagian depan.
“La, bukannya kau akan berangkat dengan papa?” Zanjiil terkejut, saat adiknya ikut naik ke mobilnya.
“Aku berangkat dengan kalian saja, toh satu jurusan, nanti kalau aku tak ada, kau suruh kak Kissky jalan kaki lagi!” Zanjiil menyunggingkan bibirnya, karena sang adik, tahu persis isi hatinya.
“Jadi kau di antar Dimas La?” tanya Basuki.
“Iya pa, papa duluan saja!” sahut Lula.
“Baiklah kalau begitu.” Basuki pun masuk ke dalam mobilnya, selanjutnya meluncur menuju kantor BPI (Best Products Indonesian), perusahan yang bergerak di bidang distribusi dan manufaktur berbagai macam produk kecantikan, kesehatan, dan juga barang elektronik rumah tangga.
...Bersambung......
__ADS_1