
“Liza, sejak kapan kau ada di sebelah ku?” Gibran yang tak menyadari kehadiran Liza menjadi sedikit bingung.
“Dari tadi, hehehe... kau lagi ada masalah apa? Ceritakan pada ku, mana tahu aku bisa membantu mu.” kebaikan hati Liza membuat Gibran sedikit terhibur.
“Aku tak punya masalah apapun, ayo! Kita harus cepat ke kelas.” Gibran dan Liza pun sama-sama ke kelas bersama.
Kissky yang telah berada dalam kelas bertemu dengan Liza yang telah duduk di kursinya.
“Hei, masih pagi sudah melamun!” Kissky tersenyum seraya duduk ke kursinya.
“Aku merasa khawatir Ky,” ucap Liza.
“Ada apa memangnya? Apa kau di usir oleh orang tua mu?” Liza yang serius malah di ajak bercanda oleh Kissky.
“Kissky! Do'a macam apa yang kau katakan?” Liza memancungkan bibirnya.
“Ya Tuhan, kau serius banget, tumben kali
ini otak mu waras.”
“Ya Allah Ky, kau sekali lagi mendo'akan ku yang tak baik, sungguh terlalu!”
“Baiklah, maafkan aku, sekarang coba ceritakan yang sesungguhnya.” kali ini Kissky siap untuk mendengar curahan hati sahabatnya.
“Gibran.”
“Ada apa dengan dia?” tanya Kissky dengan penuh penasaran.
“Aku juga enggak tahu, karena dia enggak mau cerita, aku khawatir banget jadinya.” ucap Liza dengan perasaan cemas.
Kissky pun menoleh ke arah Gibran yang masih melamun.
Kau kenapa Bran? batin Kissky.
Ia yang ingin bertanya langsung tak dapat melakukannya, sebab ia tak ingin bila masalah baru tercipta dalam kehidupan rumah tangganya.
Huff... ya Tuhan, susah sekali kalah sudah jadi istri orang, enggak bisa bebas melakukan apa pun yang ku mau, batin Kissky.
“Apa mungkin dia kepikiran kalau aku akan menolaknya, kalau dia menembak ku?” Liza yang percaya diri merasa jika masalah yang di alami Gibran ada hubungannya dengannya.
“Ngomong apa sih kau!” Kissky geleng-geleng kepala.
“Siapa yang tahu isi hati seseorang?” Liza tetap ngotot akan pendapatnya.
“Iya...! Mungkin kau benar, dan seharusnya kau mampu membuatnya merasa nyaman, kalau semua keresahannya mengenai dirimu!” terang Kissky.
“Ya, kau benar, nanti aku akan ajak dia makan malam bersama,” ucap Liza.
“Oh ya, bagaimana dengan kosan mu?” tanya Kissky.
“Sangat keren, kau tahu, kosan ku dekat dengan laut, hanya berjarak 200 meter ke pantai, suara ombak begitu menenangkan, apa lagi aku bisa melihat sun rise dan sun set, ingin rasanya aku mengajak Gibran melihat sunset, pasti romantis banget, terlebih aku tinggal di lantai 4, seluruh kota juga terlihat dari sana,” Liza mendeskripsikan model kosannya pada Kissky.
“Pasti seru sekali disana, serius aku tertarik banget tinggal disana juga!!” ucap Kissky dengan perasaan antusias.
“Pokoknya kosannya bersih, mirip apartemen, hanya saja kosan ku cuma sampai lantai 5, pokoknya semua pintu kosan mengarah ke laut lepas, kita juga bisa masak sendiri, atau pesan online lewat pemilik kos.”
“Dan juga pantai dekat kosan mu bukan untuk tempat wisata, Ya Tuhan... aku benar-benar tergoda...” Kissky yang ingin hidup mandiri sangat ingin tinggal di kosan yang sama dengan Liza.
“Minta saja pada orang tua mu, nanti kita satu kamar, lagi pula kosan ku cukup luas, pasti kau berpikir tempatnya sempit kan? Pokoknya taruh sofa masih bisa, ada dapur kecil yang memiliki jendela, dan satu kamar tidur. Yang dua kamar juga ada, kalau kau mau, kita pindah ke lantai 5, disana masih ada yang kosong untuk 2 kamar tidur,” terang Liza.
Aku sih mau banget tapi itu enggak akan mungkin, batin Kissky.
“Bagaimana? Dari pada kau tinggal dengan saudara orang tua mu, pasti semua serba salah, takut bangun terlambat, takut makan banyak, takut keluar sesuka hati mu, hei ku katakan pada mu, kalau kau salah dalam bersikap, pasti mereka ngadu pada orang tua mu, hum! Enggak banget! Tapi kalau kau jadi anak kos! Mau pulang kapan pun bebas!!!” Liza terlihat sangat bahagia atas kebebasan yang ia peroleh dari orang tuanya.
__ADS_1
“Kau benar-benar beruntung, tapi itu enggak akan mungkin untuk ku,” ucap Kissky.
“Benarkah?” Liza merasa iba pada sahabatnya.
“Sudahlah, apa kau sudah mengerjakan PR (Pekerjaan rumah) matematika mu?” tanya Kissky.
“Asataga! Aku lupa!” Liza dengan cepat mengambil buku paket dan tulisnya.
“Astaga... apa saja sih yang kau lakukan di tempat tinggal baru mu? Pada hal ini pelajaran di jam pertama,” Kissky meledek Liza.
“Dari pada kau berisik, lebih baik kasih contekan pada ku, itu jauh lebih baik!” pekik Liza.
Sontak Kissky mengernyitkan dahinya, pasalnya ia tak percaya, jika sahabatnya begitu malas dalam mengerjakan tugas sekolah.
Tapi karena Kissky bukan manusia yang pelit dan tak mengejar peringkat satu, ia pun mengizinkan sahabat karibnya untuk menyalin semua jawaban yang telah ia kerjakan dengan susah payah.
Tet... tet... tet...
Bel sekolah tiba-tiba berbunyi, sementara Liza baru menyelesaikan satu soal.
Kissky tersenyum tipis melihat Liza menulis seraya menungging.
Pada hal duduk juga bisa, batin Kissky.
Zanjiil yang mendapati istrinya senyum dengan begitu cantik tiba-tiba teringat akan hutangnya pada sang istri.
“Oh iya, aku belum bayar ciuman yang ku lakukan tadi malam.” Zanjiil dengan cepat mengambil handphone dalam sakunya.
Selanjutnya ia membuka aplikasi mbanking, kemudian Zanjiil mengetik 100 juta pada menu transfer.
“Berhasil!” ia amat bersemangat karena telah melunasi hutangnya.
Rasanya malu banget kalau huyang ku tak di bayar cepat, batin Zanjiil.
Kissky yang merasakan getaran handphonenya segera mengambil dari dalam sakunya rok abu-abunya.
“Hum? Notifikasi bank?” Kissky pun membuka pesan singkat elektroniknya.
“Hah?” Ia tersentak dan juga tak menyangka, karena Zanjiil benar-benar membayar atas ciuman yang suaminya lakukan.
Dasar gila! Tapi... bukankah aku sendiri yang meminta? batin Kissky.
Zanjiil yang melihat istrinya memegang handphone tersenyum puas.
Apa uang yang ku beri masih kurang? Oh iya, benar juga, sejak jadi istri ku, aku belum pernah memberikannya nafkah, batin Zanjiil.
Ia yang baru gajian, dengan cepat memberikan istrinya uang bulanan.
Drrrtt...
Kissky yang masih memperhatikan layar handphonenya kembali tersentak, sebab ia mendapat pesan baru dari akun bank nasional yang ia pakai.
300 juta? Uang apa lagi ini? batin Kissky.
Saat ia masih dalam kebingungannya, tiba-tiba Zanjiil mengirim pesan padanya.
Untuk mu, uang belanja istri ku, belilah apa yang kau mau, maaf hanya bisa memberi mu sedikit. ✉️ Zanjiil.
Aku enggak butuh, lagi pula orang tua ku dan mama papa di rumah memberi ku uang jajan. ✉️ Kissky.
Itu rezeki mu, tapi yang dari ku adalah hak wajib yang harus kau terima setiap bulan. ✉️ Zanjiil.
Dia, tipe laki-laki yang bertanggung jawab, batin Kissky.
__ADS_1
Kelak, kalau aku sudah lulus SMK, maka aku akan aktif di perusahaan secara resmi, saat itu terjadi, pasti kau akan mendapatkan yang lebih besar, batin Zanjiil.
Akhirnya Kissky menerima apa yang di beri suaminya.
Berkah selalu, semoga Allah mengganti lebih dari yang kau beri pada ku . ✉️ Kissky.
Aamiin, do'a kan saja aku selalu sehat dan panjang umur. ✉️ Zanjiil.
Aamiin. ✉️ Kissky.
Meski berada di tempat yang sama, namun mereka lebih memilih untuk berkirim pesan agar privasi keduanya aman.
“Hah! Akhirnya selesai juga!!!” Liza menghela napas panjang.
“Tapi, ini sudah lewat 15 menit loh, apa bu Lisa sakit?” ucap Kissky.
Lisa yang biasa aktif, bersemangat dan tepat waktu, tiba-tiba terlambat masuk kelas hari itu.
Bagi setiap orang yang membenci pelajaran menegangkan itu merasa bahagia.
Meski Kissky merasakan perasaan yang sama. dengan yang lain, namun ia merasa cukup janggal jika guru teladan itu tak datang tepat waktu.
________________________________________
Lula yang ada di kelas pagi itu hanya menghabiskan waktu belajarnya dengan menyandarkan kepalanya di meja.
Lama banget biar bel, aku lapar, batin Lula.
Lula yang seenaknya di perhatikan oleh gurunya yang sedang menerangkan di depan
Sejak anak setan itu pindah kesini, harga diri para guru jadi terinjak-injak karenanya. Para siswa juga lebih percaya padanya dari pada kami, tapi walau begitu dia juga memiliki dampak positif bagi sekolah ini, yang mana orang-orang jadi berpikir kalau tenaga pendidik mampu menjadikan setiap siswa jadi cerdas, dan bisa bersaing dengan anak-anak dari sekolah lain, intinya di satu sisi aku benci dia, di sisi lain aku suka padanya. batin sang guru.
Pada saat istirahat telah tiba, Lula yang ingin ke kantin harus tertunda karena seorang teman wanitanya meminta bantuan.
“Lula, yang ini bagaimana sih cara menyelesaikannya?” tanya teman sekelasnya.
“Ya ampun, begitu mudahnya tapi kau tak bisa?” lalu Lula menjelaskan pada temannya cara penyelesaian soal matematika yang baru saja di terangkan gurunya.
Perlahan satu persatu siswa mengerumuni Lula, sebab menurut mereka, penjelasan dari Lula lebih mudah di pahami dari pada sang guru yang mengejar mereka.
Setelah selesai menjelaskan apa yang teman-temannya tak mengerti, tiba-tiba bel berbunyi.
Tet... tet... tet...
Sial! Gara-gara para bocil ini aku jadi enggak bisa ke kantin. umpat Lula dalam hatinya.
Meski para siswa di sana jauh lebih tua darinya, namun ia yang pemikirannya jauh lebih dewasa menganggap semua siswa yang ada di sekolah itu adalah adiknya.
“Nanti lagi ya, aku mau ke kantin!” meski sudah bel, namun Lula tak segan-segan untuk keluar kelas.
Saat ia sudah berada di pintu, tiba-tiba guru bahasa Indonesianya masuk kelas.
Sialan! Kenapa dia ada kelas hari ini? batin Lula.
Meksi ia jenius, namun sifatnya yabg tak pernah melihat roster setiap harinya membuat ia kecolongan.
“Mau kemana? Duduk di bangku mu!” pekik Faiq, sang guru tampan berusia 24 tahun.
“Saya lapar pak, mohon izin ke kantin,” ucap Lula.
“Tidak bisa! Kembali ke bangku mu, atau kau mau ku hukum menulis permintaan maaf sebanyak 50 lembar buku bulak balik?!”
Semua guru dapat Lula kendalikan, kecuali sang guru tampan, yang memiliki tinggi 180 cm, dan berat badan 65 kg, selain memiliki visual bagai idol, sang guru tersebut memiliki IQ 200, yang membuat Lula sering gigit jari apabila sang guru masuk ke kelas.
__ADS_1
...Bersambung......