Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 51 (Enggak main-main)


__ADS_3

Setelah sampai ke lapangan, Zanjiil dengan semangat berapi-api menatap tajam ke arah Gibran.


“Aku takkan kalah darimu!” pekik Zanjiil.


“Apa pun yang kau lakukan, akulah yang akan jadi pemenangnya.” Gibran tersenyum getir pada Zanjiil.


Kau hanya pura-pura baik di hadapan Kissky, ternyata kau serigala liar juga, batin Zanjiil.


“Aku sangat kasihan pada mu.” ucap Zanjiil.


Perkataan Zanjiil yang penuh makna membuat Gibran mengernyitkan dahinya. Ia tak mengerti arah pembicaraan rivalnya tersebut.


Zanjiil yang tak mau membuang waktu mulai berlari mengelilingi lapangan, begitu pula dengan Gibran.


“Dia istri ku, dia milik ku! Sekali ku dapat, takkan pernah ku lepas!” di panas matahari yang sangat terik, Zanjiil dan Gibran berlari dengan semangat membara.


Kissky dan Covit melihat keduanya dari pinggir lapangan yang memiliki tempat duduk yang teduh.


“Kau beruntung sekali,” ucap Covit seraya netranya menatap tanpa henti ke arah Zanjiil dan Gibran yang sedang berlari.


“Itu menurut mu!” sahut Kissky.


“Kenapa tidak? Ada dua laki-laki tampan yang memperebutkan mu, yang satu masih jomblo, yang satunya lagi sudah punya kekasih, kalau aku jadi kau, akan ku pilih Gibran, karena masuk ke hubungan orang lain itu hanya akan mengundang petaka, dan juga bahan cibiran orang lain.” terang Covit, yang ternyata menyimpan rasa pada Zanjiil sejak pertama kali masuk sekolah.


“Kalau aku jadi kau, aku takkan mau tahu urusan orang lain,” ucap Kissky.


Covit merasa tersentak dengan kata-kata menohok dari Kissky.


“Ck!” ia pun menggelengkan kepalanya. “Kalau sampai Luna tahu, bisa habis kau! Apa lagi ia punya 2 mata-mata yang terus mengawasi Zanjiil.”


Kissky melirik Covit, ia yang belum tahu siapa kedua sahabat Luna bertanya pada Covit.


“Siapa mereka?”


“Mei dan Suli,” jawab Covit.


“Mereka jurusan apa?”


“XB seni, hati-hati, keduanya brandal, teman ku yang ada di kelas itu sudah mengakuinya, kau enggak mau jadi bahan rundungan di sekolah inikan?” ujar Covit.

__ADS_1


Kalau bukan karena para mertua, aku takkan takut pada siapapun, batin Kissky.


“Begitu ya,” Kissky menganggukkan kepalanya.


Ia yang melihat Zanjiil dan Gibran akan menyelesaikan taruhan, bangkit dari duduknya.


“Kau mau kemana?” sapa Covit.


“Ke vending mesin!” Kissky pun meninggalkan Covit yang sedang duduk santai.


5 menit kemudian, kedua pria tampan yang telah menyelesaikan taruhan menghampiri Kissky dan Covit.


“Haaah... haaah!!” nafas Gibran memburu dengan cepat karena kelelahan, sedangkan Zanjiil biasa saja, terlihat dirinyaxseperti pelari profesional.


Namun walau begitu, kulitnya yang putih mendadak gosong, apalagi di bagian wajahnya.


“Kau pasti lelah!” Kissky menyeka keringat Gibran dengan tisu, tak lupa ia memberi sahabatnya tersebut air mineral dingin.


“Apa?” netra Zanjiil membulat sempurna, pasalnya, ia yang menggantikan posisi Kissky malah tak mendapat perhatian sedikit pun.


Covit yang memiliki 2 air minum pun, menawarkannya pada Zanjiil.


Zanjiil yang marah memelototi Covit, dan dengan perasaan yang tak tergambarkan ia meninggalkan lapangan. Setelah Zanjiil cukup jauh, ia pun memukul tembok.


“Dasar, istri sialan!” umpatnya.


Diam-diam Kissky melirik Zanjiil yang pergi terlebih dahulu.


“Terimaksih banyak, kau baik sekali pada ku.” Gibran sangat bahagia karena mendapat perhatian lebih dari Kissky, ia juga merasa jika peluang untuk mendapat Kissky lebih besar.


“Sama-sama Bran,” sahut Kissky.


Gluk gluk gluk!!!


“Aahhh.. segar! Kau memang pandai memilih minuman yang tepat, siapapun pasti akan suka!” ungkap Gibran.


“Benarkah?” Kissky tersenyum menerima pujian dari sahabatnya.


Sedang Covit, menatap lekat ke botol minum yang memiliki merek yang sama dengan Kissky.

__ADS_1


Dasar gombal! batin Covitria.


_________________________________________


Sore harinya, setelah pulang sekolah, Kissky yang merasa bahagia bersenandung seraya menaiki anak tangga.


Sedangkan Zanjiil yang akan menuruni anak tangga melihat dengan jelas rona bahagia di wajah istrinya.


Haruskah ku dorong dia? Agar segera mati sekalian? batin Zanjiil.


Kissky yang melihat kehadiran suaminya, malah semakin mengencangkan lagu yang sedang ia nyanyikan.


“Aku terluka! Melihat kau dengannya....!!” Zanjiil yang merasa tersindir memutar mata malas.


Saat akan berpapasan dengan Zanjiil yang ingin turun, Kissky mencolek pinggang suaminya.


“Toet! Toet... hahahaha!” Kissky meledek Zanjiil, ia tahu, jika suaminya marah padanya.


Zanjiil tak menggubris keusilan yang Kissky lakukan, ia justru melanjutkan langkahnya untuk turun.


“Iri! Bilang bos!! Cemburu tanda hihi, marah tandanya hehe.” Kissky tertawa riang, tanpa memikirkan perasaan Zanjiil.


Zanjiil yang tak bisa menahan amarahnya lagi dengan cepat balik kanan.


Kissky yang tak tahu jika Zanjiil menyusul dirinya, masih lanjut bernyanyi.


“Emang aku pikirin, kau punya pacar seribu, aku punya segudang, aakhhh!!” Kissky yang terkejut berteriak sekencang-kencangnya.


Sebab Zanjiil menggendongnya ala bridal style secara tiba-tiba.


“Rabbani! Turunkan aku!” Kissky mencubit keras hidung mancung suaminya.


“Diam! Kalau enggak, ku lempar kau ke bawah!” ucap Zanjiil, seraya mengarahkan tubuh Kissky ke luar realing tangga (pegangan tangga)


“Iih!!! Dasar gila! Kadang kau ada kumat-kumatnya ya! Tanpa alasan yang jelas emosi, marah-marah, tapi dalam hitungan menit kau sudah berlagak baik pada ku, apa sebenarnya kau punya kepribadian ganda?!” pekik Kissky.


“Berisik! Ku buang sungguhan seru kayaknya.” wajah tenang Zanjiil membuat Kissky merasa takut.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2