
“Kau benar juga sayang, aku sih ikut apa kata mu saja, karena yang mengandung kan dirimu.” Eric mendukung segala keputusan istrinya.
“Terimakasih banyak mas, sudah mau mendengar pendapat ku.” Arsy baru merasakan indahnya dunia rumah tangga saat ia telah memasuki usia dewasa.
Keesokan harinya setelah sarapan pagi, keluarga Eric pun berpamitan. Begitu pula dengan July.
“Kami pulang nak, jangan lupa datang ke acara pernikahan Lula.” Pinkan memeluk Eric dan Arsy.
“Iya ma, kalau tak ada halangan pasti kami akan datang.” Eric mengecup kening ibunya.
“Awas saja kalau abang dan kakak enggak datang! Ku makan kalian berdua.” Lula mengancam abang dan kakak iparnya.
“Iya La, kami akan datang, do'a kan saja kita semua sama-sama sehat.” Arsy yang telah memaafkan adik iparnya pun memberi pelukan perpisahan.
“Mama pulang Sy, maaf mama tak bisa tetap disini, karena ini bukan kampung halaman mama, kalau kau dan Eric ada waktu, datanglah nak.” July memeluk putrinya dan juga menantunya.
“Kalian hati-hati di jalan anak-anak, pulang dari Bali langsung ke rumah.” Basuki ingin keluarganya berkumpul kembali seperti dulu.
“Iya pa.” kemudian Eric memeluk ayahnya.
Setelah itu, Eric, Arsy dan July masuk ke dalam mobil yang sama, karena tujuan mereka adalah bandara, sedang Lula Pinkan dan Basuki, juga pulang menggunakan mobil yang sama.
Selanjutnya mereka berangkat menuju tujuan mereka masinh-masing.
🏵️
Gibran yang akan mandi menggendong istrinya untuk kamar mandi.
“Sayang, aku mandinya sama mama saja.” Liza malu karena ibunya ada disana.
“Jangan ah, aku saja yang memandikan mu, lagi pula aku kasihan pada mama, pagi malam begadang menjaga si kembar kita, dan aku juga belum dapat pengasuh lagi, masa hal kecil seperti ini pun harus mama yang mengerjakannya.” kemudian Gibran menurunkan istrinya di atas kursi plastik yang ada dalam kamar mandi mereka.
“Sayang, terimakasih sudah menyayangi ku, aku sangat beruntung mendapatkan mu.” mata Liza berkaca-kaca menahan tangis.
“Aku juga berterimakasih pada mu, di saat semua orang tak ingin anak banyak, tapi kau bersedia melahirkan banyak anak-anak lucu untuk ku. Karena itu sayang, kalau kau mau pakai KB, pakailah, nanti kalau kita ingin menambah adiknya anak-anak, tinggal kita buka.”
Pengertian dari Gibran membuat Liza tambah jatuh cinta.
“Kau benar-benar suami idaman, terimakasih banyak sayang ku.” setelah itu Gibran mulai mengguyur tubuh istrinya dengan perlahan.
Gibran yang sangat mencintai Liza dengan hati-hati menggosok tubuh istrinya agar bersih.
Aku sayang kau Za, aku menyesal tak lebih cepat bersama mu, pantas dulu Joe sangat menyukai mu, ternyata alasannya cuma 1, kau berhasil membuat pasangan mu merasa nyaman, batin Gibran.
Wajah Liza yang basah berulang kali di cium oleh Gibran.
__ADS_1
“Sudah sayang, kalau kau cium aku terus kau bisa terlambat kerja! Nanti kalau kau di pecat, kita makan apa?” Liza mengingatkan waktu pada suaminya.
Meski orang tua angkat Gibran kaya raya, namun Gibran memilih untuk mengandalkan kemampuannya untuk menafkahi istri dan anak-anaknya.
Karena menurutnya di sekolahkan sampai lulus sarjana itu sudah cukup untuk anak angkat sepertinya.
Ia juga tak pernah mau menerima bantuan keluarga Liza, karena Gibran tak mau suatu saat harga dirinya di ukur oleh mertuanya.
Dan baginya, harga diri seorang lelaki itu adalah pekerjaan dan tanggung jawab.
Saat aku telah memutuskan untuk menikahi mu, itu karena aku sudah merasa mampu, ketika aku meminta anak banyak, itu karena aku sudah memperhitungkan biaya hidup yang kita harus keluarkan di masa depan. batin Gibran.
🏵️
Pukul 13:00 siang, pasangan Eric dan Arsy telah tiba di Bali.
Keduanya pun segera menuju ke salah satu penginapan yang terkenal di Ubud.
Sesampainya mereka, Eric merasa puas dengan tempat bulan madu yang di rekomendasikan istrinya.
Bagaimana tidak, villa indah dan juga tenang memiliki pemandangan hijau di depan mata.
Belum lagi di sekitarnya ada sawah yang sengaja di buat pemilik villa sebagai daya tarik untuk pengunjung datang.
“Keren! Aku suka pilihan mu nyonya Rabbani.” Eric mengangkat kedua jempolnya.
Krieettt!!!
Saat pintu terbuka, Eric dan Arsy di buat kagum, sebab villa yang mereka akan tempati begitu bersih.
Karena sebelumnya telah melakukan reservasi online, di atas meja makan yang menghadap ke arah hutan dan sawah telah di sediakan makan siang untuk mereka.
Menu yang di hidangkan juga begitu banyak di atas meja.
Saat mereka melihat ikan gurame goreng dengan bumbu pedas manis membuat perut Eric dan Arsy langsung merasa lapar.
“Ayo kita makan,” ujar Eric.
Saat Arsy ingin mengambil nasi untuknya, Eric melarangnya.
“Kita sepiring berdua saja.” Eric yang ingin memanjakan istrinya langsung mengambil nasi untuk dua orang dalam satu piring.
Setelah itu mereka berdua memilih duduk di teras papan menghadap ke sawah.
Eric yang kini bersikap dewasa menyuap istrinya makan dengan tangannya.
__ADS_1
“Mas, aku mau timunnya!” Arsy yang suka timun meminta lebih banyak di masukkan ke dalam mulutnya.
“Kau enggak makan mas?” tanya Arsy, sebab Eric terus saja menyuapnya.
“Kau saja dulu.” Eric berencana akan makan setelah istrinya kenyang.
Arsy yang mendapat pelayanan khusus itu semakin jatuh hati pada Eric.
“Coba dari dulu kita akur begini ya, hehehe...” Arsy menyesal dengan waktu yang terbuang sia-sia.
“Mungkin kita sudah punya anak, apa lagi kalau mama dan papa tak melarang kita untuk melakukan tempur!” Eric mengedipkan matanya pada istrinya.
“Anak terus mas yang kau bicarakan, nanti juga ada, kalau kita berusaha, cepat suap lagi!” Arsy yang tak ada kenyangnya membuat Eric tak bisa menahan lapar.
Alhasil ia pun ikut makan bersama Arsy. “Lambung mu enggak batuk ya makan sebanyak itu.” Eric meledek istrinya.
“Ini namanya lambung baja! Jadi tahan banting, lagi pula dari dulu akukan memang suka makan.” Arsy yang lelah bersila menurunkan kakinya, yang di bawahnya adalah benih padi yang sangat hijau.
Arsy pun mulai menggoyang-goyang kakinya yang mencapai daun benih padi tersebut.
Hingga ia tak sadar kalau ada pacat yang naik ke telapak kakinya.
Setelah mereka selesai makan, Eric mengajak Arsy untuk jalan-jalan di area persawahan.
“Ayo! Jarang-jarang kita lihat sawah indah begini.” Eric pun bangkit dari duduknya.
Kemudian Arsy mengangkat kakinya kembali.
Saat Arsy menginjakkan kaki kanannya ke lantai ia heran ada noda merah dari bekas kakinya berpijak.
“Kau kenapa?” tanya Eric seraya melihat ke arah bawah. “Arsy! Itu pacat bukan?!” Eric menunjuk ke arah betis Arsy.
“Mana?” Arsy pun memegang betisnya. Dan tanpa sengaja jemarinya menyentuh benda lunak dan dingin itu.
“E-Eric... tolong aku!!! Akhh!!!” Arsy yang ternyata takut dengan hewan penghisap darah itu berteriak histeris. Selain takut, Arsy juga merasa geli.
“Biarkan saja, yang dia hisap juga hanya darah kotor mu!” Eric ingin mengerjai istrinya walau hanya sebentar.
“Aku enggak mau tahu! Pokoknya ambil hiks!!” Arsy gemetaran sambil melompat-lompat.
“Hahaha... baiklah-baiklah!” lalu Eric mengambil pacat yang sedang mencari rezeki itu dari betis indah istrinya.
“Hiiih!! Cepat bunuh, aku tak mau dia seenaknya memakan darah ku tanpa permisi!” Arsy tak ingin melihat pacat tersebut.
Namun bukan Eric namanya kalau tak menggoda istrinya.
__ADS_1
“Lihat, besarkan?!” Eric menunjukkan pacat gemuk itu pada istrinya yang ketakutan.
...Bersambung......