Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 156 (Cemburu)


__ADS_3

Matanya pun berkaca-kaca, ia tak tahan dengan api asmara yang membakar kalbunya.


Dengan menahan tangis Dita pergi ke toilet, Deri yang melihat sang sahabat pergi dengan langkah tergesah-gesah mulai menyusul.


Di yang telah ada di dalam toilet menangis tersedu-sedu.


Ia yang bermimpi hidup berdampingan dengan Eric sirna seketika.


Pada hal aku yang lebih dulu mencintainya, aku yang pertama mengenalnya, aku yang setia menemaninya, tapi kenapa? Hiks... wanita itu yang menjadi pemenangnya.” Dita tak tahu kalau Arsy adalah Kissky Huwl.


“Ta, kau enggak apa-apa?” Deri memegang bahu sahabatnya.


Lalu Dita memeluk Deri. “Der, hatiku sakit banget, teganya pak Eric berbuat begitu pada ku, hiks... pada hal aku sayang banget padanya, hiks...” Dita merasa sangat patah hati.


“Sabar Ta, wanita itu belum menikah dengan pak Eric kan? Kau masih punya kesempatan, makanya dari kemarin ku bilang pada mu, nyatakan perasaan mu, tapi kau malah mengulur-ulur waktu terus.” Deri mengelus punggung sahabatnya.


“Terus, sekarang aku harus apa? Semua sudah terlambat, aku gagal Der, hiks...” Dita menyesali kebodohannya.


Kemudian Deri melepas pelukannya. “Siapa bilang? Hah?! Kau masih punya kesempatan banyak, nyatakan perasaan mu, sebelum jalur kuning melengkung, kita masih bisa maju.” Deri menyemangati sahabatnya.


“Menurut mu begitu?” Dita menghapus air matanya dengan tisu.


“Tentu, lagi pula, kau lebih cantik dari wanita itu, jadi apa yang harus kau takutkan, Dita! Tingkatkan kepercayaan dirimu!” Deri menyemangati sahabatnya.


“Baiklah, akan ku lakukan saran mu!” seketika semangat Dita membara.


Tekat untuk merebut Eric dari Arsy kian kuat di dadanya.


🏵️


Arsy yang ada di ruang kerja Eric mendapat hadiah dari sang suami.


“Apa ini?” tanya Arsy.


“Mata mu rabun ya!” Eric memberikan baju yang ia buat sendiri untuk istrinya.


“Aku tahu ini gaun, harusnya jelaskan dengan manis bisakan?!” Arsy memutar mata malas.


“Ini hanya baju tua, yang telah ada di lemari hampir 10 tahun, ku buat untuk mu, dengan harapan, saat aku menemukan mu, aku akan memeluk batin mu yang terluka karena aku.” penjelasan Eric membuat Arsy bungkam.


Aku tak tahu, jika ia seterluka itu, batin Arsy.


“Enggak usah sok sedih, pasti sudah banyak selingan mu kau buat.” Arsy menuding suaminya memiliki wanita lain.


“Setelah Luna, yang terakhir adalah kau!” Eric memeluk Arsy yang ada di hadapannya.


“Sungguh, aku tak pernah lagi main hati.” Eric mencium kening Arsy yang bau keringat.


Saat Eric akan mengecup bibir manis wanita yang ia cintai itu, Arsy malah menolak.

__ADS_1


“Lebih baik kita mandi wajib dulu! Aneh-aneh saja kau!” Arsy melepaskan diri dari pelukan suaminya.


“Arsy! Bisa enggak sih! Saat kita lagi main romatis-romantis kau tak merusak suasana?!” Eric yang kesal mencubit hidung mancung istrinya.


“A-a akh! Sakit bodoh!” umpat Arsy.


“Biar saja. Sana! Mandi duluan!” Eric menunjukkan kamar mandi yang ada dalam ruangannya pada Arsy.


“Terimakasih banyak.” Arsy pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dari hadas besar.


Eric yang menunggu giliran senyum-senyum tak menentu, ia sangat riang, karena pernikahannya dengan Arsy kembali utuh.


🏵️


Devan yang ada di rumahnya menunggu balasan pesan dari Arsy.


Namun nomor sang calon istri tak kunjung aktif.


“Ada apa dengannya?” hati Devan menjadi resah, terlebih pernikahan mereka akan di adakan esok hari.


“Dia tak bilang keputusannya bagaimana, Arsy... apa kau marah pada ku?” Devan merasa bersalah karena telah berkata akan mengundur pernikahan mereka. Pada hal ia hanya memberi gertakan semata.


Ia pun melihat ke setiap sudut rumahnya yang telah di hias. “Apa aku menjenguknya saja?”


Devan yang khawatir Arsy tak baik-baik saja, memutuskan untuk pergi ke rumah calon istrinya.


“Maafkan aku Sy, kalau sudah terlalu kasar pada mu.” dengan menaiki motor Supra-nya, Devan meluncur dengan kecepatan penuh menuju rumah Arsy.


🏵️


Eric yang melihat wanitanya dengan baju buatan tangannya merasa tersanjung.


Ia pun memberi satu kecupan di pipi Arsy. “Cocok sekali.” Eric kembali mencium wajah Arsy berulang kali.


“Iya, walau pun begitu kau mandi dulu sana!” Arsy merasa risih dengan Eric yang belum mandi.


“Siap bu, tapi jangan kabur saat aku di dalam ya.” Eric pun masuk ke dalam kamar mandi.


Arsy yang di tinggal sendiri melihat ke arah telepon yang ada di atas meja kerja Eric.


“Aku harus menelepon Devan.” ia memutuskan tak jadi menikahi calon suaminya. Karena Arsy tak ingin Devan bersama dengannya yang penuh kebohongan.


Arsy yang hapal nomor Devan mulai mendial kontak kekasihnya itu.


Kebetulan saat itu Devan baru sampai di depan rumah calon istrinya.


“Siapa ini?” Devan yang tak mengenali nomor telepon tersebut, berniat mengabaikannya.


Namun karena ia penasaran, Devan pun mengangkatnya.

__ADS_1


Halo, dengan siapa ya? 📲 Devan.


Ini aku, Arsy. 📲 Arsy.


Arsy, sayang, kau ada dimana? 📲 Devan.


Maaf, sekarang aku ada di luar kota. 📲 Arsy.


Apa maksud mu sayang? Bukankah besok kita akan menikah? 📲 Devan.


Maaf Van, aku enggak bisa tepat janji, kau benar aku harus menyelesaikan urusan ku dengannya, tapi sayang, aku belum bisa move on darinya. 📲 Arsy.


Kau enggak bisa begini pada ku, kita besok akad Arsy, yang kemarin ku katakan tidak serius, aku hanya ingin menguji mu. 📲 Devan.


Aku tahu, tapi maaf Van, aku harus mundur, segala kerugian yang kau alami akan ku bayar, maafkan aku. 📲 Arsy.


Devan yang masih ingin bicara malah terhenti, karena Arsy telah memutus sambungan teleponnya.


Arsy merasa sangat bersalah, ia yang tak ingin menyakiti Devan lebih jauh memilih untuk mundur.


Arsy yang menangis di saksikan langsung oleh Eric.


“Kenapa kau menangis? Apa perut mu sudah berisi?” lagi-lagi, Eric mengajak Fi bercanda.


“Tidak, barusan aku menelepon Devan, dan aku membatalkan pernikahan kami.” Arsy menceritakan keputusannya pada Eric.


“Bagus, pilihan yang tepat, lagi pula dia terlalu jelek jadi saingan ku.” Eric mengejek Devan.


“Sudah, jangan bahas lagi.” Arsy tak suka jika Eric mengatai calon suaminya.


“Baiklah, aku mengerti. Ayo jalan.” Eric menggenggam tangan Arsy.


“Kemana?” tanya Arsy.


“Ke rumah kita.” Eric menuntun Arsy keluar dari dalam toko.


Dita yang melihat rambut basah Eric dan Arsy menjadi syok.


Ia jadi berpikir yang aneh-aneh mengenai bosnya dan Arsy.


Hatinya juga jadi semakin sakit, ia pun menundukkan kepalanya karena tak sanggup melihat kemesraan dua insan itu.


“Sabar Dita, besok nyatakan perasaan mu pada pak Eric.” Deru tetap menyemangatin sahabatnya.


“Iya, terimakasih banyak Der.” Dita tersenyum kaku karena menahan tangis.


Arsy dan Eric telah berada dalam mobil. Keduanya pun segera meluncur ke rumah mereka.


“Sejak kapan kau tinggal di Bandung?” tanya Arsy.

__ADS_1


“Seminggu setelah kita berpisah,” ujar Eric.


...Bersambung......


__ADS_2