
Liza menutup rapat kedua bibirnya, ia juga memelototi Joe yang teramat jujur.
Dasar Joe, kenapa mulutnya enggak bisa di rem sih?! batin Liza.
“Untuk apa kau tanya berulang-ulang, kami memang sudah melakukannya.” ucap Joe menyakinkan Kissky.
Liza yang tak dapat menahan malu memukul paha Joe yang ada di dekat tangannya.
“Sayang! Itu aib tahu, harusnya tak usah memberitahu siapapun!” Liza yang berani memarahi Joe membuat Zanjiil makin kagum.
”Jadi benar Za!” tanya Kissky.
“Sstt!!! Pelankan suara mu, kau tak berniat untuk memberitahu semua orangkan?” ucap Liza dengan suara yang redup, sebab di dalam ruang UKS bukan hanya mereka.
“Astaga Liza... Liza... kau ini genit juga ya ternyata!” Kissky marah pada sahabatnya yang tak bisa jaga diri.
“Memangnya ada yang salah?” pertanyaan Joe membuat mata ketiganya membelalak.
Zanjiil seketika tertawa getir, sebab Joe terlihat kurang didikan orang tua di matanya.
“Ya jelaslah bodoh! Kau gila juga ya!” pekik Kissky.
“Joe, kemarin keluar di dalam apa di luar?” tanya Zanjiil dengan iseng.
“Di dalam.” jawab Joe dengan datar.
“Sayang!” Liza yang baru saja pingsan seketika merasa sehat.
“Zanjiil! Jangan tanya lagi, bikin malu banget kau!” Kissky mencubit perut suaminya.
“Yang aku tanya saja baik-baik saja, kenapa kau yang jadi sibuk?” ucap Zanjiil.
“Iya, tapi memalukan tahu!”
“Joe, siap-siap dapat kabar baik bulan depan.” Zanjiil merasa senang menggoda Joe yang polos.
“Memangnya ada apa?” tanya Joe yang tak mengerti apapun.
Sontak Kissky dan Liza menghela napas panjang.
“Zanjiil, kau susah banget ya buat di kasih tahu!” Kissky yang kesal bangkit dari duduknya lalu mendatangi Zanjiil yang berdiri di belakang Joe.
“Ayo keluar!” Kissky menjewer telinga suaminya seraya menuntunnya keluar dari UKS.
Setelah mereka berada di luar Kissky lanjut memarahi suaminya.
__ADS_1
“Kau ya, buat apa sih mempermainkan Joe? Orang-orang yang di UKS pasti dengar apa yang kita bicarakan tadi! Ayo! Kembali ke kelas!” Kissky menggenggam tangan Zanjiil menuju kelas mereka.
________________________________________
Sepulang sekolah, Lula langsung menuju pabrik menggunakan motornya.
Ia yang telah sampai di ruang bawah tanah turun dari motornya dan langsung menuju office.
“Akh sial! Pada hal aku ada kencan hari ini, tapi gara-gara si Zanjiil sialan itu, aku harus ke kantor busuk ini!”
Brak!!
Lula membuka pintu dengan kasar, kemudian ia duduk di kursi panas yang di hadapannya langsung ada layar monitor Lcd.
“Aduh, banyak banget sih orang yang berbuat dosa di dunia ini!” Lula mengeluh saat melihat daftar pesanan jasa membunuh di komputer office tersebut.
Lula yang menjadi salah satu admin di perusahaan mereka mengirim data-data para korban pada ajudan pembunuh bayaran Angel's Hand.
“Gila, banyak banget orang yang mau membunuh pejabat pemerintah yang satu ini.” Lula tertawa geli.
Lula yang tahu jika korban yang satu itu sangat penting dan ketat penjagaannya, memutuskan untuk memberikannya pada Joe, pada hal seharusnya itu adalah tugas untuknya yang di minta langsung oleh si pelanggan.
“Mudah-mudahan si anak sialan itu kena batunya kali ini, setidaknya dapat satu peluru gitu di kakinya!” Lula yang dendam pada Joe dan Esra selalu memanfaatkan kesempatan saat ia memegang ruang office, karena ia bisa leluasa mengalihkan tugas dari pembunuhan A ke B.
Setelah selesai Lula merasa lega. Kemudian ia melanjutkan pengecekan permintaan pelanggan lainnya.
Saat Lula menggeser kursornya ke atas, seketika ia tercengang, sebab ada seseorang yang meminta dirinya di bunuh oleh dirinya sendiri.
Manusia mana yang menaruh dendam pada ku?! batin Lula.
Ia sangatlah marah saat mengetahui ada orang yang menginginkan kematiannya.
“Apa itu si guru IQ 200? Tapi... apa dia sudah tahu, kalau aku yang membunuh neneknya? Tapi... bukankah dia sendiri yang meminta? Atau kakeknya punya cucu yang lain?” seketika Faiq menjadi bahan pikiran untuk Lula.
“Untuk apa aku membunuh diri ku sendiri! Dan kurang ajar sekali dia, dia membayar nyawa ku hanya dengan 300 juta? Hei Faiq, bharga 300 juta bukan cuan yang pas untuk membunuh ku!” seketika Lula menolak permintaan Faiq.
“Apa aku harus membunuhnya juga? Dari pada bikin repot pada ku?” Lula masih menimbang, antara membunuh Faiq atau tidak.
______________________________________
Kissky dan Zanjiil yang baru sampai ke rumah melihat Pinkan dengan penampilan remajanya kembali.
“Mama, bisa pakai baju yang sesuai usia enggak sih? Rasanya aneh melihat mama sepeti itu.” Zanjiil menegur ibunya yang kurang enak di pandang matanya.
“Anak-anak tak usah ikut campur dengan urusan orang tua, sebaiknya kau makan dan pergi ke kantor, banyak pesanan pelanggan menunggu,” ucap Pinkan.
__ADS_1
“Aku mau libur ma hari ini.” Zanjiil yang lelah karena aktivitas bersih-bersihnya meminta cuti pada sang ibu.
”Enak saja kau! Kemarin-kemarin bukan libur namanya? Ayo! Kau wajib berangkat!” Pinkan yang tegas tak memberi kelonggaran pada putranya.
Kissky yang berada di antara ibu dan anak itu hanya diam, tak berani memberi komentar. Sebab ia takut di marahi juga.
“Mama...” Kissky mencium punggung tangan mertuanya.
“Kau sudah pulang?”
“ Iya ma, oh ya, mama mau kemana dandan cantik begini?” Kissky memuji Pinkan agar tak dapat amukan bila dirinya berbuat salah.
“Mama mau bertemu teman, apa make up mama ketebalan nak?” tanya Pinkan seraya merapikan rambutnya.
“Sudah pas ma, cantik banget malahan sekarang.” Kissky memuji sang ibu mertua untuk mencari aman.
“Dengar istri mu, dia saja suka dengan gaya mama! Sudah dulu, mama mau pergi,” ucap Pinkan.
Saat Pinkan telah berada di pintu, ia tak sengaja berpapasan dengan Basuki.
“Mau kemana ma? Maaf maksud ku Pinkan.” ucapan Basuki membuat Zanjiil dan Kissky melihat satu sama lain.
Pasti ada yang enggak beres ini, batin Zanjiil.
“Aku mau bertemu teman ku Basuki,” sahut Pinkan.
Um, benar dugaan ku, mama dan papa bertengkar, batin Zanjiil
“Jangan pergi, ada yang ingin ku bicarakan pada mu,” ucap Basuki.
“Ku rasa itu tak penting, kalau mengenai dokumen, titip saja pada Winda, aku buru-buru soalnya.” Pinkan yang sudah tak perduli dengan apa yang Basuki katakan menolak untuk bertatap muka lebih lama dengan orang yang telah menyakitinya lahir dan batin.
Basuki sendiri tak dapat menghadang langkah kaki istrinya.
“Baiklah, ku serahkan pada Winda.” Basuki yang egonya juga tinggi masuk ke dalam rumah. Sedang Pinkan menuju mobilnya.
Zanjiil yang mengerti akan situasi yang terjadi merasa sedih.
Sedang Kissky yang tak tahu apapun merasa bingung.
Ternyata Esra berhasil memisahkan mama dan papa. Zanjiil yang telah dewasa tahu betul arti dan rasa dari patah hati dan berpisah.
Zanjiil yang kecewa pada Basuki meninggalkan ruang tamu tanpa menyapa ayahnya.
...Bersambung......
__ADS_1