
“Arsy, apa menurut mu pernikahan ini layak di lakukan?” Devan tanya pendapat calon istrinya.
“Kenapa bilang begitu? Tentu saja lanjut, aku dengannya sudah tak punya hubungan apa-apa, jadi kenapa kau harus gentar?” Arsy memarahi kekasihnya.
“Katanya dia akan membawa hal ini ke hukum, karena aku menikahi istri orang lain.” Devan merasa pusing bila berhadapan dengan polisi, sebab ia takut di pecat dari sekolah ia mengajar.
“Dia berkata seperti itu? Kau serius?” Arsy menggaruk kepalanya.
Ia benar-benar benci pada Eric yang membuatnya sedih dari dulu hingga sekarang.
“Aku tak mau kalau pernikahan kita batal hanya karena dia.” ucap Arsy dengan tegas.
“Kalau kau ingin jadi istri ku, selesaikan dulu urusan mu dengannya. Karena... bukan hal benar kalau aku menikahi mu sementara kau masih berstatus jadi istri orang lain. Ku rasa kau cukup paham apa yang ku maksud.” setelah menyampaikan isi hatinya, Devan memutuskan untuk pergi.
“Aku akan mengatakan pada orang-orang yang kita undang, kalau pernikahan kita akan di undur.” keputusan Devan membuat Arsy ingin menangis.
“Hanya karena dia, kau mau undur pernikahan yang telah lama kita rencanakan?” Arsy tak percaya kekasihnya sampai hati melakukannya.
“Apa boleh buat, kalau kau tak ada ikatan dengan siapapun, pasti semua ini takkan terjadi. Aku pergi dulu.” Devan menyalahkan Arsy atas gagalnya pernikahan mereka.
Devan sendiri pun pulang dengan perasaan hancur, sama dengan Arsy.
Sementara Eric yang menguping pembicaraan mereka berdua merasa senang.
“Untung aku memantau pergerakan Arsy sore ini.” Eric merasa bahagia di atas penderitaan istrinya.
“Kurang ajar! Si Eric biadab itu tak hentinya membuat aku susah!” Arsy yang masih hapal nomor telepon Eric, langsung mendialnya.
Tididididit!
Arsy pun mendengar dering ponsel Eric yang tak berubah sejak 10 tahun lalu.
Eric yang mendengar bunyi handphonenya seketika menjadi takut. Sebab Arsy perlahan mendekat padanya.
“Kau disitu?!” pekik Arsy.
“Kau masih hapal nomor telepon ku?” Eric keluar dari balik rumah-ruman patung burung.
“Kau ya!” Arsy yang marah mengejar Eric dengan kayu yang ia dapat di tanah.
Eric yang tak mau kenalan dengan kayu itu lari secepat ia bisa.
“Berhenti kau Rabbani!” teriak Arsy dengan nafas terengah-engah.
“Siapa juga yang mau berhenti kalau ujung-ujungnya untuk di pukul?” keduanya seperti kembali ke masa lalu.
Mereka yang sering bertengkar membuat Eric rindu. Ia pun sengaja terus meledek Arsy. Tujuannya agar Arsy terpancing untuk tetap mengejarnya.
__ADS_1
“Ada wanita yang sudah punya suami, tapi mau nikah lagi! Xixixixi....” ucap Eric seraya tertawa lebar.
“Rabbani! Berhenti!” Arsy yang lelah pun berjongkok, ia yang sudah berkepala 3 tak mampu untuk lari lama-lama.
Eric yang kasihan pun mendatangi Arsy. “Kau mau pukul aku? Ya sudah nih! Pukul sepuas mu mu!” kemudian Eric jongkok di hadapan Arsy. Kemudian Eric menghantarkan wajahnya tepat di hadapan wajah Arsy.
“Rabbani...”
“Jangan sebut aku Rabbani, karena aku sudah memutus ikatan ku dengan mereka. Panggil aku Eric, atau sayang juga boleh.”
Cup!
Eric mengecup bibir Arsy. Sontak mata Arsy membulat sempurna.
“Gila! Kau!”
Plok!
Arsy memukul kepala Eric dengan kayu bakar yang ada di tangannya.
Bruk!
Eric seketika tumbang ke tanah. Sontak Arsy menutup mulutnya.
“Astaga! Apa dia mati?” Arsy memegang kepala Eric yang baru saja dia pukul.
Kemudian Eric dengan sigap menangkap kedua tangan Arsy, dan menariknya hingga Arsy jatuh ke pelukannya.
“Eric, kau memang orang yang tak bisa serius, karena mu pernikahan ku di undur.” kemudian Arsy bangkit dari tubuh Eric. Dan Eric bangkit dari tanah. Keduanya pun duduk berdampingan.
“Aku sudah lama melupakan mu, dan sekarang aku punya masa depan dengan calon suami ku, bersama mu hanya ada duka, aku tak pernah bisa melupakan apa yang ku alami dengan mu Ric, masa kau masih percaya diri mendekati ku setelah membunuh papa ku?”
Arsy mengingatkan Eric akan kekejian yang ia dan ayahnya dapatkan.
“Aku tak pernah lupa, karena itu aku meninggalkan keluarga ku, ku rasa kau juga tahu, kalau aku terpaksa melakukannya, jujur saja ya, muasalnya dari ayah mu sendiri, andai dia tak tamak semua pasti takkan serumit ini.” Eric membela dirinya yang tak salah sepenuhnya.
“Ya tetap saja, nyawa bukan solusinya.”
“Yang punya perjanjian kan ayah mu dan ayah ku, dan ayah mu sendiri yang menjadikan mu dan ibu mu sebagai jaminannya, kalau sudah serah terima, menurut mu yang salah masih dari pihak keluarga ku? Sedang ayah mu oke-oke saja saat menerima uang yang ayah ku berikan!” Eric bosan selalu di salahkan.
“Kau ya! Tadi minta maaf, sekarang malah membela diri.” Arsy memutar mata malas
“Habis kau tak mau mengerti dan membaca situasi, akh! Jadi malas!” Bersama Arsy, jati diri Eric kembali seperti semula.
“Kalau malas pulang!” kemudian Arsy bangkit dari duduknya. “Pokoknya, aku mau cerai!” Arsy tetap ngotot untuk berpisah.
“Baiklah, kemungkinan akan ku setujui, asal kau mau bertemu dengan ku besok, karena aku akan pulang malam harinya.” Eric berniat ingin jalan-jalan dengan Arsy.
__ADS_1
Karena urusannya ingin cepat selesai, Arsy pun menyetujui permintaan Eric.
“Baiklah, tapi tepat janji ya!”
“Akan ku pikirkan.” Eric mengusap puncak kepala Arsy.
“Apa sih! Enggak jelas banget!” setelah itu Arsy pun kembali ke rumahnya.
Kemudian Eric tersenyum nakal, besok akan ku bawa kau pulang, xixixi...” Eric tertawa riang.
Setelah itu ia kembali ke hotel dan menyusun barang-barangny terlebih dahulu.
🏵️
Arsy yang ada dalam rumahnya memikirkan Eric.
Ia pun teringat akan kenangan nereka berdua, “Pada hal, aku sudah melupakan mu, tapi kenapa? Tuhan malah mempertemukan kita kembali?” Arsy menjadi bimbang akan hubungannya dengan Devan.
“Kenapa tiba-tiba aku jadi ragu?” meski ia sering bertengkar dengan Eric, namun pria kasar itu bisa membuatnya nyaman.
Sementara di sisi lain ada Devan, yang selalu pengertian dan lemah lembut padanya.
“Tapi kenapa? Aku selalu ingat Eric sekarang?”
Seperti biasa, wanita selalu tertarik pada pria kasar dari pada yang lemah lembut.
“Astaga... aku tak boleh begini, aku harus konsisten, lagi pula kembali padanya, akan mempertemukan aku kembali dengan om Basuki dan Lula.”
Malam itu Arsy tak dapat tidur, karena hatinya begitu di lema.
Keesokan harinya, Eric yang sudah tahu alamat Arsy, langsung parkir tepat depan rumah istrinya.
Ia pun turun dari dalam mobil dan mengetuk pintu rumah Arsy.
Tok tok tok!
Arsy yang sudah bersolek dan berpakaian rapi membuka pintu.
Ceklek!
Krieett!
Melihat wajah satu sama lain, membuat keduanya menahan tawa, sebab warna baju mereka sama, yaitu putih.
“Aku belum makan, apa kau memasak?” tanya Eric.
“Tidak! Jangan masuk! Enak saja kau! Keluar-kelurlar!!” Arsy mendorong tubuh Eric agar menjauh dari pintu. Kemudian Arsy mengunci rapat rumahnya.
__ADS_1
Retek!
...Bersambung......