Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 164 (Flash Back)


__ADS_3

Ia tak menyangka jika dosen gilanya menyukainya.


“A-a apa? Mama jangan bercanda! Kapan dia mengatakan itu?” tanya Lula dengan gelagapan.


“Kemarin malam, mama benar-benar terharu dan bahagia, pak Faiq itu orangnya baik, dan juga agamis, cocok dengan mu yang penuh dosa, setidaknya ada yang membimbing mu ke jalan Tuhan Lula!” Pinkan berharap Faiq bisa menuntun putrinya ke jalan yang benar, karena ia sendiri tak tahu caranya beragama.


“Mana mungkin aku dan dia menikah! Lagi pula aku tak menyukainya mama!” Liza menolak lamaran Faiq.


“Heh! Dengarkan mama! Pak Faiq itu jauh 10.000 lebih baik, dari pacar tua mu itu!” pekik Pinkan.


“Mama tahu kalau aku pacaran dengan Roy?” Lula tak menyangka kalau ibunya juga mengetahui hubungannya dengan sang kekasih.


“Kau pikir mama bodoh? Tentu saja mama memata-matai mu, karena apa? Karena kau orangnya sinting, banyak pria muda yang mau pada mu, tapi kau! Malah mau yang sudah lapuk! Kalau pacar mu waras, harusnya dia sudah cepat meninggalkan mu, karena apa? Dia sudah ketuaan untuk membina rumah tangga dengan mu Lula!” Pinkan menyatakan ketidak sukaannya pada kekasih putrinya.


“Mama, itukan pilihan, yang penting aku bahagia.” ungkapan hati Lula membuat Pinkan tertawa lepas.


“Hahaha... bahagia kata mu? Hei Lula, di saat nanti kau punya anak satu, ku pikir dia sudah jadi kakek-kakek, nanti anak mu enggak akan panggil dia papa, tapi... kakek! Kakek!” Pinkan meledek putrinya.


“Tapi ma... aku sayang banget sama pacar ku. Usia tak penting ma, yang paling utama itu adalah setia.” Lula masih membela kekasihnya, meski ibunya tak suka.


“Enggak! Pokoknya pisah! Mama ingin kau menikahi Faiq. Yakinlah Lula, kaca mata orang tua itu tajam, mama melakukan ini demi kau! Demi masa depan mu yang cerah! Kau mengerti kan nak?” Pinkan mengelus punggung putri satu-satunya.


“Tapi ma, pak Faiq wajahnya jelek, orangnya kasar dan juga menyebalkan, aku tak suka berdampingan dengannya.” Lula terus mencari celah agar tak menikah dengan Faiq.


“Memangnya kau sendiri enggak galak? bukan hanya itu, kau juga seorang pembunuh, kejam, suka makan daging manusia, liar!” Pinkan menjabarkan keburukan putrinya, hingga Lula tak tahan untuk mendengarnya.


”Iya-iya, itu juga aku tahu ma, tapi... aku dan pak Faiq tidak ada ke cocokan sama sekali mama!” Seketika Lula merasa putus asa.


“Um um um...” Pinkan menggoyang-goyang telunjuknya. “Tidak, pokoknya kau harus mau pada pak Faiq. Mama tidak mau ada keluhan, atau... kau mau sama ustad Fahri?”


Pernyataan Pinkan membuat Lula makin syok, pasalnya Fahri adalah ustad muda yang lagi viral di kalangan ibu-ibu dan media sosial, cara dakwahnya yang lembut membuat Pinkan tersentuh.


Ia yang mai putrinya jadi manusia normal ingin Lula menikahi 2 kandidat yang menurutnya layak untuk membimbing putrinya.


“Sepertinya mama mulai sinting, pikir dong ma, mana mungkin aku menikahi 2 manusia itu, enggak nyambung mama!” Lula takut jika dirinya kena ceramah dan di rukiah oleh Fahri.


“Sssttt!” Pinkan meletakkan telunjuknya ke bibirnya. “Tidak ada penolakan, pokoknya pulang kerja kau kesini, karena 2 hari lagi pak Faiq akan datang, pilihan cuma 1, yaitu iya!”'


Lula yang patuh pada perkataan ibu dan kakek neneknya jadi tak dapat menolak.

__ADS_1


🏵️


Liza yang hamil besar membuat Arsy merasa senang.


“Hei, kau makan apa saja sih? Kok bisa subur banget.” Arsy penasaran dengan resep sehat sahabatnya.


“Enggak ada Sy, cuma celup doang, aku juga bingung kenapa mudah sekali jadinya.” Liza menghela napas panjang.


“Aku juga mau, tapi Allah belum kasih Za, kau harus banyak-banyak bersyukur,” ucap Arsy.


“Semoga kau cepat isi Sy.” Liza menggenggam tangan sahabatnya.


“Aamiin.” sahut Arsy.


“Oh ya Sy, ceritakan pada ku pengalaman mu selama ini, aku ingin dengar.” Liza penasaran dengan apa yang di lalui sahabatnya.


Sebenarnya Arsy ragu menceritakannya, namun karena Liza begitu penasaran, ia pun akhirnya setuju mengatakan pengalamannya.


...Flash Back!...


Kissky yang sedang berada dalam taksi menangis sesungukan.


Ia yang bingung mau kemana memutuskan untuk singgah sebentar di sebuah konter yang ada di pinggir jalan untuk membeli handphone.


Kemudian Arsy mencari di internet, Akhirnya ia menemukan Bali, tepatnya di desa Ubud, pesona indah tempat tersebut membuat Arsy jadi tertarik untuk menetap disana.


“Pak, ke bandara.” selama dalam perjalanan Arsy memesan tiketnya melalui aplikasi online.


Sesampainya di bandara Soekarno Hatta, Arsy pun menaiki pesawatnya menuju pulau Dewata Bali.


Awal sampai di Bali, Arsy menginap di hotel, keesokan harinya, ia menuju desa Ubud, ia pun mencari kontrakan untuk tempat ia tinggal.


Setelah lama berkeliling desa, akhirnya ia menemukan sebuah rumah sederhana yang di samping kiri kanannya adalah sawah.


Setelah membayar uang sewa, Arsy membersihkan rumah yang akan ia tempati.


Ia yang mempunyai tabungan yang cukup banyak meminta batuan kepala desa untuk mengurus kartu tanda penduduknya.


Di malam harinya, Arsy yang pertama kali tinggal sendiri merasa kesepian.

__ADS_1


Ia yang tak punya photo Eric pun membuka aplikasi pesbuk.


“Zanjiil, aku rindu... hiks... maafkan aku...” Arsy menangis merindukan suaminya.


Namun ia tak mungkin kembali sebab ia dan Eric mempunyai konflik yang sangat besar.


Arsy yang telah mengurus masalah pendidikannya pun menjalani aktivitas sekolahnya.


Diam-diam, Arsy sering melihat media sosial suaminya, namun tak kunjung ada perubahan di dinding pesbuk suaminya.


6 bulan pun berlalu, Arsy yang sudah tak tahan menahan rindu di hatinya mengirim pesan lewat media sosial pesbuk, namun suaminya tak kunjung membalas.


Ia yang ingin mengirim pesan lewat SMS tak hapal nomor Zanjiil.


Alhasil Arsy berpikir macam-macam. “Oh iya, diakan sudah jadi suaminya Liza.”


Karena salah sangka, Arsy akhirnya memutuskan untuk melupakan Eric.


Dia sendiri bisa bahagia, kenapa aku tidak? batin Arsy.


Sejak saat itu Arsy pun bangkit dan menjalani hari-harinya dengan tenang.


Setelah tamat SMK, Arsy melanjutkan pendidikannya dengan jurusan yang sama, yaitu seni.


Dan di saat itulah, ia bertemu dengan Devan, pemuda baik hati dan juga bersahaja.


“Nama ku Devan, Nama mu siapa?!” Devan yang ramah mengulurkan tangannya pada Arsy.


“Aku Arsy, jurusan seni A.” ucap Arsy seraya menerima uluran tangan Devan.


“Sama, tapi aku B, aku baru masuk hari ini, mau jadi pacar ku tidak?” Devan yang memerhatikan Arsy sejak ospek dan maperma merasa jatuh hati.


Devan yang baru ada kesempatan memutuskan untuk mengatakan cintanya pada Arsy.


“Tapi aku...” Arsy yang ingin mengatakan dirinya masih punya suami memutuskan untuk tak memberitahu kenalannya itu.


“Apa kau sudah punya pacaran?” tanya Deva penuh selidik.


“Sudah,” sahut Arsy.

__ADS_1


“Siapa?” Devan menjadi penasaran.


...Bersambung......


__ADS_2